seseorang yang berkomunikasi dengan penuh wibawa dan percaya diri / foto: Magnificr/awpixel.com
Ia tidak perlu meninggikan suara. Tidak menggunakan kata-kata yang rumit. Bahkan terkadang ia hanya mengatakan beberapa kalimat sederhana. Namun, entah mengapa, cara bicaranya terasa kuat, tenang, dan meyakinkan.
Di sisi lain, mungkin kita pernah berada dalam situasi ketika sebenarnya kita tahu apa yang ingin disampaikan, tetapi saat mulai berbicara, semuanya terasa berantakan. Kita terlalu cepat menjelaskan, terlalu banyak memberikan alasan, atau justru terus berbicara karena takut orang lain salah memahami kita.
Perbedaan tersebut sering kali bukan soal siapa yang lebih pintar.
Salah satu faktor yang berperan adalah cara seseorang mengelola dirinya ketika berkomunikasi.
Dalam psikologi, rasa percaya diri bukan sekadar merasa bahwa diri kita hebat. Percaya diri lebih dekat dengan kemampuan untuk tetap merasa cukup aman terhadap diri sendiri sehingga kita tidak terus-menerus membutuhkan persetujuan orang lain.
Sementara itu, wibawa dalam komunikasi bukan berarti terlihat galak, dingin, atau selalu memenangkan perdebatan. Wibawa justru sering muncul dari ketenangan, kejelasan, kemampuan mendengarkan, dan konsistensi antara ucapan dengan perilaku.
Kabar baiknya, kemampuan tersebut dapat dilatih.
Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (3/9), jika kamu ingin terlihat lebih berwibawa dan percaya diri ketika berkomunikasi, berikut tujuh cara yang bisa mulai kamu praktikkan.
1. Kurangi Kecepatan Bicaramu
Orang yang merasa gugup sering kali berbicara lebih cepat daripada biasanya.
Bukan karena mereka tidak memiliki sesuatu yang penting untuk dikatakan, tetapi karena pikiran mereka ingin segera "menyelesaikan" situasi yang terasa menegangkan.
Akibatnya, kata-kata keluar terlalu cepat. Napas menjadi pendek. Intonasi tidak teratur. Bahkan terkadang kita mulai mengucapkan kalimat berikutnya sebelum lawan bicara selesai memahami kalimat sebelumnya.
Cobalah memperlambat tempo bicaramu.
Bukan berarti berbicara dengan sangat lambat. Tujuannya adalah memberikan ruang di antara satu gagasan dengan gagasan berikutnya.
Misalnya, daripada mengatakan:
"Menurut saya sebenarnya kita harus menyelesaikan ini sekarang karena kalau tidak nanti akan semakin rumit dan saya rasa..."
Cobalah:
"Menurut saya, masalah ini perlu kita selesaikan sekarang."
Berhenti sebentar.
"Kalau kita menundanya, kemungkinan masalahnya akan menjadi lebih rumit."
Sederhana, tetapi terdengar jauh lebih mantap.
Jeda memberikan kesan bahwa kamu tidak sedang terburu-buru mencari penerimaan dari orang lain. Kamu terlihat seperti seseorang yang nyaman dengan apa yang sedang ia katakan.
Bahkan ketika kamu membutuhkan waktu untuk berpikir, tidak perlu takut menggunakan jeda.
Kamu boleh mengatakan:
"Sebentar, saya ingin memastikan jawaban saya tepat."
Kalimat seperti itu jauh lebih percaya diri daripada mengisi keheningan dengan "eee...", "anu...", atau penjelasan yang tidak perlu.
Jangan takut pada keheningan.
Dalam komunikasi, diam beberapa detik bukan berarti kamu kehilangan kendali. Justru terkadang, jeda menunjukkan bahwa kamu mampu mengendalikan dirimu.
2. Berhenti Terlalu Banyak Menjelaskan Diri
Salah satu kebiasaan yang dapat mengurangi kesan percaya diri adalah over-explaining, atau memberikan penjelasan jauh lebih banyak daripada yang sebenarnya diperlukan.
Contohnya, ketika seseorang meminta bantuan dan kamu tidak bisa melakukannya.
Kamu bisa saja mengatakan:
"Maaf, saya sepertinya tidak bisa membantu kali ini karena sebenarnya saya sedang cukup banyak pekerjaan. Bukannya saya tidak mau membantu, tetapi mungkin kalau saya membantu sekarang pekerjaan saya malah terlambat. Saya sebenarnya ingin membantu, hanya saja..."
Semakin panjang penjelasan tersebut, semakin terdengar seperti kamu sedang meminta izin untuk mengatakan "tidak".
Padahal, kamu tidak selalu membutuhkan pembenaran panjang untuk menetapkan batas.
Kamu bisa mengatakan:
"Maaf, saya belum bisa membantu kali ini karena ada pekerjaan yang harus saya selesaikan."
Selesai.
Tentu, ada situasi tertentu yang memang membutuhkan penjelasan lebih rinci. Namun, tidak semua keputusan harus dibungkus dengan puluhan alasan.
Orang yang percaya diri memahami bahwa ketidaksetujuan orang lain tidak otomatis berarti dirinya salah.
Ini bukan berarti menjadi keras kepala.
Justru orang yang percaya diri dapat berkata:
"Saya memahami pendapatmu, tetapi saya memiliki pandangan yang berbeda."
Atau:
"Saya mengerti alasanmu. Namun, untuk situasi ini, saya memilih cara yang berbeda."
Perhatikan perbedaannya.
Tidak menyerang.
Tidak defensif.
Tidak meminta maaf hanya karena memiliki pendapat.
Kamu hanya menyampaikan posisi dengan tenang.
3. Gunakan Kalimat yang Tegas, Bukan Agresif
Wibawa tidak sama dengan agresivitas.
Orang yang agresif berusaha mendominasi orang lain. Orang yang pasif cenderung mengorbankan dirinya agar tidak terjadi konflik.
Sementara itu, komunikasi asertif berada di tengah-tengah.
Kamu mampu menyampaikan kebutuhan, pendapat, batasan, atau ketidaksetujuan tanpa merendahkan orang lain.
Perhatikan beberapa perubahan kecil berikut.
Daripada:
"Kalau kamu tidak keberatan, mungkin kita bisa mempertimbangkan..."
Cobalah:
"Saya menyarankan kita mempertimbangkan pilihan ini."
Daripada:
"Maaf, mungkin saya terlalu sensitif, tapi saya merasa..."
Cobalah:
"Saya merasa kurang nyaman dengan cara penyampaiannya."
Daripada:
"Kalau memang tidak merepotkan, saya ingin meminta..."
Cobalah:
"Saya ingin meminta bantuan untuk hal ini."
Bukan berarti semua kalimat harus dibuat keras.
Yang penting adalah menghilangkan keraguan yang tidak diperlukan.
Kamu tidak perlu terdengar seperti seorang pemimpin setiap saat.
Kamu hanya perlu terdengar seperti seseorang yang jelas dengan apa yang ia maksudkan.
4. Belajar Mendengarkan Tanpa Sibuk Menyiapkan Jawaban
Ini mungkin terdengar paradoks.
Jika ingin terlihat berwibawa ketika berbicara, kamu justru perlu menjadi pendengar yang baik.
Mengapa?
Karena orang yang benar-benar percaya diri tidak merasa harus terus-menerus membuktikan dirinya melalui pembicaraan.
Ia tidak panik ketika orang lain mendapatkan giliran bicara.
Ia tidak sibuk menyusun bantahan ketika lawan bicara belum selesai berbicara.
Ia mendengarkan.
Dalam percakapan, cobalah benar-benar memperhatikan apa yang dikatakan orang lain.
Jangan langsung memotong.
Jangan buru-buru memberikan solusi.
Dan jangan mengubah setiap cerita orang menjadi cerita tentang dirimu sendiri.
Misalnya seseorang berkata:
"Saya sedang cukup stres dengan pekerjaan akhir-akhir ini."
Respons yang kurang efektif:
"Saya juga pernah begitu. Bahkan pekerjaan saya dulu lebih parah."
Respons yang lebih baik:
"Bagian mana yang paling membuatmu stres?"
Pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa kamu benar-benar hadir dalam percakapan.
Kemampuan mendengarkan juga membuatmu memiliki informasi lebih banyak sebelum memberikan respons.
Dan sering kali, orang yang paling berpengaruh dalam sebuah percakapan bukanlah orang yang paling banyak berbicara.
Melainkan orang yang paling mampu memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.
5. Jaga Kontak Mata, Postur, dan Bahasa Tubuh
Komunikasi tidak hanya berlangsung melalui kata-kata.
Ekspresi wajah, kontak mata, posisi tubuh, gestur tangan, dan intonasi ikut memengaruhi bagaimana pesan kita diterima.
Namun, jangan memahami hal ini sebagai keharusan untuk terus menatap mata seseorang tanpa berkedip.
Kontak mata yang alami lebih baik daripada tatapan yang dipaksakan.
Ketika berbicara dengan seseorang, sesekali arahkan pandangan kepadanya, kemudian biarkan pandangan bergerak secara natural.
Perhatikan juga postur tubuh.
Berdiri atau duduk dengan posisi yang tegak dan rileks.
Bahu tidak perlu terlalu kaku.
Kepala tidak terus-menerus menunduk.
Gerakan tangan tidak perlu berlebihan.
Yang paling penting, jangan mencoba "berakting percaya diri".
Tujuannya bukan membuat tubuh terlihat dominan.
Tujuannya adalah membuat tubuh berada dalam kondisi yang cukup tenang sehingga pesan yang kamu sampaikan terdengar lebih stabil.
Sebelum memasuki percakapan penting, kamu bisa melakukan satu hal sederhana:
tarik napas secara perlahan dan lepaskan ketegangan di bahu.
Tubuh yang lebih rileks dapat membantu mengurangi tanda-tanda gugup yang sering muncul ketika seseorang merasa tertekan.
6. Jangan Takut Mengatakan "Saya Tidak Tahu"
Salah satu tanda kepercayaan diri yang paling menarik justru adalah kemampuan mengakui keterbatasan.
Bayangkan seseorang bertanya:
"Apakah kamu tahu bagaimana cara menyelesaikan masalah ini?"
Ada dua kemungkinan respons.
Pertama:
"Ya, ya, saya tahu."
Padahal sebenarnya tidak tahu. Kemudian ia mulai memberikan jawaban yang semakin lama semakin tidak jelas.
Kedua:
"Saya belum tahu jawabannya."
Lalu:
"Saya perlu memeriksanya terlebih dahulu supaya tidak memberikan informasi yang keliru."
Respons kedua mungkin terdengar sederhana, tetapi justru menunjukkan kematangan.
Mengapa?
Karena kamu tidak merasa harus terlihat sempurna setiap saat.
Kamu mampu mengatakan:
"Saya tidak tahu."
"Saya perlu waktu untuk memikirkannya."
"Saya salah."
"Saya belum memahami bagian itu."
"Terima kasih, saya akan mempertimbangkannya."
Kalimat-kalimat tersebut tidak membuatmu terlihat lemah.
Dalam banyak situasi, justru sebaliknya.
Orang yang mampu mengakui kesalahan tanpa kehilangan harga diri biasanya terlihat lebih stabil daripada orang yang mati-matian mempertahankan sesuatu yang jelas-jelas keliru.
Percaya diri bukan berarti selalu benar.
Percaya diri berarti kamu tidak kehilangan nilai dirimu hanya karena ternyata kamu salah.
7. Berhenti Mencoba Membuat Semua Orang Menyukaimu
Ini mungkin bagian yang paling sulit.
Kita semua ingin diterima.
Kita ingin dianggap baik, pintar, menyenangkan, dan mudah diajak bekerja sama.
Namun, jika kebutuhan untuk disukai menjadi terlalu besar, komunikasi kita perlahan berubah.
Kita mulai mengatakan "iya" ketika sebenarnya ingin mengatakan "tidak".
Kita menyembunyikan pendapat agar tidak menimbulkan konflik.
Kita tertawa meskipun sebenarnya tidak merasa lucu.
Kita meminta maaf atas sesuatu yang bukan kesalahan kita.
Kita mengubah kepribadian tergantung siapa yang sedang berada di depan kita.
Lama-kelamaan, kita kehilangan satu hal penting:
kejelasan tentang siapa diri kita sendiri.
Orang yang berwibawa bukanlah orang yang disukai semua orang.
Itu hampir mustahil.
Orang yang berwibawa adalah orang yang dapat tetap bersikap hormat meskipun ia tidak mendapatkan persetujuan dari semua orang.
Ada perbedaan besar antara:
"Saya ingin semua orang menyukai saya."
dan:
"Saya ingin memperlakukan orang lain dengan baik, tetapi saya tidak bisa mengendalikan bagaimana mereka menilai saya."
Pola pikir kedua jauh lebih sehat.
Karena ketika kamu tidak lagi sibuk mengejar persetujuan semua orang, energimu bisa digunakan untuk sesuatu yang lebih penting: menyampaikan apa yang memang ingin kamu sampaikan.
Wibawa Tidak Dibangun dalam Satu Hari
Pada akhirnya, komunikasi yang penuh wibawa bukanlah tentang menemukan trik agar orang lain langsung menghormatimu.
Wibawa biasanya terbentuk secara perlahan melalui pola perilaku yang konsisten.
Kamu berbicara dengan tenang.
Kamu mendengarkan.
Kamu tidak mudah terpancing.
Kamu berani mengatakan tidak.
Kamu mengakui ketika tidak tahu.
Kamu tidak mengubah pendirian hanya karena mendapat tekanan.
Dan yang paling penting, kamu memperlakukan orang lain dengan hormat tanpa harus merendahkan dirimu sendiri.
Itulah mengapa kepercayaan diri yang sehat sebenarnya tidak terlalu berisik.
Ia tidak membutuhkan suara keras.
Tidak membutuhkan pakaian mahal.
Tidak membutuhkan kemampuan memenangkan setiap perdebatan.
Tidak membutuhkan usaha untuk terlihat paling pintar di ruangan.
Sering kali, kepercayaan diri justru terdengar seperti suara yang tenang:
"Saya memahami maksudmu."
"Saya memiliki pandangan yang berbeda."
"Saya tidak setuju dengan hal itu."
"Saya membutuhkan waktu untuk memikirkannya."
"Saya tidak tahu jawabannya."
"Maaf, saya tidak bisa melakukannya."
"Saya membuat kesalahan."
Kalimat-kalimat tersebut sederhana.
Tetapi ketika seseorang mampu mengucapkannya tanpa rasa takut berlebihan terhadap penilaian orang lain, di situlah kualitas komunikasi mulai berubah.
Mulailah dari Satu Kebiasaan
Kamu tidak perlu mengubah seluruh cara berkomunikasi dalam satu malam.
Pilih satu kebiasaan terlebih dahulu.
Misalnya, selama satu minggu, latih diri untuk berbicara sedikit lebih lambat.
Minggu berikutnya, latih diri untuk tidak memberikan penjelasan berlebihan.
Setelah itu, belajar mengatakan "tidak" tanpa merasa harus meminta maaf berkali-kali.
Kemudian, latih kemampuan untuk mendengarkan sampai orang lain selesai berbicara.
Perubahan kecil yang dilakukan berulang kali akan terasa jauh lebih alami daripada mencoba menjadi orang lain secara tiba-tiba.
Karena pada akhirnya, tujuan komunikasi yang penuh wibawa bukanlah membuat orang lain berpikir,
"Wow, orang ini sangat percaya diri."
Tujuan yang lebih penting adalah membuat dirimu sendiri merasa,
"Saya tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain hanya agar suara saya dianggap."
Dan ketika kamu sudah sampai pada titik itu, cara bicaramu biasanya akan berubah dengan sendirinya.
Lebih tenang.
Lebih jelas.
Lebih tegas.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Espanyol vs Sevilla di Liga Spanyol: Kans Los Nervionenses Curi Poin di RCDE Stadium
Prediksi Skor Marseille vs Paris FC di Liga Prancis: Kans Les Phocéens Pesta Gol di Stade Velodrome
Prediksi Skor Alaves vs Osasuna di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang di Mendizorrotza
Kecelakaan Maut! BYD M6 Diduga Error hingga Tak Bisa Direm dan Tabrak Trotoar di Jakbar
Prediksi Skor Parma vs Monza di Liga Italia: Duel Sengit Rawan Berakhir Imbang!
Prediksi Skor Malaga vs Levante: Laga Sengit yang Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Cagliari vs Lecce di Liga Italia: Duel Ketat di Sardinia Bisa Berakhir Imbang
Prediksi Skor Java United FC vs Garudayaksa: Laskar Kepodang Emas Bisa Menang Tipis
Prediksi Skor Heerenveen vs AZ Alkmaar di Liga Belanda: Kans De Kaasboeren Pesta Gol!
Dr. Iwan Aflanie, Pakar Forensik Indonesia untuk ULM yang Lebih Maju
