Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 17 September 2026 | 05.10 WIB

12 Cara Menunjukkan Kepedulian kepada Seseorang yang Sedang Berduka Menurut Psikologi

seseorang yang menunjukkan kepedulian / foto: Magnific/yanalya

 

JawaPos.com - Kehilangan seseorang yang dicintai merupakan pengalaman yang dapat mengguncang kehidupan. Ketika seseorang sedang berduka, mereka mungkin mengalami kesedihan mendalam, kehilangan semangat, sulit berkonsentrasi, perubahan pola tidur dan makan, bahkan merasa bingung menghadapi kehidupan setelah kepergian orang yang disayangi.

Dalam situasi seperti ini, kehadiran orang lain dapat menjadi sumber dukungan yang sangat berarti. Namun, menunjukkan kepedulian kepada seseorang yang sedang berduka tidak selalu berarti harus menemukan kata-kata yang tepat untuk menghilangkan kesedihannya. Justru, salah satu bentuk kepedulian yang paling penting adalah bersedia menemani mereka melewati proses tersebut tanpa memaksa mereka untuk segera merasa baik-baik saja.

Dalam psikologi, dukungan sosial merupakan salah satu faktor yang dapat membantu seseorang menghadapi situasi penuh tekanan. Dukungan dapat diberikan dalam berbagai bentuk, mulai dari mendengarkan, membantu kebutuhan sehari-hari, memberikan ruang, hingga tetap hadir setelah perhatian dari orang-orang lain mulai berkurang.

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (16/9), terdapat 12 cara menunjukkan kepedulian kepada seseorang yang sedang berduka.

1. Hadir dan Dengarkan Tanpa Menghakimi

Salah satu bentuk kepedulian paling sederhana adalah hadir dan bersedia mendengarkan.

Orang yang sedang berduka mungkin ingin menceritakan kembali tentang orang yang telah meninggal, mengungkapkan kemarahan, menangis, atau sekadar mengatakan bahwa mereka merasa sangat kehilangan. Tidak selalu diperlukan nasihat untuk merespons hal tersebut.

Anda bisa mengatakan:

"Aku di sini kalau kamu ingin cerita."

Atau:

"Kalau kamu ingin ditemani, aku bisa menemanimu."

Mendengarkan bukan berarti harus memiliki jawaban atas semua permasalahan. Terkadang, seseorang yang sedang berduka hanya membutuhkan tempat yang aman untuk mengungkapkan perasaannya.

Hindari menghakimi respons emosional mereka. Setiap orang memiliki cara berbeda dalam menghadapi kehilangan. Ada orang yang banyak menangis, ada yang justru terlihat tenang, sementara yang lain mungkin membutuhkan waktu sebelum mampu membicarakan perasaannya.

2. Akui Kesedihan Mereka, Jangan Terburu-buru Menghibur

Ketika melihat seseorang menangis, kita mungkin secara spontan mengatakan, "Jangan sedih," "Yang sabar," atau "Semua akan baik-baik saja."

Niatnya memang baik, tetapi kalimat semacam itu terkadang membuat orang yang berduka merasa bahwa kesedihan mereka harus segera dihentikan.

Alih-alih berusaha menghapus kesedihan, Anda dapat mengakui bahwa kehilangan tersebut memang menyakitkan.

Misalnya:

"Aku tahu ini pasti sangat berat buat kamu."

atau:

"Wajar kalau kamu merasa sangat kehilangan. Kamu tidak harus terlihat kuat setiap saat."

Validasi seperti ini menunjukkan bahwa perasaan mereka diterima. Anda tidak perlu menyetujui setiap pemikiran yang muncul ketika seseorang sedang berduka. Yang penting adalah memberikan ruang bagi emosinya tanpa membuat mereka merasa bersalah karena sedang sedih.

3. Jangan Memaksakan Seseorang untuk "Segera Move On"

Duka tidak memiliki jadwal yang sama untuk setiap orang.

Ada seseorang yang mulai kembali menjalani aktivitas setelah beberapa minggu, sementara orang lain mungkin membutuhkan waktu yang jauh lebih lama untuk beradaptasi dengan kehilangan. Karena itu, sebaiknya hindari menentukan kapan seseorang seharusnya sudah berhenti bersedih.

Kalimat seperti:

"Sudah lama, kok masih sedih?"
"Kamu harus move on."
"Jangan terlalu dipikirkan."
"Coba ikhlaskan saja."

dapat terasa menekan bagi orang yang sedang berduka.

Kepedulian justru dapat ditunjukkan dengan membiarkan mereka menjalani proses emosionalnya tanpa dibandingkan dengan orang lain.

Peran Anda bukan menentukan kapan mereka harus selesai berduka, melainkan memberikan dukungan ketika mereka sedang belajar menjalani kehidupan setelah kehilangan.

4. Tawarkan Bantuan yang Konkret

Ketika sedang berduka, tugas sehari-hari yang biasanya sederhana dapat terasa jauh lebih berat. Memasak, berbelanja, membersihkan rumah, mengurus dokumen, atau sekadar pergi membeli kebutuhan dapat menjadi sesuatu yang sulit dilakukan.

Karena itu, menawarkan bantuan secara spesifik sering kali lebih bermanfaat daripada sekadar berkata, "Kalau butuh bantuan, bilang saja."

Anda bisa menawarkan:

mengantarkan makanan;
membantu berbelanja;
menemani mengurus keperluan tertentu;
membantu pekerjaan rumah;
mengantar ke suatu tempat;
menjaga anak untuk sementara;
menemani ketika mereka perlu pergi ke suatu tempat.

Bantuan konkret mengurangi beban yang harus mereka pikirkan sendiri.

Misalnya, daripada bertanya, "Ada yang bisa aku bantu?", Anda dapat mengatakan:

"Besok aku mau ke supermarket. Ada kebutuhan yang ingin sekalian aku bawakan?"

Bentuk bantuan seperti ini membuat seseorang tidak perlu mencari-cari cara untuk meminta pertolongan.

5. Tetap Hubungi Mereka Setelah Masa Berkabung Awal Berlalu

Pada hari-hari pertama setelah kehilangan, biasanya banyak orang datang memberikan dukungan. Pesan berdatangan, keluarga berkumpul, dan berbagai aktivitas membuat suasana menjadi ramai.

Namun, setelah beberapa minggu atau bulan, perhatian tersebut sering berkurang.

Bagi sebagian orang, justru periode inilah yang terasa sangat sepi.

Rutinitas mulai kembali normal bagi orang lain, tetapi kehidupan orang yang kehilangan mungkin belum terasa normal sama sekali.

Karena itu, jangan hanya hadir ketika suasana duka masih menjadi perhatian banyak orang.

Kirim pesan sederhana beberapa minggu kemudian:

"Aku kepikiran kamu hari ini. Semoga kamu baik-baik saja. Tidak perlu membalas kalau belum ingin."

Atau:

"Aku cuma mau menyapa. Kalau suatu hari kamu ingin ngobrol atau keluar sebentar, aku ada."

Konsistensi sering kali lebih berarti daripada satu kali memberikan perhatian besar.

6. Ingat Momen atau Tanggal yang Mungkin Bermakna bagi Mereka

Tanggal tertentu dapat menjadi pemicu emosi bagi seseorang yang sedang berduka. Misalnya ulang tahun orang yang meninggal, hari kematian, hari raya, atau tanggal tertentu yang memiliki kenangan khusus.

Pada hari-hari tersebut, kesedihan mungkin terasa kembali lebih kuat.

Anda tidak harus menghindari pembicaraan mengenai orang yang telah meninggal karena takut membuat mereka sedih. Dalam banyak situasi, menyebut nama orang yang telah meninggal justru dapat membuat seseorang merasa bahwa orang tersebut masih dikenang.

Anda bisa mengatakan:

"Hari ini aku ingat almarhum juga. Semoga kenangan baik tentang beliau selalu menemani kamu."

Jika Anda memiliki kenangan pribadi tentang orang tersebut, membagikannya secara sensitif juga dapat menjadi bentuk penghormatan.

Contohnya:

"Aku masih ingat waktu beliau pernah membantu aku waktu itu. Aku selalu mengingat kebaikannya."

Namun, perhatikan respons orang yang sedang berduka. Jika mereka tidak ingin membicarakannya, hormati batas tersebut.

7. Berikan Ruang Ketika Mereka Membutuhkannya

Peduli bukan berarti harus selalu berada di dekat seseorang.

Ada kalanya orang yang sedang berduka ingin ditemani. Namun, ada pula saat ketika mereka membutuhkan waktu sendirian.

Karena itu, dukungan yang baik perlu memperhatikan kebutuhan dan batas pribadi.

Anda dapat mengatakan:

"Kalau kamu ingin sendiri dulu, tidak apa-apa. Aku tetap ada kalau nanti kamu butuh teman."

Kalimat semacam ini memberikan dua pesan sekaligus: Anda menghormati ruang mereka, tetapi mereka tidak sendirian.

Hindari memaksa mereka untuk berbicara ketika mereka belum siap. Memberikan ruang bukan berarti meninggalkan mereka, melainkan memberi kesempatan untuk mengatur emosi dengan cara yang mereka butuhkan.

8. Jangan Membandingkan Kesedihan Mereka dengan Pengalaman Orang Lain

Salah satu respons yang sering muncul ketika seseorang sedang berduka adalah membandingkan pengalaman mereka dengan pengalaman pribadi.

Misalnya:

"Aku juga pernah kehilangan orang tua, jadi aku tahu persis perasaanmu."

Padahal, meskipun Anda pernah mengalami kehilangan, pengalaman setiap orang tetap berbeda.

Lebih baik menggunakan pengalaman pribadi secara hati-hati.

Anda bisa mengatakan:

"Aku pernah mengalami kehilangan juga, tetapi aku tahu pengalaman setiap orang berbeda. Kalau kamu ingin cerita, aku bersedia mendengarkan."

Hindari pula membandingkan siapa yang mengalami kehilangan lebih berat.

Kalimat seperti "Setidaknya kamu masih punya..." atau "Orang lain lebih parah" cenderung mengecilkan pengalaman emosional seseorang.

Kesedihan tidak perlu dibandingkan untuk dianggap valid.

9. Jangan Takut Membiarkan Mereka Menangis

Ketika melihat orang lain menangis, kita mungkin merasa tidak nyaman dan ingin segera membuat mereka berhenti.

Padahal, menangis dapat menjadi salah satu cara seseorang mengekspresikan emosi.

Jika seseorang menangis ketika sedang berbicara kepada Anda, tidak selalu perlu mengatakan, "Jangan menangis."

Anda dapat tetap berada di dekat mereka dan memberikan kesempatan untuk menangis.

Jika hubungan Anda cukup dekat, Anda dapat menawarkan pelukan, tetapi sebaiknya perhatikan apakah mereka nyaman dengan sentuhan fisik.

Misalnya:

"Aku boleh peluk kamu?"

Pertanyaan sederhana ini menunjukkan perhatian sekaligus menghormati batas pribadi.

Yang terpenting, jangan membuat mereka merasa malu karena menunjukkan emosi.

10. Bantu Mereka Mempertahankan Rutinitas Secara Perlahan

Berduka dapat membuat rutinitas sehari-hari berubah. Seseorang mungkin kehilangan motivasi untuk makan, tidur teratur, bekerja, berolahraga, atau bersosialisasi.

Anda tidak perlu memaksa mereka kembali seperti sebelum kehilangan terjadi.

Namun, dukungan sederhana untuk menjalani aktivitas dasar dapat membantu.

Misalnya:

"Mau makan bareng malam ini?"

atau:

"Besok aku mau jalan pagi. Kalau kamu mau ikut, kita bisa jalan santai."

Fokusnya bukan membuat mereka melupakan kesedihan, tetapi membantu mereka tetap memiliki struktur kehidupan sehari-hari.

Pendekatan yang lembut biasanya lebih tepat daripada memberikan tuntutan.

Hindari mengatakan:

"Kamu harus kembali produktif."

Lebih baik:

"Kita pelan-pelan saja. Kalau hari ini kamu hanya sanggup melakukan sedikit, tidak apa-apa."

11. Hormati Cara Mereka Mengenang Orang yang Telah Pergi

Setiap orang memiliki cara berbeda dalam menjaga hubungan emosional dengan kenangan seseorang yang telah meninggal.

Ada yang suka melihat foto, menyimpan barang peninggalan, mengunjungi tempat tertentu, memasak makanan favorit almarhum, berdoa, menulis, atau membicarakan kenangan lama.

Tidak perlu memaksakan cara berduka tertentu kepada mereka.

Jika mereka ingin bercerita tentang orang yang telah meninggal, dengarkan.

Jika mereka ingin menyimpan barang-barang tertentu, hormati keputusan tersebut selama tidak membahayakan diri mereka atau orang lain.

Kenangan memiliki arti yang sangat personal. Apa yang tampak sederhana bagi orang lain dapat memiliki nilai emosional yang besar bagi seseorang yang sedang berduka.

12. Dorong Bantuan Profesional Jika Kesulitan Terasa Sangat Berat

Dukungan dari keluarga dan teman sangat penting, tetapi tidak selalu cukup untuk setiap kondisi.

Kesedihan merupakan bagian dari pengalaman kehilangan, tetapi seseorang mungkin membutuhkan bantuan profesional jika mengalami kesulitan emosional yang sangat berat atau berkepanjangan, terutama jika hal tersebut mengganggu fungsi sehari-hari secara signifikan.

Anda dapat menyampaikan hal tersebut dengan penuh empati.

Misalnya:

"Aku sayang dan peduli sama kamu. Kalau semuanya terasa terlalu berat, mungkin kita bisa mencari bantuan dari psikolog. Aku juga bisa menemani kalau kamu mau."

Hindari menggunakan bantuan profesional sebagai ancaman atau sebagai cara untuk mengatakan bahwa mereka "bermasalah".

Kalimat seperti "Kamu harus ke psikolog karena kamu sudah tidak normal" justru dapat membuat mereka merasa semakin terisolasi.

Pendekatan yang lebih baik adalah menawarkan bantuan dan menunjukkan bahwa mencari dukungan tambahan merupakan pilihan yang layak dipertimbangkan.

Jika seseorang menunjukkan tanda-tanda ingin menyakiti diri sendiri, tidak ingin hidup, atau berada dalam bahaya, situasinya perlu diperlakukan sebagai keadaan darurat dan jangan dibiarkan sendirian. Segera libatkan orang yang dipercaya dan layanan darurat atau layanan kesehatan setempat.

Hal-Hal yang Sebaiknya Dihindari Saat Mendampingi Orang Berduka

Selain mengetahui apa yang dapat dilakukan, penting juga mengetahui respons yang sebaiknya dihindari.

"Kamu harus kuat."

Kalimat ini dapat membuat seseorang merasa bahwa menunjukkan kesedihan berarti tidak kuat.

Lebih baik mengatakan:

"Kamu tidak harus kuat setiap saat. Kalau kamu ingin menangis atau cerita, aku ada."

"Sudah, jangan dipikirkan."

Orang yang berduka tidak bisa begitu saja mematikan pikirannya tentang kehilangan.

Lebih baik akui bahwa proses tersebut memang sulit.

"Aku tahu persis perasaanmu."

Tidak ada orang yang benar-benar dapat mengetahui secara persis pengalaman emosional orang lain.

Lebih baik mengatakan:

"Aku mungkin tidak sepenuhnya memahami apa yang kamu rasakan, tetapi aku ingin menemanimu."

"Waktu akan menyembuhkan semuanya."

Waktu memang dapat membantu seseorang beradaptasi, tetapi prosesnya tidak otomatis atau sama bagi semua orang.

Lebih baik memberikan dukungan secara konsisten daripada memberikan janji bahwa semuanya pasti segera membaik.

"Setidaknya..."

Kalimat yang diawali "setidaknya" sering kali bermaksud mencari sisi positif, tetapi dapat terdengar seperti mengecilkan kehilangan.

Contohnya:

"Setidaknya dia tidak sakit lagi."

Meskipun mungkin dimaksudkan sebagai penghiburan, seseorang yang sedang berduka mungkin belum siap melihat situasi dari perspektif tersebut.

Mengapa Kehadiran Sangat Penting bagi Orang yang Berduka?

Kehilangan tidak hanya membuat seseorang kehilangan individu yang dicintai. Mereka juga mungkin kehilangan rutinitas, peran sosial, rasa aman, rencana masa depan, atau bagian tertentu dari identitas mereka.

Misalnya, seseorang yang kehilangan pasangan bukan hanya kehilangan pasangan hidup, tetapi mungkin juga harus beradaptasi dengan perubahan peran sebagai orang tua, pengelola rumah tangga, pengambil keputusan, dan anggota keluarga.

Karena itu, proses berduka sering kali bukan sekadar "menghilangkan rasa sedih".

Seseorang perlu belajar menjalani kehidupan yang telah berubah sambil tetap membawa kenangan dan hubungan emosional dengan orang yang telah meninggal.

Dalam kondisi tersebut, hubungan sosial dapat menjadi salah satu sumber dukungan penting.

Kehadiran orang lain dapat memberikan pesan sederhana:

"Kamu tidak harus melewati semuanya sendirian."

Kepedulian Tidak Harus Berupa Kata-Kata Besar

Banyak orang takut salah bicara kepada seseorang yang sedang berduka. Akibatnya, mereka memilih menjauh karena merasa tidak tahu harus mengatakan apa.

Padahal, kepedulian tidak selalu membutuhkan kalimat yang sempurna.

Terkadang cukup dengan:

duduk bersama dalam keheningan;
membawakan makanan;
mengirim pesan singkat;
menemani pergi;
membantu pekerjaan rumah;
mendengarkan cerita yang sama berulang kali;
mengingat tanggal penting;
atau sekadar mengatakan, "Aku ada di sini."

Yang membuat dukungan bermakna bukan selalu besarnya tindakan, tetapi konsistensi dan ketulusan di baliknya.

Setiap Orang Memiliki Cara Berduka yang Berbeda

Tidak ada satu pola berduka yang berlaku untuk semua orang.

Seseorang mungkin menangis setiap hari. Orang lain mungkin tetap bekerja seperti biasa. Ada yang ingin banyak bercerita, sementara yang lain memilih diam.

Perbedaan tersebut tidak otomatis menunjukkan bahwa seseorang lebih sedih atau kurang sedih.

Karena itu, hindari menilai proses berduka berdasarkan standar pribadi.

Daripada bertanya, "Kenapa kamu tidak menangis?", lebih baik bertanya:

"Apa yang paling kamu butuhkan sekarang?"

Pertanyaan tersebut membuka ruang bagi orang yang sedang berduka untuk menentukan sendiri bentuk dukungan yang paling mereka perlukan.

Penutup

Menunjukkan kepedulian kepada seseorang yang sedang berduka bukan tentang menemukan kalimat ajaib yang dapat menghilangkan rasa kehilangan. Duka merupakan proses yang kompleks, personal, dan membutuhkan waktu.

Dukungan yang paling berarti sering kali justru datang dalam bentuk sederhana: hadir, mendengarkan, tidak menghakimi, membantu kebutuhan sehari-hari, menghormati ruang pribadi, serta tetap memberikan perhatian setelah suasana duka mulai sepi.

Jika Anda memiliki seseorang yang sedang berduka, Anda tidak harus menjadi orang yang mampu memperbaiki semuanya. Anda hanya perlu menjadi seseorang yang bersedia hadir.

Terkadang, pesan sederhana seperti "Aku tidak tahu harus berkata apa, tetapi aku ada untukmu" sudah menjadi bentuk kepedulian yang sangat berarti.

Yang terpenting adalah tidak memaksa seseorang untuk segera berhenti berduka. Biarkan mereka menjalani prosesnya dengan ritme masing-masing, sambil memastikan bahwa mereka tahu bahwa masih ada orang-orang yang bersedia berjalan bersama mereka.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore