Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 15 September 2026 | 02.55 WIB

Jika Kamu Kesulitan Saat Menghadapi Perpisahan, Lakukan 6 Cara Ini Agar Cepat untuk Bangkit Kembali

seseorang yang kesulitan saat menghadapi perpisahan / foto: Magnific/Camandona

 

JawaPos.com - Perpisahan tidak selalu mudah diterima.

Ada perpisahan yang terjadi karena hubungan memang sudah tidak bisa dipertahankan. Ada pula yang terjadi karena keadaan, jarak, perbedaan tujuan hidup, atau keputusan salah satu pihak. Apa pun alasannya, kehilangan seseorang yang sebelumnya begitu dekat dapat meninggalkan ruang kosong yang tidak mudah diisi.

Setelah perpisahan, sebagian orang mungkin terlihat baik-baik saja. Mereka kembali bekerja, bertemu teman, menjalani rutinitas, bahkan bisa tertawa seperti biasanya. Namun, di dalam hati, proses menerima kehilangan mungkin masih berlangsung.

Tiba-tiba ada hal-hal kecil yang mengingatkan kita pada masa lalu. Sebuah lagu, tempat tertentu, aroma, percakapan, atau bahkan waktu tertentu dalam sehari dapat membuat perasaan sedih kembali muncul.

Hal tersebut bukan berarti kamu lemah.

Dalam psikologi, kehilangan hubungan dapat menjadi pengalaman emosional yang signifikan. Kita bukan hanya kehilangan seseorang, tetapi juga kehilangan rutinitas, kedekatan emosional, rencana masa depan, dan bagian dari kehidupan yang sebelumnya kita jalani bersama.

Karena itu, jika saat ini kamu sedang kesulitan menghadapi perpisahan, jangan buru-buru memaksa diri untuk "move on".

Sembuh bukan tentang seberapa cepat kamu melupakan seseorang. Sembuh adalah ketika kamu perlahan mampu menerima bahwa sesuatu telah berakhir dan mulai membangun kembali kehidupanmu tanpa terus-menerus bergantung pada masa lalu.

Dilansir dari Psychology Today pada Senin (14/9), terdapat enam cara yang dapat membantu menghadapi perpisahan dengan lebih sehat menurut prinsip-prinsip psikologi.

1. Izinkan Dirimu Merasakan Kesedihan

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan setelah perpisahan adalah berusaha terlalu cepat menghilangkan rasa sedih.

Kita mungkin berkata kepada diri sendiri:

"Aku harus kuat."

"Sudahlah, jangan dipikirkan."

"Masih banyak orang lain."

"Aku harus segera move on."

Padahal, memaksa diri untuk tidak merasa sedih tidak selalu membuat kesedihan menghilang.

Emosi pada dasarnya merupakan bagian dari proses manusia dalam merespons pengalaman. Ketika kita kehilangan sesuatu yang penting, munculnya sedih, kecewa, marah, bingung, atau bahkan rasa rindu merupakan hal yang dapat terjadi.

Karena itu, tidak apa-apa jika kamu menangis.

Tidak apa-apa jika beberapa hari terasa berat.

Tidak apa-apa jika kamu masih mengingatnya.

Dan tidak apa-apa jika prosesmu berbeda dari orang lain.

Alih-alih mengatakan, "Aku tidak boleh sedih," cobalah mengatakan:

"Aku sedang sedih karena kehilangan sesuatu yang berarti bagiku. Perasaan ini tidak nyaman, tetapi aku bisa melewatinya."

Perubahan kecil dalam cara kita berbicara kepada diri sendiri dapat membantu kita menghadapi emosi dengan lebih sehat.

Bukan berarti kamu harus terus larut dalam kesedihan. Artinya, kamu memberikan ruang kepada dirimu untuk mengakui bahwa kehilangan memang menyakitkan.

Kesedihan yang diakui dapat diproses. Sebaliknya, emosi yang terus ditekan justru dapat membuat seseorang semakin sulit memahami apa yang sebenarnya ia rasakan.

Jadi, jangan jadikan kesedihan sebagai sesuatu yang harus kamu lawan.

Anggap ia sebagai bagian dari perjalanan untuk menerima bahwa sebuah hubungan telah berakhir.

2. Berhenti Mengidealkan Masa Lalu

Setelah perpisahan, otak kita terkadang memiliki kecenderungan untuk terus mengingat hal-hal yang menyenangkan.

Kita mengingat bagaimana dia memperlakukan kita ketika sedang bahagia.

Kita mengingat percakapan panjang di malam hari.

Kita mengingat perjalanan bersama.

Kita mengingat perhatian kecil yang dulu diberikan.

Kemudian muncul pikiran:

"Mungkin sebenarnya dia adalah orang yang tepat."

"Bagaimana kalau aku tidak akan menemukan orang seperti dia lagi?"

"Seandainya waktu itu aku melakukan sesuatu dengan berbeda."

Masalahnya, ingatan tersebut sering kali tidak menggambarkan keseluruhan hubungan.

Sebuah hubungan tidak hanya terdiri dari momen-momen indah. Ada juga konflik, perbedaan, kekecewaan, kebutuhan yang tidak terpenuhi, dan alasan mengapa hubungan tersebut akhirnya berakhir.

Karena itu, ketika pikiran mulai mengidealkan masa lalu, cobalah melihat hubungan secara lebih utuh.

Tanyakan kepada dirimu:

Apa yang sebenarnya membuat hubungan ini berakhir?
Apakah kebutuhan emosional saya terpenuhi?
Bagaimana perasaan saya ketika berada dalam hubungan tersebut?
Masalah apa yang berulang kali muncul?
Apakah saya merindukan orangnya atau merindukan perasaan yang pernah saya dapatkan?
Apakah saya merindukan hubungan tersebut atau hanya takut menjalani kehidupan tanpa dirinya?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk membuatmu membenci mantan pasangan.

Tujuannya adalah membantu pikiran melihat realitas secara lebih seimbang.

Kita sering kali tidak merindukan seseorang setiap saat. Terkadang kita merindukan rasa aman, perhatian, kebersamaan, atau versi diri kita ketika masih berada dalam hubungan tersebut.

Membedakan hal-hal tersebut dapat membantu kita memahami apa yang sebenarnya sedang hilang.

3. Kurangi Pemicu yang Membuatmu Terus Terjebak

Di era media sosial, proses melupakan seseorang menjadi semakin rumit.

Dulu, setelah hubungan berakhir, kita mungkin hanya perlu berhadapan dengan foto atau barang-barang yang tersimpan di kamar.

Sekarang, seseorang yang sudah tidak lagi berada dalam hidup kita dapat tetap muncul di layar setiap hari.

Kita melihat unggahannya.

Kita melihat aktivitasnya.

Kita memperhatikan siapa yang memberikan komentar.

Kita bertanya-tanya apakah dia sudah menemukan orang baru.

Tanpa sadar, kita membuka media sosial bukan untuk mendapatkan informasi penting, tetapi untuk mencari sesuatu yang sebenarnya tidak akan membuat kita merasa lebih baik.

"Dia sedang apa?"

"Apakah dia bahagia?"

"Apakah dia sudah melupakanku?"

"Apakah dia punya pasangan baru?"

Setiap kali melakukan hal tersebut, kita kembali membawa perhatian kepada hubungan yang sebenarnya sedang berusaha kita lepaskan.

Karena itu, salah satu langkah yang dapat membantu adalah menciptakan jarak dari pemicu yang tidak perlu.

Kamu tidak harus melakukan sesuatu secara dramatis. Tidak selalu berarti harus membenci, memblokir, atau menghapus semua kenangan.

Namun, jika melihat unggahan seseorang terus membuat emosimu naik turun, kamu berhak membatasi paparan terhadap hal tersebut.

Misalnya dengan:

berhenti mengecek profilnya,
mengarsipkan foto yang terlalu memicu emosi,
membatasi percakapan untuk sementara waktu,
mengurangi kebiasaan mencari kabar tentang dirinya melalui teman,
dan menghindari aktivitas yang sengaja dilakukan hanya untuk mendapatkan reaksinya.

Jarak bukan berarti membenci.

Terkadang jarak justru merupakan bentuk perlindungan terhadap proses pemulihan diri.

Bayangkan seperti luka fisik. Jika luka terus disentuh, proses penyembuhannya bisa terganggu.

Begitu pula dengan luka emosional.

Kamu membutuhkan ruang untuk beradaptasi dengan kehidupan yang baru.

4. Kembalikan Rutinitas dan Identitasmu

Ketika berada dalam hubungan yang cukup lama, kehidupan seseorang bisa perlahan menyatu dengan kehidupan pasangannya.

Kita terbiasa memberi kabar.

Terbiasa membuat rencana bersama.

Terbiasa memiliki tempat favorit bersama.

Terbiasa mengambil keputusan dengan mempertimbangkan pasangan.

Bahkan beberapa impian masa depan mungkin sudah dibangun dengan membayangkan kehadiran orang tersebut.

Ketika hubungan berakhir, yang hilang bukan hanya pasangan.

Rutinitas juga berubah.

Dan perubahan rutinitas ini dapat membuat seseorang merasa kehilangan arah.

Karena itu, salah satu hal penting setelah perpisahan adalah membangun kembali struktur kehidupan sehari-hari.

Mulailah dari hal sederhana.

Bangun dan tidur pada waktu yang lebih teratur.

Kembali berolahraga.

Temui teman.

Kerjakan pekerjaan yang sempat terbengkalai.

Pelajari sesuatu yang baru.

Kembali melakukan hobi.

Pergi ke tempat yang ingin kamu kunjungi.

Bukan karena kamu harus berpura-pura bahagia, tetapi karena hidupmu perlu memiliki sumber makna yang tidak hanya berasal dari hubungan tersebut.

Lebih jauh lagi, cobalah mengenali kembali identitasmu.

Sebelum menjadi pasangan seseorang, kamu adalah individu dengan minat, nilai, impian, kemampuan, dan tujuanmu sendiri.

Tanyakan:

"Siapa diriku ketika tidak sedang menjadi pasangan seseorang?"

"Apa yang sebenarnya ingin aku lakukan untuk diriku sendiri?"

"Kehidupan seperti apa yang ingin aku bangun?"

Perpisahan memang dapat membuat seseorang kehilangan bagian dari kehidupannya.

Tetapi pada saat yang sama, perpisahan juga dapat menjadi kesempatan untuk menemukan kembali bagian diri yang mungkin selama ini terabaikan.

5. Ceritakan kepada Orang yang Aman untukmu

Kamu tidak harus menghadapi semuanya sendirian.

Ketika sedang terluka, kita terkadang ingin mengisolasi diri. Kita merasa orang lain tidak akan mengerti. Atau kita takut dianggap terlalu berlebihan karena masih memikirkan seseorang yang sudah pergi.

Padahal, memiliki seseorang yang dapat mendengarkan tanpa menghakimi dapat sangat berarti.

Pilih orang yang membuatmu merasa aman.

Bisa teman dekat, anggota keluarga, atau seseorang yang memang kamu percaya.

Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan.

Tujuan bercerita bukan untuk terus-menerus mengulang luka tanpa arah. Tujuannya adalah mendapatkan dukungan, perspektif, dan ruang untuk mengekspresikan perasaan.

Kamu bisa mengatakan:

"Aku sebenarnya tidak membutuhkan solusi. Aku hanya ingin didengarkan."

Kalimat sederhana seperti itu dapat membantu orang lain memahami apa yang kamu butuhkan.

Dan jika kesedihan terasa terlalu berat, berlangsung lama, atau mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, berbicara dengan psikolog atau profesional kesehatan mental juga merupakan pilihan yang valid.

Mencari bantuan bukan berarti kamu gagal menghadapi masalah.

Justru, meminta bantuan ketika membutuhkan dukungan adalah bentuk kepedulian terhadap diri sendiri.

6. Fokus pada Penerimaan, Bukan Memaksa untuk Melupakan

Mungkin ini adalah bagian yang paling penting.

Banyak orang menganggap bahwa berhasil move on berarti tidak lagi mengingat mantan.

Padahal, manusia tidak memiliki tombol untuk menghapus kenangan.

Seseorang bisa sudah sembuh tetapi tetap mengingat masa lalu.

Seseorang bisa sudah bahagia dengan kehidupannya tetapi sesekali masih merasa sedih ketika mengingat hubungan yang pernah dijalani.

Itu bukan kegagalan.

Tujuan pemulihan bukan membuat masa lalu tidak pernah terjadi.

Tujuannya adalah membuat masa lalu tidak lagi mengendalikan kehidupanmu.

Pada awalnya, mungkin kamu mengingatnya setiap hari.

Kemudian mungkin beberapa kali dalam seminggu.

Lalu semakin jarang.

Dan suatu hari, kamu menyadari bahwa kamu dapat mengingatnya tanpa merasakan sakit yang sama seperti sebelumnya.

Proses tersebut tidak selalu berjalan lurus.

Ada hari ketika kamu merasa sudah baik-baik saja.

Kemudian tiba-tiba sebuah lagu membuatmu kembali sedih.

Jangan menganggapnya sebagai kemunduran.

Pemulihan emosional memang dapat naik turun.

Cobalah mengganti pertanyaan:

"Kapan aku akan melupakannya?"

menjadi:

"Apa yang bisa aku lakukan hari ini untuk merawat diriku sendiri?"

Pertanyaan kedua jauh lebih berada dalam kendalimu.

Kamu Tidak Harus Segera Baik-Baik Saja

Perpisahan bukan perlombaan.

Tidak ada batas waktu universal yang menentukan kapan seseorang seharusnya sudah berhenti menangis, berhenti rindu, atau mulai membuka hati kembali.

Setiap orang memiliki pengalaman, kedekatan, dan cara menghadapi kehilangan yang berbeda.

Jadi, jangan membandingkan prosesmu dengan orang lain.

Mungkin seseorang yang baru putus beberapa minggu sudah terlihat bahagia. Itu bukan berarti dia lebih kuat darimu.

Mungkin ada orang yang membutuhkan waktu lebih lama. Itu juga bukan berarti dia lemah.

Yang penting adalah apakah kamu perlahan bergerak ke arah kehidupan yang lebih sehat.

Hari ini mungkin kamu hanya mampu melakukan hal sederhana.

Bangun dari tempat tidur.

Mandi.

Makan.

Bekerja.

Berjalan sebentar.

Berbicara dengan teman.

Itu pun sudah cukup.

Tidak semua kemajuan harus terlihat besar.

Terkadang, kemajuan terbesar adalah ketika kamu mulai memilih dirimu sendiri, meskipun sebagian hatimu masih ingin kembali ke masa lalu.

Pada akhirnya, perpisahan mungkin menjadi bagian dari cerita hidupmu.

Tetapi ia tidak harus menjadi akhir dari cerita tersebut.

Kamu masih memiliki banyak hal untuk dijalani, orang-orang untuk ditemui, pengalaman untuk dirasakan, dan versi dirimu yang belum kamu kenal.

Mungkin sekarang kamu belum bisa melihatnya.

Tidak apa-apa.

Ambil satu hari pada satu waktu.

Rasakan apa yang perlu dirasakan.

Jaga dirimu.

Bangun kembali rutinitasmu.

Beri jarak dari hal-hal yang terus membuka luka.

Cari dukungan ketika membutuhkannya.

Dan perlahan, izinkan dirimu menerima bahwa sesuatu telah berakhir.

Karena terkadang, sembuh bukan tentang berhenti mencintai masa lalu.

Sembuh adalah ketika kamu akhirnya bisa berkata:

"Aku pernah mencintai sesuatu yang berarti bagiku. Aku pernah kehilangan. Aku pernah terluka. Tetapi sekarang, aku memilih untuk tetap melanjutkan hidupku."

Dan mungkin, suatu hari nanti, kamu akan menyadari bahwa perpisahan yang dulu terasa seperti akhir ternyata hanya menjadi salah satu bagian dari perjalananmu menuju kehidupan yang lebih utuh.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore