seseorang yang berada dalam hubungan yang tidak sehat / foto: Magnific/yanalya
Dalam hubungan jangka panjang, wajar jika ada perbedaan pendapat, pertengkaran, rasa kecewa, bahkan periode ketika komunikasi terasa lebih sulit. Dua orang yang berbeda tentu tidak mungkin selalu memiliki cara berpikir, kebutuhan, dan harapan yang sama.
Namun, ada perbedaan penting antara konflik yang masih bisa diselesaikan dan pola hubungan yang secara terus-menerus membuat salah satu pihak merasa takut, tertekan, tidak berharga, atau kehilangan dirinya sendiri.
Dalam psikologi, kesehatan sebuah hubungan tidak hanya dilihat dari seberapa sering pasangan mengatakan "sayang", seberapa lama kalian bersama, atau seberapa romantis hubungan tersebut terlihat dari luar. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kalian saling memperlakukan ketika menghadapi perbedaan, batasan, kesalahan, dan kebutuhan masing-masing.
Karena itu, jika kamu mulai melihat beberapa pola berikut secara berulang dalam hubunganmu, mungkin ada sesuatu yang perlu diperhatikan.
Bukan untuk langsung menyimpulkan bahwa pasanganmu adalah orang yang buruk.
Bukan juga untuk mendiagnosisnya dengan gangguan psikologis tertentu.
Tetapi untuk bertanya kepada diri sendiri:
"Apakah hubungan ini masih membuatku merasa aman, dihargai, dan menjadi diriku sendiri?"
Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (20/9), terdapat enam tanda yang patut kamu perhatikan.
1. Kamu Merasa Harus Berjalan di Atas Kulit Telur di Sekitarnya
Salah satu tanda yang sering tidak disadari dalam hubungan yang tidak sehat adalah munculnya perasaan bahwa kamu harus sangat berhati-hati agar pasangan tidak marah.
Kamu mulai memikirkan setiap kata sebelum berbicara.
Kamu takut menyampaikan pendapat karena khawatir akan terjadi pertengkaran.
Kamu bahkan mungkin mulai mengubah kebiasaan, pertemanan, cara berpakaian, atau keputusan pribadi hanya karena takut melihat reaksi pasangan.
Misalnya, kamu ingin mengatakan bahwa kamu tidak setuju dengan sesuatu.
Namun sebelum berbicara, pikiranmu sudah dipenuhi pertanyaan:
"Nanti dia marah nggak?"
"Kalau aku bilang begini, dia bakal ngambek berhari-hari nggak?"
"Jangan-jangan nanti dia mengancam putus."
Jika perasaan seperti ini menjadi pola yang terus-menerus, masalahnya bukan sekadar "kamu terlalu sensitif".
Hubungan yang sehat seharusnya memberikan ruang bagi kedua orang untuk memiliki pendapat yang berbeda tanpa harus merasa terancam.
Konflik tidak selalu berarti hubungan tidak sehat
Ini penting.
Pasangan yang sehat tetap bisa marah. Mereka tetap bisa kecewa. Mereka juga bisa mengalami konflik.
Perbedaannya terletak pada cara konflik tersebut dikelola.
Dalam hubungan yang relatif sehat, seseorang mungkin mengatakan:
"Aku tidak setuju dengan keputusanmu. Kita bicarakan nanti setelah sama-sama tenang."
Dalam pola yang tidak sehat, konflik bisa berubah menjadi:
"Kalau kamu melakukan itu lagi, lihat saja nanti."
Atau pasangan sengaja membuatmu takut, mengancam meninggalkanmu, menghukum dengan diam, atau membuatmu merasa harus selalu menyesuaikan diri untuk menjaga suasana tetap tenang.
Jika kamu merasa kedamaian hubungan hanya bisa dipertahankan ketika kamu terus-menerus mengalah, itu adalah sesuatu yang layak diperhatikan.
2. Pasangan Sering Meremehkan Perasaanmu
Bayangkan kamu sedang sedih dan mencoba menceritakan apa yang kamu rasakan.
Alih-alih mendengarkan, pasangan justru berkata:
"Kamu terlalu baper."
"Masalah begitu saja dipikirin."
"Kamu memang selalu drama."
"Orang lain punya masalah lebih besar."
Jika terjadi sesekali, seseorang mungkin sedang lelah, frustrasi, atau tidak tahu bagaimana merespons.
Tetapi jika meremehkan perasaanmu menjadi pola yang berulang, dampaknya bisa cukup besar.
Lama-kelamaan kamu bisa mulai meragukan perasaanmu sendiri.
Kamu mulai berpikir:
"Jangan-jangan aku memang terlalu sensitif."
"Mungkin aku yang selalu salah."
"Apa aku sebenarnya berlebihan?"
Padahal, memiliki perasaan bukan berarti kamu selalu benar.
Perasaan memang tidak selalu merupakan fakta, tetapi perasaan tetap merupakan sesuatu yang layak didengarkan dan dibicarakan.
Dalam hubungan yang sehat, pasangan tidak harus selalu setuju dengan emosimu untuk tetap menghargainya.
Dia bisa mengatakan:
"Aku melihat situasinya berbeda, tapi aku mengerti kenapa kamu merasa terluka."
Kalimat seperti ini menunjukkan adanya ruang untuk perbedaan sekaligus empati.
Sebaliknya, jika setiap kali kamu mengungkapkan ketidaknyamanan, kamu justru dibuat merasa bodoh, berlebihan, atau bersalah karena memiliki perasaan tersebut, hubungan itu dapat menjadi lingkungan yang melelahkan secara emosional.
3. Dia Berusaha Mengontrol Hidupmu
Perhatian dan kontrol sering kali terlihat mirip pada awalnya.
Seseorang mungkin berkata:
"Aku cuma khawatir."
"Aku melakukan ini karena aku sayang."
"Aku cuma ingin tahu kamu di mana."
Perhatian memang bagian normal dari sebuah hubungan.
Namun perhatian berubah menjadi masalah ketika berubah menjadi pengendalian terhadap kebebasan pasangan.
Misalnya, pasangan merasa berhak menentukan:
dengan siapa kamu boleh berteman,
kapan kamu boleh keluar,
bagaimana kamu harus berpakaian,
siapa yang boleh kamu ikuti di media sosial,
kapan kamu harus membalas pesan,
bagaimana kamu menggunakan uangmu,
atau keputusan pribadi apa yang boleh kamu ambil.
Lebih jauh lagi, kontrol bisa disertai dengan ancaman atau hukuman emosional.
"Kalau kamu pergi dengan teman-temanmu, berarti kamu tidak menghargai aku."
"Kalau kamu mencintai aku, kamu harus memberikan password-mu."
"Aku tidak suka temanmu, jadi kamu harus berhenti berteman dengannya."
Pernyataan seperti ini penting untuk dibedakan dari kesepakatan bersama.
Dalam hubungan sehat, pasangan boleh menyampaikan kekhawatiran dan batasannya. Tetapi batasan pribadi berbeda dari upaya mengendalikan orang lain.
Batasan berbicara tentang apa yang akan dilakukan seseorang untuk menjaga dirinya sendiri.
Kontrol berusaha menentukan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan orang lain.
Dan ketika kontrol semakin luas, seseorang bisa perlahan kehilangan ruang untuk menjadi dirinya sendiri.
4. Semua Masalah Selalu Menjadi Kesalahanmu
Pernahkah kamu menyadari bahwa setiap pertengkaran akhirnya selalu berakhir dengan kamu yang meminta maaf?
Bahkan ketika awalnya kamu yang terluka?
Misalnya pasangan melakukan sesuatu yang membuatmu kecewa.
Ketika kamu mencoba membicarakannya, pembicaraan justru berubah menjadi:
"Ya, tapi kamu juga pernah melakukan itu."
"Kalau kamu tidak seperti itu, aku tidak akan melakukan ini."
"Semua ini terjadi karena kamu."
Akhirnya, masalah awal menghilang.
Kamu justru sibuk membela diri.
Pola seperti ini dapat membuat penyelesaian konflik menjadi sangat sulit.
Dalam hubungan yang sehat, kedua orang dapat mengakui kontribusinya terhadap masalah.
Seseorang bisa mengatakan:
"Aku salah karena berbicara kasar tadi."
Tanpa harus menambahkan:
"Tapi sebenarnya kamu yang membuatku marah."
Mengakui kesalahan bukan berarti kalah.
Justru kemampuan untuk mengatakan "aku salah" merupakan bagian penting dari hubungan yang matang.
Yang perlu diperhatikan adalah pola.
Apakah pasangan bisa menerima kritik?
Apakah dia mampu meminta maaf?
Apakah dia bersedia memperbaiki perilakunya?
Atau setiap kali terjadi masalah, kamu selalu dibuat menjadi sumber persoalan?
Jika kamu terus-menerus merasa harus meminta maaf hanya agar konflik berhenti, hubungan tersebut mungkin membutuhkan evaluasi yang lebih serius.
5. Kamu Perlahan Kehilangan Dirimu Sendiri
Hubungan yang sehat seharusnya menjadi bagian dari hidupmu, bukan mengambil alih seluruh identitasmu.
Namun dalam hubungan yang tidak sehat, seseorang bisa perlahan kehilangan hubungan dengan dirinya sendiri.
Awalnya mungkin tidak terasa.
Kamu mulai jarang bertemu teman.
Hobi yang dulu kamu sukai mulai ditinggalkan.
Kamu berhenti melakukan hal-hal yang membuatmu bahagia karena pasangan tidak menyukainya.
Kamu mulai menyesuaikan seluruh hidupmu dengan mood pasangan.
Kamu tidak lagi tahu apa yang sebenarnya kamu inginkan.
Semua keputusan menjadi:
"Menurut dia bagaimana?"
"Dia suka nggak?"
"Kalau dia marah bagaimana?"
Lama-kelamaan, dunia sosialmu mungkin semakin kecil.
Dan pusat kehidupanmu hanya berputar di sekitar hubungan tersebut.
Padahal, kedekatan emosional tidak berarti dua orang harus kehilangan individualitas.
Kamu tetap membutuhkan ruang untuk:
memiliki teman,
menjalankan hobi,
memiliki tujuan pribadi,
menikmati waktu sendiri,
membangun karier,
dan membuat keputusan tentang hidupmu.
Hubungan yang sehat memungkinkan dua individu menjadi dekat tanpa harus kehilangan identitas masing-masing.
Jika kamu mulai bertanya:
"Aku sebenarnya menjadi siapa sejak bersama dia?"
mungkin sudah waktunya berhenti sejenak dan melihat kembali hubungan tersebut.
6. Kamu Lebih Sering Merasa Cemas daripada Merasa Aman
Mungkin ini merupakan salah satu tanda yang paling penting untuk diperhatikan.
Coba perhatikan bagaimana perasaanmu sebagian besar waktu ketika berada dalam hubungan tersebut.
Apakah kamu merasa aman untuk menjadi diri sendiri?
Apakah kamu bisa mengatakan "tidak"?
Apakah kamu bisa mengungkapkan kebutuhanmu?
Apakah kamu merasa dihargai meskipun sedang berbeda pendapat?
Atau sebagian besar waktumu justru dihabiskan untuk menebak-nebak suasana hati pasangan?
Kamu mungkin terus memeriksa ponsel.
Menunggu balasan.
Takut melihat pesan tertentu.
Cemas ketika pasangan tidak menjawab.
Takut melakukan kesalahan kecil.
Takut ditinggalkan.
Takut membuat pasangan marah.
Hubungan memang dapat menghadirkan rasa khawatir sesekali. Tidak ada manusia yang selalu merasa aman dan tenang setiap saat.
Namun jika ketakutan dan kecemasan menjadi keadaan yang dominan, hal tersebut patut diperhatikan.
Hubungan yang sehat bukan berarti hubungan tanpa konflik.
Hubungan sehat berarti konflik tidak membuat seseorang kehilangan rasa aman, harga diri, dan kebebasan dasarnya.
Enam Tanda Ini Tidak Berdiri Sendiri
Penting untuk tidak menggunakan daftar di atas seperti sebuah tes:
"Aku menemukan enam tanda, berarti pasanganku pasti toxic."
Psikologi tidak sesederhana itu.
Satu perilaku saja tidak cukup untuk menentukan kualitas seseorang atau mendiagnosis suatu kondisi.
Konteks sangat penting.
Misalnya, pasangan yang sesekali membutuhkan waktu sendiri setelah bertengkar belum tentu sedang melakukan manipulasi.
Pasangan yang merasa cemburu sesekali belum tentu merupakan orang yang mengontrol.
Dan pasangan yang melakukan kesalahan belum tentu berada dalam hubungan yang tidak sehat.
Yang lebih penting adalah pola, frekuensi, dampak, dan kesediaan untuk memperbaiki perilaku.
Pertanyaannya bukan hanya:
"Apakah dia pernah melakukan ini?"
Tetapi:
"Seberapa sering ini terjadi?"
"Apa yang terjadi ketika aku mencoba membicarakannya?"
"Apakah dia bersedia mendengarkan?"
"Apakah perilakunya berubah setelah kami membicarakannya?"
"Apakah aku merasa semakin aman atau justru semakin takut?"
Pertanyaan-pertanyaan tersebut memberikan gambaran yang jauh lebih lengkap.
Hubungan Tidak Sehat Tidak Selalu Terlihat Buruk dari Luar
Ini adalah bagian yang sering membuat seseorang bingung.
Sebuah hubungan bisa terlihat sangat romantis di media sosial, tetapi ternyata penuh tekanan di balik layar.
Foto bersama tidak menunjukkan bagaimana seseorang diperlakukan ketika tidak ada orang lain.
Pasangan yang terlihat sangat perhatian di depan umum belum tentu memberikan ruang yang sehat di dalam hubungan.
Karena itu, jangan hanya bertanya:
"Apakah dia mencintaiku?"
Pertanyaan yang juga penting adalah:
"Bagaimana cinta itu diwujudkan dalam perilaku sehari-hari?"
Cinta tanpa rasa hormat dapat menjadi hubungan yang melelahkan.
Cinta tanpa kebebasan dapat berubah menjadi kontrol.
Cinta tanpa komunikasi dapat dipenuhi asumsi.
Dan cinta tanpa rasa aman dapat membuat seseorang terus hidup dalam ketakutan kehilangan.
Lalu, Apa yang Bisa Kamu Lakukan?
Jika beberapa tanda di atas terasa sangat dekat dengan pengalamanmu, kamu tidak harus langsung mengambil keputusan besar dalam satu malam.
Mulailah dengan mengamati pola.
Tuliskan situasi yang terjadi.
Apa yang dilakukan pasangan?
Bagaimana kamu merespons?
Apa yang terjadi setelah kamu menyampaikan perasaanmu?
Apakah masalah tersebut berulang?
Langkah sederhana ini dapat membantumu melihat hubungan secara lebih objektif ketika emosi sedang kuat.
Kemudian, jika situasinya cukup aman, cobalah membicarakannya dengan pasangan.
Gunakan kalimat yang berfokus pada perilaku dan dampaknya.
Misalnya:
"Ketika kamu membentakku saat kita berbeda pendapat, aku merasa tidak aman untuk menyampaikan pikiranku. Aku ingin kita bisa membicarakan masalah tanpa saling membentak."
Perhatikan bukan hanya jawabannya, tetapi juga tindakannya setelah pembicaraan tersebut.
Seseorang mungkin tidak langsung berubah sempurna.
Namun hubungan yang sehat biasanya memiliki ruang untuk refleksi, tanggung jawab, kompromi, dan perubahan.
Jangan Abaikan Keselamatan
Ada perbedaan besar antara hubungan yang sedang mengalami konflik dan hubungan yang melibatkan ancaman, kekerasan, pemaksaan, atau kontrol yang serius.
Jika pasangan mengancam akan menyakitimu, menghalangimu untuk pergi, melakukan kekerasan fisik, memaksamu melakukan sesuatu yang tidak kamu inginkan, mengancam menggunakan informasi pribadi untuk mengendalikanmu, atau membuatmu takut akan keselamatanmu, jangan menganggapnya sebagai sekadar "masalah komunikasi".
Dalam kondisi seperti itu, keselamatan perlu menjadi prioritas.
Carilah dukungan dari orang yang kamu percaya atau layanan profesional setempat yang relevan. Jika ada bahaya langsung, prioritaskan pergi ke tempat yang aman dan hubungi layanan darurat setempat.
Kamu tidak harus menghadapi situasi yang berbahaya sendirian.
Pada Akhirnya, Hubungan Sehat Bukan Hubungan yang Sempurna
Tidak ada hubungan yang sempurna.
Pasangan yang sehat pun bisa bertengkar.
Mereka bisa salah paham.
Mereka bisa kecewa.
Mereka bahkan bisa saling melukai perasaan tanpa sengaja.
Yang membedakan adalah apa yang terjadi setelahnya.
Apakah ada kemauan untuk mendengarkan?
Apakah ada tanggung jawab?
Apakah ada rasa hormat?
Apakah kedua orang masih memiliki kebebasan menjadi dirinya sendiri?
Apakah masalah bisa dibicarakan tanpa ancaman dan ketakutan?
Dan yang tidak kalah penting:
Apakah kamu merasa aman menjadi dirimu sendiri di dalam hubungan tersebut?
Jika jawabannya semakin sering "tidak", mungkin masalahnya bukan lagi tentang satu pertengkaran atau satu kesalahan.
Mungkin sudah waktunya melihat pola yang lebih besar.
Karena hubungan yang sehat bukan hanya tentang menemukan seseorang yang mencintaimu.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Ariel NOAH 18 Tahun Menduda, Dekat dengan Wulan Guritno di Ultah ke-45
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Viral Pegawai BGN Sindir Korban Keracunan MBG Sambil Makan Chicken Katsu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sudah Tak Jadi Menkeu, Uang Rp 100 Ribu Bertanda Tangan Purbaya Malah Diburu
10 Kali Sidang Kasus Kuota Haji, Saksi Beberkan Tak Ada Dugaan Kerugian Negara
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022