Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 5 September 2026 | 21.17 WIB

7 Hal yang Paling Tidak Boleh Dikatakan kepada Pasangan, Menurut Psikologi

seseorang yang mengatakan hal yang salah kepada pasangannya / foto: Magnific/lookstudio

 

JawaPos.com - Dalam hubungan yang sehat, keterbukaan sering dianggap sebagai salah satu kunci utama. Pasangan dianjurkan untuk saling bercerita, mengungkapkan perasaan, membicarakan masalah, bahkan berani mengatakan hal-hal yang mungkin sulit didengar.

Namun, ada satu hal yang sering terlupakan: terbuka bukan berarti harus mengatakan semuanya tanpa mempertimbangkan dampaknya.

Ada perbedaan antara kejujuran dan mengatakan sesuatu secara impulsif. Ada pula perbedaan antara berbagi kerentanan dengan pasangan dan menggunakan kerentanan tersebut untuk melukai mereka.

Dalam psikologi hubungan, komunikasi yang sehat bukan sekadar tentang apa yang dikatakan, tetapi juga bagaimana, kapan, mengapa, dan untuk tujuan apa sesuatu disampaikan.

Bahkan pada hubungan yang sudah sangat lama, sangat dekat, dan terasa aman, ada beberapa jenis ucapan yang sebaiknya tidak dilontarkan sembarangan. Bukan karena pasangan harus hidup dalam kebohongan, melainkan karena kata-kata tertentu dapat meninggalkan luka yang jauh lebih panjang daripada pertengkarannya sendiri.

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (5/9), terdapat tujuh hal yang sebaiknya tidak dikatakan kepada pasangan, seberapa terbukapun hubungan kalian.

1. "Aku menyesal pernah bersamamu."

Ini mungkin terdengar seperti kalimat yang muncul ketika seseorang sedang sangat marah. Tetapi justru karena diucapkan saat emosi sedang tinggi, dampaknya bisa sangat besar.

Kalimat seperti ini bukan sekadar menyampaikan ketidakpuasan terhadap suatu masalah. Ia dapat terdengar sebagai penolakan terhadap seluruh hubungan.

Bayangkan perbedaannya:

"Aku kecewa dengan apa yang kamu lakukan."

dengan:

"Aku menyesal pernah bersamamu."

Kalimat pertama menyerang perilaku tertentu. Kalimat kedua dapat terasa seperti menyerang keberadaan pasangan dan seluruh sejarah hubungan.

Dalam konflik, perbedaan ini sangat penting.

Pasangan mungkin masih bisa memperbaiki perilaku yang dianggap salah. Namun, ketika seseorang mendengar bahwa keberadaan hubungan itu sendiri dianggap sebagai sebuah penyesalan, rasa aman emosional bisa terguncang.

Bukan berarti seseorang tidak boleh mengakui bahwa dirinya benar-benar menyesal atau mempertanyakan hubungannya. Jika perasaan tersebut memang serius dan berlangsung lama, tentu perlu dibicarakan.

Masalahnya adalah menjadikan kalimat tersebut sebagai senjata ketika sedang bertengkar.

Jika sebenarnya yang ingin disampaikan adalah, "Aku sangat terluka oleh kejadian ini," katakan hal tersebut.

Misalnya:

"Aku sangat kecewa dengan kejadian ini. Aku sampai mempertanyakan apakah hubungan kita sedang berjalan ke arah yang benar."

Pesannya tetap jujur, tetapi tidak sengaja menghancurkan rasa aman pasangan.

Mengapa kalimat ini berbahaya?

Karena konflik seharusnya menjadi kesempatan untuk menyelesaikan masalah, bukan membuat pasangan merasa bahwa hubungan mereka sewaktu-waktu dapat dicabut hanya karena satu pertengkaran.

Hubungan yang sehat membutuhkan rasa aman bahwa konflik tidak otomatis berarti hubungan akan berakhir.

2. "Kamu memang selalu seperti itu."

Kata "selalu" mungkin tampak sederhana, tetapi dalam pertengkaran kata ini sering mengubah masalah kecil menjadi konflik yang jauh lebih besar.

Contohnya:

Pasangan terlambat sekali.

Daripada mengatakan:

"Aku kesal kamu terlambat dan tidak memberi kabar."

seseorang mengatakan:

"Kamu memang selalu seperti itu."

Sekarang pembicaraan tidak lagi mengenai keterlambatan hari ini. Pasangan kemungkinan akan mulai membela diri dengan mengingat kejadian-kejadian ketika ia sebenarnya tidak terlambat.

Akibatnya, konflik melebar.

Hal yang sama berlaku untuk kata-kata seperti:

"Kamu nggak pernah mengerti aku."
"Kamu selalu egois."
"Kamu dari dulu memang begitu."
"Kamu nggak pernah berubah."

Masalahnya bukan hanya pada kata-kata tersebut, tetapi pada cara kita mengubah satu perilaku menjadi identitas seseorang.

Dalam komunikasi pasangan, kritik terhadap perilaku tertentu jauh lebih konstruktif daripada memberikan label terhadap kepribadian.

Daripada:

"Kamu memang egois."

coba:

"Aku merasa kebutuhan aku kurang dipertimbangkan dalam keputusan tadi."

Perbedaannya terlihat kecil, tetapi dampaknya sangat besar.

Kalimat pertama membuat seseorang merasa dirinya adalah masalah.

Kalimat kedua menunjukkan bahwa ada perilaku yang menjadi masalah.

Dan sesuatu yang merupakan perilaku masih bisa diperbaiki.

3. "Mantanmu dulu lebih baik."

Membandingkan pasangan dengan mantan adalah salah satu bentuk komunikasi yang sangat mudah menghancurkan kepercayaan diri dalam hubungan.

Terlebih ketika perbandingan tersebut menyangkut hal-hal yang sangat personal.

Contohnya:

"Mantan aku dulu lebih perhatian."

"Mantan aku lebih mengerti aku."

"Kalau sama dia, aku nggak perlu menjelaskan seperti ini."

Walaupun mungkin ada bagian dari masa lalu yang memang lebih baik, tidak semua hal perlu disampaikan dalam bentuk perbandingan.

Pasangan bukan peserta kompetisi dengan orang dari masa lalu.

Ketika seseorang terus-menerus dibandingkan dengan mantan, pertanyaan yang muncul di kepalanya mungkin bukan lagi, "Apa yang harus aku perbaiki?"

Melainkan:

"Sebenarnya kamu masih ingin bersama dia?"

Perbandingan semacam ini juga dapat menciptakan kecemasan dan rasa tidak cukup.

Jika ada kebutuhan yang belum terpenuhi, bicarakan kebutuhan tersebut secara langsung.

Daripada:

"Mantan aku jauh lebih romantis daripada kamu."

lebih sehat mengatakan:

"Aku sebenarnya senang kalau sesekali kamu menunjukkan perhatian kecil atau mengajakku melakukan sesuatu berdua."

Dengan begitu, pasangan mendapatkan informasi yang bisa digunakan untuk memahami kebutuhanmu, bukan sekadar informasi bahwa ia kalah dibandingkan seseorang dari masa lalu.

4. "Kalau kamu benar-benar mencintaiku, kamu pasti akan..."

Ini merupakan salah satu bentuk kalimat yang terlihat romantis tetapi sebenarnya dapat menjadi tekanan emosional.

Misalnya:

"Kalau kamu benar-benar cinta, kamu pasti mau melakukan ini."

"Kalau kamu sayang aku, kamu nggak mungkin menolak."

"Kalau kamu mencintaiku, kamu seharusnya tahu apa yang aku mau."

Masalahnya adalah cinta kemudian dijadikan alat untuk memaksa pasangan membuktikan dirinya.

Padahal, seseorang dapat mencintai pasangannya dan tetap memiliki batasan.

Seseorang dapat mencintai pasangannya dan mengatakan tidak.

Seseorang juga dapat mencintai pasangannya tetapi tidak selalu mampu memenuhi semua kebutuhan emosionalnya.

Hubungan yang sehat bukan hubungan di mana seseorang harus membuktikan cinta dengan selalu mengatakan "ya".

Cinta justru membutuhkan ruang bagi dua individu untuk memiliki kebutuhan, batasan, pendapat, dan keinginan yang berbeda.

Jika ada sesuatu yang kamu butuhkan, jauh lebih baik mengatakannya secara langsung.

Contohnya:

"Aku ingin kamu menemani aku karena saat ini aku sedang membutuhkan dukungan."

Ini jauh lebih sehat daripada:

"Kalau kamu cinta aku, kamu pasti mau menemani."

Yang pertama mengungkapkan kebutuhan.

Yang kedua memberikan tekanan.

5. "Aku cuma bertahan demi anak-anak."

Kalimat seperti ini sangat berat.

Dalam beberapa situasi, seseorang memang bisa merasa hubungannya sedang dipertahankan terutama demi anak. Jika perasaan tersebut benar-benar ada, masalahnya tentu perlu dibicarakan secara serius.

Namun, mengatakan hal tersebut sebagai ancaman ketika bertengkar dapat meninggalkan luka mendalam.

Pasangan dapat mulai mempertanyakan:

"Jadi selama ini kamu sebenarnya tidak memilih aku?"

Lebih buruk lagi, jika anak-anak mendengar atau merasa bahwa mereka menjadi alasan utama orang tua tetap bersama, mereka dapat memikul beban emosional yang sebenarnya bukan tanggung jawab mereka.

Masalah hubungan orang dewasa sebaiknya tidak dijadikan beban psikologis bagi anak.

Jika hubungan memang sedang berada dalam kondisi serius, pembicaraan harus dilakukan secara tenang dan dewasa.

Misalnya:

"Aku merasa hubungan kita sudah sangat jauh dari yang kita harapkan. Aku ingin kita serius mencari cara untuk memperbaikinya."

Ini berbeda dengan menggunakan kemungkinan perpisahan sebagai senjata.

6. "Aku tahu kelemahanmu, jadi jangan macam-macam."

Kalimat ini mengubah kepercayaan menjadi ancaman.

Dalam hubungan yang dekat, pasangan biasanya mengetahui banyak hal yang tidak diketahui orang lain: ketakutan, rasa tidak aman, pengalaman buruk, kegagalan, rahasia pribadi, bahkan bagian diri yang paling rentan.

Informasi tersebut seharusnya menjadi sesuatu yang dijaga.

Bukan amunisi.

Salah satu tanda hubungan yang aman adalah seseorang dapat mengatakan:

"Aku tahu bagian terlemahmu, tetapi aku tidak akan menggunakan pengetahuan itu untuk menghancurkanmu."

Karena itu, hindari menggunakan rahasia, trauma, kegagalan, kondisi keluarga, masalah masa lalu, atau rasa tidak percaya diri pasangan untuk memenangkan pertengkaran.

Contohnya:

"Pantas saja kamu seperti itu, dari kecil keluargamu memang bermasalah."

atau:

"Aku tahu kamu sebenarnya takut ditinggalkan. Makanya kamu begini."

Meskipun ada bagian yang mungkin benar, menyampaikan sesuatu dengan tujuan mempermalukan atau mengontrol pasangan dapat merusak rasa aman dalam hubungan.

Ada perbedaan besar antara memahami luka pasangan dan menggunakan luka tersebut untuk menyerang mereka.

7. "Kalau putus, aku akan..."

Ancaman adalah salah satu cara paling destruktif untuk mengelola konflik.

Misalnya:

"Kalau kamu melakukan itu lagi, kita putus."

"Aku akan pergi dan kamu tidak akan pernah melihatku lagi."

"Aku akan cari orang lain."

"Kalau kamu tidak berubah, aku akan menghancurkan semuanya."

Tentu ada situasi ketika seseorang memang sudah memutuskan untuk mengakhiri hubungan. Dalam kondisi tersebut, mengatakan keputusan secara jelas jauh lebih sehat daripada menggunakan putus sebagai ancaman berulang.

Masalahnya muncul ketika ancaman perpisahan digunakan setiap kali seseorang ingin mendapatkan sesuatu.

Lama-kelamaan pasangan dapat hidup dalam keadaan waspada:

"Kalau aku salah sedikit, hubungan ini akan berakhir."

Hubungan akhirnya tidak lagi terasa sebagai tempat aman untuk berdiskusi.

Perlu dibedakan antara batasan dan ancaman.

Batasan berbunyi:

"Aku tidak bisa terus berada dalam hubungan yang memiliki perselingkuhan. Kalau itu terjadi lagi, aku akan mempertimbangkan untuk mengakhiri hubungan ini."

Ancaman berbunyi:

"Kalau kamu nggak nurut sekarang, kita putus!"

Batasan menjelaskan apa yang seseorang akan lakukan untuk menjaga dirinya.

Ancaman digunakan untuk menekan orang lain agar tunduk.

Jadi, Apakah Pasangan Harus Menyembunyikan Sesuatu?

Tidak.

Poin pentingnya bukan bahwa pasangan harus menyimpan semua hal.

Justru hubungan yang sehat membutuhkan keterbukaan.

Tetapi keterbukaan bukan berarti tidak memiliki batas komunikasi.

Ada hal-hal yang sebaiknya dibicarakan.

Ada hal-hal yang sebaiknya disampaikan dengan cara yang lebih hati-hati.

Dan ada kalimat yang sebaiknya tidak digunakan sebagai senjata.

Kita bisa sangat jujur tanpa menjadi kejam.

Kita bisa menyampaikan kekecewaan tanpa merendahkan.

Kita bisa mengatakan tidak tanpa mempertanyakan cinta seseorang.

Dan kita bisa membicarakan masalah besar tanpa mengancam keberlangsungan hubungan setiap kali emosi meningkat.

Bukan "jangan pernah mengatakan sesuatu yang menyakitkan"

Tidak realistis mengharapkan hubungan yang sempurna tanpa kata-kata yang pernah salah.

Dalam hubungan jangka panjang, dua orang pasti bisa kehilangan kesabaran. Bisa salah bicara. Bisa menyesal setelah mengatakan sesuatu.

Yang membedakan hubungan sehat bukan apakah pasangan tidak pernah menyakiti satu sama lain, tetapi bagaimana mereka menangani kesalahan tersebut.

Jika terlanjur mengatakan sesuatu yang sangat menyakitkan, jangan hanya mengatakan:

"Aku kan cuma emosi."

Lebih baik akui dampaknya.

Misalnya:

"Aku salah karena mengatakan itu. Aku sedang marah, tetapi itu bukan alasan untuk menggunakan kata-kata tersebut untuk menyakitimu. Aku minta maaf."

Permintaan maaf seperti ini menunjukkan tanggung jawab.

Bukan sekadar mencari alasan.

Prinsip Sederhana: Serang Masalahnya, Bukan Pasangannya

Salah satu prinsip komunikasi yang paling berguna dalam hubungan adalah membedakan antara masalah dan identitas pasangan.

Masalah:

"Aku tidak suka ketika kamu membatalkan rencana tanpa memberi tahu."

Serangan pribadi:

"Kamu memang orang yang tidak bisa diandalkan."

Masalah:

"Aku merasa tidak didengarkan ketika aku sedang bercerita."

Serangan pribadi:

"Kamu memang tidak pernah peduli padaku."

Masalah:

"Aku ingin kita punya lebih banyak waktu berdua."

Serangan pribadi:

"Kamu lebih mementingkan semuanya daripada aku."

Dalam contoh pertama, pasangan masih memiliki kesempatan untuk memahami dan memperbaiki perilakunya.

Dalam contoh kedua, pasangan cenderung merasa diserang sehingga respons alaminya adalah membela diri.

Dan ketika dua orang sama-sama sibuk membela diri, masalah awal sering kali justru tidak pernah terselesaikan.

Seberapa Terbuka Seharusnya Sebuah Hubungan?

Jawabannya bukan "sebebas-bebasnya."

Hubungan yang sehat membutuhkan tiga hal sekaligus:

Kejujuran, empati, dan batasan.

Kejujuran tanpa empati dapat berubah menjadi kekejaman.

Empati tanpa kejujuran dapat berubah menjadi kepura-puraan.

Sementara keterbukaan tanpa batasan dapat membuat seseorang menganggap bahwa semua pikiran harus langsung diucapkan, bahkan ketika pikiran tersebut hanya muncul karena kemarahan sesaat.

Karena itu, sebelum mengatakan sesuatu kepada pasangan, ada baiknya berhenti sebentar dan bertanya:

"Apakah ini benar-benar perlu dikatakan?"

"Apakah aku mengatakan ini untuk menyelesaikan masalah atau untuk menyakiti?"

"Apakah aku sedang membicarakan perilakunya atau menyerang dirinya?"

"Apakah kalimat ini akan membantu pasangan memahami kebutuhanku?"

"Apakah aku akan tetap mengatakan hal yang sama ketika sudah tenang?"

Lima pertanyaan sederhana ini dapat mengubah cara seseorang berkomunikasi dalam hubungan.

Penutup

Kedekatan seharusnya membuat seseorang merasa aman untuk menjadi dirinya sendiri, bukan merasa bebas mengatakan apa pun tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain.

Semakin dekat hubungan, semakin besar pula kepercayaan yang diberikan.

Dan semakin besar kepercayaan, semakin besar tanggung jawab untuk menjaga apa yang telah dipercayakan.

Pasangan mungkin tahu kelemahan kita. Mereka mungkin tahu masa lalu kita. Mereka mungkin tahu ketakutan dan rasa tidak aman kita yang paling dalam.

Tetapi mengetahui sisi paling rentan seseorang seharusnya membuat kita lebih berhati-hati, bukan lebih bebas menggunakannya untuk menyerang.

Pada akhirnya, komunikasi yang sehat bukan tentang menjadi pasangan yang tidak pernah marah, tidak pernah kecewa, atau tidak pernah salah bicara.

Komunikasi yang sehat adalah kemampuan untuk mengatakan:

"Aku sedang marah, tetapi aku tetap menghargaimu."

"Aku tidak setuju denganmu, tetapi aku tidak perlu merendahkanmu."

"Aku terluka, dan aku ingin kamu memahami kenapa."

Dan yang paling penting:

"Kita sedang menghadapi masalah, tetapi kamu bukan musuhku."

Karena dalam hubungan yang sehat, tujuan sebuah percakapan bukanlah memenangkan pertengkaran.

Tujuannya adalah memahami satu sama lain dan menemukan cara agar hubungan bisa menjadi lebih baik.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore