seseorang yang perlu bersikap lebih tegas / foto: Magnific/lookstudio
Mereka membantu ketika sedang lelah. Mereka memaklumi ketika diperlakukan tidak adil. Mereka tetap diam ketika perkataannya diremehkan. Bahkan, mereka sering merasa bersalah hanya karena mencoba menjaga batas dirinya sendiri.
Menjadi orang yang baik memang bukan sesuatu yang salah. Memiliki empati, memahami orang lain, dan bersedia membantu adalah kualitas yang berharga.
Namun, psikologi juga mengenal perbedaan antara bersikap baik dan mengabaikan kebutuhan diri sendiri demi menyenangkan orang lain.
Ketika seseorang terlalu sering mengalah tanpa batas, orang-orang di sekitarnya dapat terbiasa menerima kelonggaran tersebut. Bukan selalu karena mereka berniat buruk, tetapi karena manusia cenderung belajar dari pola interaksi yang terus berulang.
Jika setiap kali seseorang melewati batas kita selalu memaafkan tanpa membicarakannya, mereka mungkin menganggap batas tersebut memang tidak terlalu penting.
Jika setiap permintaan selalu kita penuhi, mereka mungkin menganggap kita selalu tersedia.
Dan jika setiap perlakuan tidak menyenangkan selalu kita diamkan, pola tersebut bisa terus berulang.
Karena itu, ketegasan bukan berarti menjadi kasar, egois, atau tidak peduli kepada orang lain.
Ketegasan berarti mampu menyampaikan apa yang kita butuhkan, apa yang kita tidak setujui, dan batas apa yang perlu dihormati—tanpa harus merendahkan orang lain.
Lalu, bagaimana mengetahui bahwa mungkin sudah waktunya kita menjadi lebih tegas?
Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (16/9), terdapat enam tanda yang patut diperhatikan.
1. Orang-orang terus meminta bantuan kepadamu, tetapi jarang mempertimbangkan kondisimu
Coba perhatikan pola hubunganmu.
Apakah kamu sering menjadi orang pertama yang dicari ketika seseorang membutuhkan sesuatu?
Diminta membantu pekerjaan.
Diminta mendengarkan masalah.
Diminta mengantar.
Diminta meminjamkan sesuatu.
Diminta menggantikan tugas.
Atau bahkan diminta menyelesaikan masalah yang sebenarnya bukan tanggung jawabmu.
Membantu orang lain tentu bukan masalah.
Masalahnya muncul ketika hubungan tersebut menjadi satu arah.
Kamu terus memberikan waktu, tenaga, perhatian, dan sumber daya, sementara kebutuhanmu sendiri jarang ditanyakan.
Lebih buruk lagi, ketika suatu hari kamu mengatakan sedang tidak bisa membantu, mereka justru membuatmu merasa bersalah.
“Biasanya kamu mau membantu.”
“Kenapa sekarang berubah?”
“Cuma kamu yang bisa diandalkan.”
Kalimat seperti ini bisa terdengar seperti pujian, tetapi dalam konteks tertentu dapat menjadi bentuk tekanan sosial.
Dalam psikologi, kemampuan mengatakan “tidak” merupakan bagian penting dari perilaku asertif. Orang yang asertif tidak harus menolak semua permintaan. Mereka hanya mampu mempertimbangkan kapasitas dirinya sebelum memberikan jawaban.
Kamu boleh membantu.
Tetapi kamu juga boleh mengatakan:
“Maaf, kali ini aku tidak bisa membantu.”
Tanpa memberikan penjelasan panjang.
Tanpa merasa harus meminta maaf berkali-kali.
Tanpa harus membuktikan bahwa alasanmu cukup valid.
Karena memiliki batas bukan berarti kamu berhenti menjadi orang baik.
Itu berarti kamu mulai memperlakukan energimu sendiri sebagai sesuatu yang juga berharga.
2. Mereka sering bercanda dengan mengorbankan harga dirimu
Tidak semua candaan adalah masalah.
Dalam hubungan yang sehat, orang memang bisa saling menggoda. Namun, ada perbedaan antara candaan yang membuat semua orang tertawa dan candaan yang terus-menerus menjadikan satu orang sebagai sasaran.
Misalnya, seseorang berulang kali mengomentari penampilanmu.
Mereka meremehkan pekerjaanmu.
Membicarakan kesalahan masa lalumu di depan orang lain.
Mengungkit kelemahanmu sebagai bahan lelucon.
Ketika kamu terlihat tidak nyaman, mereka berkata:
“Ah, jangan baper.”
Kalimat tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa seseorang sedang memanipulasimu. Namun, jika pola itu terus terjadi setelah kamu menyampaikan ketidaknyamanan, persoalannya bukan lagi sekadar humor.
Di sinilah ketegasan menjadi penting.
Kamu tidak perlu membalas dengan penghinaan.
Kamu tidak perlu membuat keributan.
Kamu cukup mengatakan:
“Aku tahu kamu mungkin bercanda, tapi aku tidak nyaman kalau hal itu dijadikan bahan candaan. Tolong jangan ulangi lagi.”
Kalimat sederhana seperti itu sudah cukup jelas.
Jika orang tersebut menghargai hubungan kalian, mereka akan memiliki kesempatan untuk memahami batasmu.
Sebaliknya, jika setiap kali kamu menyampaikan batas mereka justru mengejek, membalikkan keadaan, atau terus melakukan hal yang sama, kamu mendapatkan informasi penting mengenai pola hubungan tersebut.
Ketegasan bukan tentang memenangkan pertengkaran.
Ketegasan adalah tentang menyampaikan batas dengan jelas.
3. Pendapatmu sering diabaikan sampai kamu harus marah terlebih dahulu
Pernahkah kamu merasa bahwa orang lain baru mendengarkanmu ketika kamu sudah benar-benar kesal?
Awalnya kamu berbicara dengan tenang.
Tidak didengar.
Kamu mencoba menjelaskan lagi.
Masih diabaikan.
Kamu mulai menunjukkan ketidaksetujuan.
Tetap dianggap sepele.
Sampai akhirnya kamu marah.
Barulah orang-orang menyadari bahwa kamu sebenarnya serius.
Jika ini terjadi berulang kali, mungkin ada pola komunikasi yang perlu diperhatikan.
Bukan berarti kemarahan selalu salah. Kemarahan adalah emosi yang normal dan dapat memberikan informasi bahwa sesuatu yang penting bagi kita telah dilanggar.
Tetapi dalam hubungan yang sehat, seseorang seharusnya tidak perlu menunggu sampai emosinya meledak agar batasnya dianggap serius.
Karena itu, cobalah menyampaikan batas lebih awal, bukan setelah semuanya menumpuk.
Daripada:
“Terserah, lakukan saja.”
Lalu diam-diam merasa kesal.
Lebih baik mengatakan:
“Aku tidak setuju dengan cara itu. Kalau keputusan ini tetap diambil, aku tidak bisa ikut bertanggung jawab atas hasilnya.”
Jelas.
Tenang.
Tidak menyerang.
Namun tetap tegas.
4. Kamu selalu merasa bersalah ketika memprioritaskan dirimu sendiri
Ini salah satu tanda yang sering tidak disadari.
Kamu ingin beristirahat, tetapi merasa bersalah.
Kamu ingin menolak ajakan, tetapi merasa tidak enak.
Kamu ingin mengatakan bahwa sesuatu menyakitimu, tetapi takut dianggap merepotkan.
Kamu ingin memiliki waktu untuk dirimu sendiri, tetapi merasa seperti orang egois.
Padahal, memprioritaskan diri sendiri sesekali bukan berarti mengabaikan orang lain.
Ada perbedaan antara egois dan memiliki batas pribadi.
Egoisme berarti mengutamakan kepentingan diri sendiri tanpa mempertimbangkan orang lain.
Sementara batas pribadi berarti memahami bahwa kebutuhan orang lain juga penting, tetapi kebutuhanmu sendiri tidak otomatis menjadi tidak penting.
Misalnya, kamu bisa mengatakan:
“Aku ingin membantu, tetapi aku sedang membutuhkan waktu untuk menyelesaikan urusanku sendiri.”
Atau:
“Aku mengerti kamu kecewa, tetapi keputusanku tetap sama.”
Tidak semua orang akan senang dengan batas yang kamu buat.
Dan itu bagian yang perlu dipahami.
Ketegasan tidak menjamin semua orang akan menyukaimu.
Kadang-kadang, orang merasa nyaman dengan versi dirimu yang selalu mengalah. Ketika kamu mulai berkata “tidak”, mereka mungkin merasa kehilangan kenyamanan tersebut.
Namun, ketidaknyamanan orang lain bukan selalu tanda bahwa kamu melakukan sesuatu yang salah.
5. Kamu sering menjadi tempat pelampiasan emosi orang lain
Ada orang yang selalu datang kepadamu ketika sedang memiliki masalah.
Kamu mendengarkan.
Kamu menenangkan.
Kamu mencoba memberikan solusi.
Kamu hadir ketika mereka sedang berada di titik terendah.
Tetapi ketika kamu sendiri membutuhkan dukungan, mereka menghilang.
Atau percakapan selalu kembali kepada masalah mereka.
Hubungan semacam ini dapat terasa melelahkan secara emosional.
Empati memang penting. Tetapi empati tidak berarti kamu harus menjadi tempat penampungan semua masalah orang lain tanpa batas.
Kamu bukan terapis bagi semua orang.
Kamu bukan penyelamat semua orang.
Dan kamu tidak memiliki kewajiban untuk selalu tersedia secara emosional.
Kamu bisa mengatakan:
“Aku peduli dengan masalahmu, tetapi saat ini aku sendiri sedang tidak punya kapasitas untuk mendengarkan. Kita bisa membicarakannya lain waktu.”
Itu bukan tindakan kejam.
Justru, batas seperti ini dapat membuat hubungan menjadi lebih realistis.
Karena hubungan yang sehat bukan tentang satu orang selalu menjadi pemberi dan orang lain selalu menjadi penerima.
Hubungan yang sehat memiliki ruang bagi dua-duanya untuk menjadi manusia.
6. Kamu takut mengecewakan orang lain sampai mengorbankan prinsipmu sendiri
Ini mungkin tanda yang paling dalam.
Kamu mengetahui bahwa sesuatu sebenarnya tidak sesuai dengan keinginanmu.
Kamu tidak setuju.
Kamu merasa tidak nyaman.
Bahkan mungkin kamu tahu bahwa keputusan tersebut bertentangan dengan prinsipmu.
Namun kamu tetap melakukannya karena takut orang lain kecewa.
Takut dianggap jahat.
Takut kehilangan hubungan.
Takut tidak disukai.
Takut disebut egois.
Jika ketakutan seperti ini terus mengendalikan keputusanmu, kamu mungkin perlahan-lahan mulai menjalani hidup berdasarkan ekspektasi orang lain.
Dan masalahnya bukan hanya kelelahan.
Dalam jangka panjang, seseorang dapat merasa kehilangan hubungan dengan dirinya sendiri: sulit mengetahui apa yang benar-benar ia inginkan karena terlalu terbiasa menyesuaikan diri dengan keinginan orang lain.
Karena itu, sesekali tanyakan kepada dirimu:
“Kalau aku tidak takut mengecewakan siapa pun, apa yang sebenarnya akan kupilih?”
Pertanyaan tersebut bukan berarti semua keinginan pribadi harus diikuti.
Tetapi pertanyaan itu dapat membantu membedakan antara keputusan yang memang kamu pilih dan keputusan yang kamu ambil hanya karena takut terhadap reaksi orang lain.
Jadi, seperti apa sebenarnya sikap tegas itu?
Banyak orang mengira ketegasan berarti berbicara keras.
Padahal tidak.
Kamu bisa tegas dengan suara yang tenang.
Kamu bisa tegas tanpa menghina.
Kamu bisa tegas tanpa marah.
Kamu bisa tegas sambil tetap menghargai perasaan orang lain.
Misalnya, daripada mengatakan:
“Kamu selalu memanfaatkan aku!”
Kamu bisa mengatakan:
“Aku tidak bisa terus mengambil tanggung jawab itu. Mulai sekarang, aku hanya akan membantu jika memang ada waktu luang.”
Daripada:
“Aku muak dengan sikapmu.”
Kamu bisa mengatakan:
“Aku tidak nyaman diperlakukan seperti itu. Kalau percakapan ini terus berlangsung dengan cara tersebut, aku akan memilih berhenti membicarakannya.”
Daripada langsung menghilang, kamu bisa menjelaskan:
“Aku sedang membutuhkan ruang untuk diriku sendiri. Ini bukan berarti aku membencimu, tetapi aku perlu menjaga energiku.”
Itulah salah satu inti dari komunikasi asertif.
Jelas, langsung, dan tetap menghormati kedua pihak.
Kamu tidak harus menjelaskan batasmu berkali-kali
Ada kebiasaan yang sering dilakukan oleh orang yang sulit berkata “tidak”.
Mereka merasa harus memberikan alasan yang sangat panjang.
“Aku sebenarnya mau, tapi tadi ada ini, kemudian besok ada itu, lalu mungkin minggu depan…”
Padahal, semakin panjang penjelasan, terkadang semakin banyak ruang bagi orang lain untuk bernegosiasi dengan keputusanmu.
Kamu tidak selalu membutuhkan alasan yang sempurna untuk mengatakan tidak.
“Aku tidak bisa.”
Sudah merupakan jawaban.
Tentu, dalam situasi tertentu penjelasan diperlukan—terutama dalam pekerjaan, keluarga, atau tanggung jawab yang memang membutuhkan komunikasi lebih lengkap.
Namun, dalam banyak situasi sosial, batas sederhana dapat disampaikan tanpa membuat pembelaan panjang.
Ketegasan juga berarti berani menerima kekecewaan orang lain
Ini bagian yang paling sulit.
Kamu bisa menyampaikan batas dengan sangat sopan, tetapi orang lain tetap kecewa.
Dan kamu harus belajar bahwa kekecewaan mereka tidak selalu menjadi tanggung jawabmu untuk diperbaiki.
Orang lain berhak merasa kecewa.
Kamu juga berhak mengambil keputusan.
Dua hal itu bisa terjadi secara bersamaan.
Misalnya, seorang teman ingin kamu datang ke sebuah acara, tetapi kamu membutuhkan waktu untuk beristirahat.
Kamu menolak dengan sopan.
Temanmu kecewa.
Kekecewaannya valid.
Tetapi itu tidak otomatis berarti keputusanmu salah.
Dalam hubungan dewasa, kita perlu belajar bahwa menjaga hubungan bukan berarti memastikan tidak ada seorang pun yang pernah kecewa kepada kita.
Itu mustahil.
Yang lebih realistis adalah membangun hubungan di mana perbedaan kebutuhan dapat dibicarakan tanpa seseorang harus kehilangan dirinya sendiri.
Perhatikan pola, bukan hanya satu kejadian
Satu kejadian tidak selalu cukup untuk menyimpulkan karakter seseorang.
Semua orang bisa melakukan kesalahan.
Teman bisa lupa.
Pasangan bisa salah bicara.
Rekan kerja bisa bersikap kurang peka.
Anggota keluarga bisa memiliki hari yang buruk.
Karena itu, jangan terburu-buru memberi label kepada seseorang hanya berdasarkan satu perilaku.
Yang lebih penting adalah pola yang berulang.
Apakah kamu sudah pernah menyampaikan keberatan?
Apakah mereka berusaha memahami?
Apakah mereka menghormati batas setelah mengetahuinya?
Apakah ada perubahan?
Atau pola yang sama terus berulang?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih berguna daripada sekadar bertanya, “Apakah orang ini jahat?”
Karena tujuan ketegasan bukan mencari siapa yang salah.
Tujuannya adalah memahami bagaimana sebuah hubungan bekerja dan menentukan batas yang sehat di dalamnya.
Pada akhirnya, bersikap tegas adalah bentuk menghargai diri sendiri
Kamu tidak harus menjadi orang yang keras.
Kamu tidak harus berubah menjadi dingin.
Kamu tidak harus berhenti peduli kepada orang lain.
Kamu hanya perlu memahami bahwa kebaikan tanpa batas dapat membuatmu mengabaikan dirimu sendiri.
Belajar berkata “tidak” bukan berarti kamu menjadi orang buruk.
Meminta dihormati bukan berarti kamu arogan.
Mengambil waktu untuk diri sendiri bukan berarti kamu egois.
Dan menyampaikan ketidaksetujuan bukan berarti kamu sedang mencari konflik.
Kadang-kadang, bentuk penghargaan terhadap diri sendiri yang paling sederhana adalah mengatakan:
“Aku tidak nyaman dengan ini.”
“Aku tidak bisa melakukannya.”
“Aku membutuhkan waktu untuk diriku sendiri.”
“Aku menghargai perasaanmu, tetapi keputusanku tetap sama.”
Kamu tidak perlu berteriak agar batasmu terdengar.
Kamu tidak perlu marah agar kebutuhanmu dianggap penting.
Dan kamu tidak perlu menunggu sampai benar-benar kelelahan untuk mulai menjaga dirimu sendiri.
Sebab menjadi orang baik tidak berarti harus selalu tersedia bagi semua orang.
Ada saatnya membantu.
Ada saatnya mendengarkan.
Ada saatnya mengalah.
Tetapi ada pula saatnya berdiri tegak, berbicara dengan tenang, dan mengatakan:
“Sampai di sini batas yang bisa kuterima.”
Dan itu bukan tanda bahwa kamu menjadi lebih buruk.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Prediksi Skor Fiorentina vs Napoli: Peluang I Partenopei Petik 3 Poin di Stadion Artemio Franchi
Ariel NOAH 18 Tahun Menduda, Dekat dengan Wulan Guritno di Ultah ke-45
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Real Betis di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Menang Lagi
Prediksi Skor Getafe vs Malaga di Liga Spanyol: Azulones Libas Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Villarreal vs Levante di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Libas Tim Tamu
Prediksi Skor Schalke 04 vs Elversberg di Liga Jerman: Duel Tim Papan Tengah Rawan Imbang
Prediksi Skor Parma vs Genoa di Liga Italia: Duel Tim Papan Bawah Berakhir Imbang
Prediksi Skor FC Twente vs PSV Eindhoven: Pemuncak Klasemen Berpeluang Pesta Gol

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022