seseorang yang berusaha menjadi petualang / foto: Magnific/wirestock
Tidak perlu terlalu banyak pertimbangan. Tidak perlu menunggu teman. Tidak perlu memastikan semuanya sempurna. Mereka bisa berjalan sendiri, mencoba tempat baru, berbicara dengan orang yang belum dikenal, atau sekadar keluar rumah tanpa tujuan yang terlalu rumit.
Di sisi lain, ada orang yang sebenarnya ingin melakukan hal yang sama, tetapi selalu merasa berat untuk memulainya.
Bukan karena tidak suka bepergian. Bukan pula karena tidak memiliki rasa ingin tahu. Justru di dalam pikirannya terdapat banyak keinginan: ingin melihat tempat baru, ingin mencoba pengalaman berbeda, ingin lebih aktif, ingin memiliki cerita, dan ingin merasakan hidup yang lebih luas.
Namun ketika waktunya tiba, muncul berbagai pikiran:
“Besok saja.”
“Kayaknya sendirian akan membosankan.”
“Harus menyiapkan banyak hal.”
“Bagaimana kalau nanti tidak nyaman?”
“Tidak tahu mau pergi ke mana.”
“Di rumah juga sebenarnya enak.”
Akhirnya seseorang tetap berada di tempat yang sama.
Jika Anda mengalami hal seperti ini, masalahnya belum tentu karena Anda “tidak punya jiwa petualang”. Dalam psikologi, perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh kebiasaan, persepsi terhadap risiko, toleransi terhadap ketidakpastian, motivasi, dan cara seseorang merespons rasa tidak nyaman.
Kabar baiknya, kecenderungan tersebut dapat dilatih.
Anda tidak harus berubah menjadi orang yang spontan dalam semalam. Anda juga tidak harus melakukan perjalanan ekstrem. Jiwa petualang dapat dibangun melalui serangkaian tindakan kecil yang membuat otak semakin terbiasa dengan pengalaman baru.
Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (8/8), terdapat beberapa langkah yang dapat Anda coba.
1. Jangan Menunggu Sampai Muncul Keberanian
Salah satu kesalahan terbesar adalah menganggap bahwa kita harus merasa berani terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu.
Padahal sering kali urutannya justru sebaliknya.
Kita bertindak terlebih dahulu, kemudian keberanian tumbuh karena kita memiliki pengalaman bahwa ternyata kita mampu melakukannya.
Misalnya, seseorang ingin pergi ke sebuah kafe sendirian.
Ia mungkin berpikir:
“Kalau sudah percaya diri, nanti saya pergi.”
Masalahnya, rasa percaya diri tersebut mungkin tidak pernah datang jika ia tidak pernah memberikan kesempatan kepada dirinya untuk mencoba.
Karena itu, ubahlah pertanyaannya.
Bukan:
“Apakah saya sudah cukup berani untuk pergi?”
Melainkan:
“Apa langkah terkecil yang masih bisa saya lakukan meskipun saya belum sepenuhnya berani?”
Mungkin jawabannya hanya berjalan kaki selama 15 menit.
Mungkin pergi membeli sesuatu ke tempat yang belum pernah dikunjungi.
Mungkin duduk sendirian di taman.
Mungkin pergi ke toko buku di daerah lain.
Hal kecil seperti ini penting karena Anda sedang mengajari otak sebuah pengalaman baru:
“Ternyata saya bisa pergi sendiri.”
Pengalaman tersebut kemudian menjadi modal untuk melakukan hal yang sedikit lebih besar.
2. Latih Diri Keluar dari Zona Nyaman Secara Bertahap
Banyak orang salah memahami konsep comfort zone.
Mereka mengira cara menjadi pemberani adalah langsung melakukan sesuatu yang sangat menakutkan.
Padahal jika tantangannya terlalu besar, seseorang justru dapat merasa kewalahan dan akhirnya semakin menghindari pengalaman tersebut.
Pendekatan yang lebih masuk akal adalah meningkatkan tantangan secara bertahap.
Bayangkan Anda memiliki tangga.
Anak tangga pertama sangat mudah.
Anak tangga kedua sedikit lebih menantang.
Anak tangga berikutnya semakin sulit.
Anda tidak perlu langsung melompat ke anak tangga kesepuluh.
Misalnya:
Level 1: keluar rumah dan berjalan di sekitar lingkungan.
Level 2: pergi ke tempat yang belum pernah dikunjungi di sekitar kota.
Level 3: makan atau minum sendirian di tempat umum.
Level 4: pergi ke tempat wisata lokal seorang diri.
Level 5: melakukan perjalanan singkat ke kota lain.
Level 6: melakukan perjalanan yang lebih jauh dengan perencanaan sederhana.
Dengan pola seperti ini, pengalaman baru menjadi sesuatu yang semakin familiar.
Tujuannya bukan menghilangkan semua rasa takut.
Tujuannya adalah membuat Anda mampu berkata:
“Saya bisa tetap bergerak meskipun sedikit gugup.”
3. Biasakan Diri dengan Ketidakpastian
Salah satu alasan orang sulit menjadi spontan adalah karena mereka ingin mengetahui semuanya terlebih dahulu.
Ke mana harus pergi?
Bagaimana situasinya?
Apakah tempatnya nyaman?
Siapa yang akan ditemui?
Apakah perjalanan akan berjalan sesuai rencana?
Masalahnya, petualangan hampir selalu mengandung ketidakpastian.
Jika Anda menunggu sampai semuanya bisa diprediksi, kemungkinan besar Anda akan jarang mencoba sesuatu yang benar-benar baru.
Karena itu, salah satu kemampuan penting yang perlu dilatih adalah toleransi terhadap ketidakpastian.
Mulailah dari hal sederhana.
Misalnya, pilih satu sore untuk keluar tanpa menentukan setiap detail kegiatan.
Tentukan hanya:
kapan keluar,
area yang ingin dikunjungi,
batas waktu,
dan bagaimana cara pulang.
Selebihnya, biarkan diri Anda memilih ketika sudah berada di luar.
Anda mungkin menemukan jalan kecil, toko menarik, taman, perpustakaan, tempat makan, atau sudut kota yang sebelumnya tidak pernah diperhatikan.
Di situlah sebenarnya jiwa petualang mulai terbentuk.
Bukan karena Anda selalu tahu apa yang akan terjadi, tetapi karena Anda belajar bahwa tidak mengetahui semuanya bukan berarti sesuatu yang buruk akan terjadi.
4. Kurangi Ketergantungan pada Teman
Teman memang membuat perjalanan menjadi menyenangkan.
Namun ada jebakan yang sering terjadi.
Seseorang akhirnya membuat aturan tidak tertulis:
“Saya akan pergi kalau ada yang menemani.”
Akibatnya, aktivitas pribadi sangat bergantung pada jadwal orang lain.
Teman sibuk.
Teman tidak punya uang.
Teman sedang malas.
Teman memiliki rencana lain.
Akhirnya perjalanan tidak pernah terjadi.
Jika ingin memiliki jiwa petualang yang lebih mandiri, latih kemampuan melakukan aktivitas sederhana seorang diri.
Tidak perlu langsung bepergian jauh.
Mulailah dengan:
membeli makanan sendiri,
pergi ke toko buku,
menonton film,
bekerja dari kafe,
berjalan di taman,
mengunjungi museum,
menikmati pemandangan,
atau menjelajahi kawasan baru.
Pada awalnya mungkin terasa aneh.
Anda mungkin merasa semua orang memperhatikan Anda.
Namun sering kali itu hanyalah persepsi kita sendiri.
Orang lain sebenarnya terlalu sibuk dengan kehidupannya masing-masing untuk terus memperhatikan apa yang sedang kita lakukan.
Semakin sering Anda melakukan aktivitas sendiri, semakin normal rasanya.
5. Berhenti Menganggap Keluar Rumah Harus Selalu “Berguna”
Ada orang yang sulit keluar karena merasa setiap perjalanan harus memiliki tujuan yang jelas.
Kalau tidak ada urusan, untuk apa keluar?
Padahal eksplorasi tidak selalu harus produktif.
Anda boleh keluar hanya untuk melihat suasana.
Boleh berjalan tanpa membeli apa pun.
Boleh duduk di tempat baru.
Boleh menikmati perjalanan tanpa menghasilkan sesuatu.
Dalam kehidupan modern, kita sering terjebak dalam pola:
rumah → pekerjaan → tugas → hiburan digital → tidur → ulangi.
Jika semua aktivitas harus memiliki tujuan produktif, kehidupan dapat menjadi terlalu sempit.
Pergi keluar terkadang justru berguna karena memberikan variasi terhadap pengalaman sehari-hari.
Lingkungan baru memberikan rangsangan baru.
Pemandangan baru.
Suara baru.
Orang baru.
Situasi baru.
Semua itu dapat membuat kehidupan terasa lebih beragam.
Jadi, Anda tidak selalu membutuhkan alasan besar untuk pergi keluar.
Kadang-kadang:
“Saya ingin melihat sesuatu yang berbeda hari ini”
sudah cukup.
6. Gunakan Prinsip “Lima Menit”
Sering kali bagian paling sulit bukan perjalanan itu sendiri.
Bagian tersulit adalah memulai.
Anda sudah duduk.
Sudah nyaman.
Sudah membuka ponsel.
Kemudian muncul pikiran:
“Nanti saja.”
Untuk mengatasi hambatan awal ini, buat target yang sangat kecil.
Katakan kepada diri sendiri:
“Saya hanya perlu bersiap selama lima menit.”
Bangun.
Mandi.
Pakai pakaian.
Ambil barang.
Pakai sepatu.
Keluar dari kamar.
Setelah itu, jangan memikirkan seluruh perjalanan.
Fokus hanya pada langkah berikutnya.
Teknik seperti ini membantu mengurangi beban psikologis karena Anda tidak sedang memerintahkan diri untuk melakukan sesuatu yang besar.
Anda hanya meminta diri melakukan satu tindakan kecil.
Sering kali setelah tubuh mulai bergerak, hambatan mental ikut berkurang.
7. Buat “Daftar Petualangan Kecil”
Jangan menunggu inspirasi muncul secara spontan.
Buat daftar tempat dan aktivitas yang ingin Anda coba.
Contohnya:
mencoba kafe baru,
mengunjungi taman yang belum pernah didatangi,
naik transportasi umum ke kawasan yang belum dikenal,
mengunjungi museum,
mencoba restoran yang berbeda,
berjalan di kawasan kota lama,
melihat matahari terbit,
pergi ke perpustakaan,
mengunjungi pasar tradisional,
mengambil rute pulang yang berbeda,
melakukan perjalanan satu hari ke kota terdekat.
Kemudian tandai mana yang paling mudah dilakukan.
Tujuannya bukan membuat daftar perjalanan yang spektakuler.
Tujuannya adalah membuat otak memiliki pilihan konkret.
Karena sering kali masalahnya bukan tidak ingin pergi.
Masalahnya adalah:
“Mau pergi ke mana?”
Jika jawabannya sudah tersedia, hambatan untuk memulai menjadi lebih kecil.
8. Jangan Membandingkan Petualangan Anda dengan Orang di Media Sosial
Ini penting.
Anda mungkin melihat seseorang bepergian ke berbagai negara, mendaki gunung, naik kereta keliling kota, atau menjalani kehidupan yang terlihat sangat spontan.
Kemudian Anda melihat kehidupan sendiri dan berpikir:
“Kenapa saya tidak seperti itu?”
Perbandingan tersebut tidak selalu membantu.
Media sosial biasanya menampilkan bagian yang paling menarik dari kehidupan seseorang.
Anda tidak melihat seluruh prosesnya.
Anda tidak melihat rasa lelah.
Anda tidak melihat kebingungan.
Anda tidak melihat perjalanan yang batal.
Anda tidak melihat hari-hari ketika orang tersebut hanya tinggal di rumah.
Karena itu, jangan menjadikan kehidupan orang lain sebagai ukuran jiwa petualang Anda.
Seseorang bisa menjadi petualang dengan cara yang sangat sederhana.
Petualangan tidak harus berupa perjalanan internasional.
Kadang-kadang petualangan adalah berani mengunjungi tempat di kota sendiri yang selama ini tidak pernah didatangi.
9. Catat Pengalaman Setelah Pergi
Setelah melakukan perjalanan kecil, jangan langsung melupakannya.
Luangkan waktu beberapa menit untuk menulis:
Apa yang saya lakukan?
Apa yang awalnya saya takutkan?
Apa yang sebenarnya terjadi?
Apa hal menarik yang saya temukan?
Apakah saya menyesal sudah pergi?
Kebiasaan ini membantu Anda melihat perbedaan antara prediksi dan kenyataan.
Sebelum pergi, mungkin Anda berpikir:
“Pasti akan canggung.”
Tetapi setelah pulang, Anda menemukan:
“Ternyata biasa saja.”
Atau:
“Saya memang sempat tidak nyaman, tetapi saya bisa mengatasinya.”
Catatan seperti ini menjadi bukti pribadi.
Ketika nanti muncul keraguan lagi, Anda memiliki pengalaman sebelumnya yang dapat mengingatkan:
“Saya pernah merasa seperti ini, dan ternyata saya tetap bisa melakukannya.”
10. Belajar Menikmati Sedikit Rasa Tidak Nyaman
Menjadi petualang bukan berarti selalu merasa nyaman.
Justru bagian dari petualangan adalah menerima bahwa kadang-kadang Anda akan:
tersesat sedikit,
bingung,
merasa canggung,
lelah,
tidak tahu harus melakukan apa,
atau menghadapi sesuatu yang tidak sesuai rencana.
Jika setiap ketidaknyamanan dianggap sebagai tanda bahwa Anda harus pulang, kemampuan adaptasi tidak akan berkembang.
Cobalah membedakan antara bahaya dan ketidaknyamanan.
Bahaya perlu dihindari atau ditangani dengan serius.
Tetapi rasa canggung, malu, gugup, atau sedikit bingung tidak selalu berarti Anda berada dalam situasi yang buruk.
Kadang-kadang itu hanya tanda bahwa Anda sedang melakukan sesuatu yang belum familiar.
Kemampuan mengatakan:
“Saya tidak terlalu nyaman, tetapi saya masih aman dan bisa mengatasinya.”
adalah kemampuan yang sangat berguna.
11. Jadwalkan Petualangan, Jangan Hanya Mengandalkan Mood
Ini terdengar sederhana, tetapi sangat efektif.
Jika Anda hanya pergi ketika sedang ingin pergi, Anda akan sangat bergantung pada suasana hati.
Hari ini bersemangat.
Besok malas.
Lusa sibuk.
Akhirnya tidak ada perubahan.
Cobalah membuat aturan sederhana.
Misalnya:
Satu eksplorasi kecil setiap minggu.
Tidak perlu mahal.
Tidak perlu jauh.
Tidak perlu menghabiskan sepanjang hari.
Yang penting adalah konsistensi.
Dengan begitu, pergi keluar menjadi bagian dari rutinitas, bukan sesuatu yang hanya dilakukan ketika motivasi sedang tinggi.
12. Bangun Identitas Baru
Ada satu perubahan cara berpikir yang cukup penting.
Jangan terus mengatakan:
“Saya orang yang tidak suka keluar.”
atau:
“Saya memang tidak bisa pergi sendiri.”
Kalimat seperti itu terdengar seperti deskripsi, tetapi lama-lama dapat berubah menjadi identitas.
Cobalah menggunakan bahasa yang lebih terbuka:
“Saya sedang belajar lebih nyaman pergi sendiri.”
“Saya sedang melatih diri mencoba tempat baru.”
“Saya belum terbiasa, tetapi saya sedang membiasakannya.”
Perbedaannya kecil, tetapi maknanya besar.
Kalimat pertama membuat keadaan terasa permanen.
Kalimat kedua membuatnya terasa sebagai sesuatu yang dapat berkembang.
Anda tidak perlu membohongi diri sendiri dengan mengatakan, “Saya adalah orang paling berani.”
Cukup katakan:
“Saya sedang menjadi orang yang lebih berani mencoba.”
13. Jangan Menunggu Hidup Menjadi Sempurna
Ada alasan lain mengapa seseorang jarang bepergian atau mencoba hal baru.
Mereka menunggu kondisi ideal.
Menunggu punya lebih banyak uang.
Menunggu punya kendaraan yang lebih baik.
Menunggu ada teman.
Menunggu pekerjaan lebih santai.
Menunggu tubuh lebih fit.
Menunggu cuaca bagus.
Menunggu waktu yang tepat.
Sebagian penantian memang masuk akal.
Tetapi jika semua keputusan selalu ditunda sampai kondisi sempurna, Anda mungkin kehilangan banyak kesempatan.
Petualangan tidak selalu membutuhkan biaya besar.
Bahkan aktivitas sederhana di sekitar tempat tinggal dapat menjadi latihan.
Yang penting adalah menciptakan variasi dalam kehidupan dan memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk mengalami sesuatu yang baru.
14. Tetap Gunakan Perencanaan yang Sehat
Menjadi spontan bukan berarti ceroboh.
Ini juga penting.
Jiwa petualang yang sehat bukan berarti pergi tanpa mempertimbangkan keamanan.
Anda tetap perlu mengetahui hal-hal dasar:
lokasi yang dituju,
transportasi,
kondisi cuaca,
jam operasional,
biaya,
cara kembali,
baterai ponsel,
dan situasi keamanan setempat.
Perencanaan dasar justru dapat membuat Anda lebih berani karena ketidakpastian yang tidak perlu sudah dikurangi.
Tujuannya bukan mengontrol semuanya.
Tujuannya adalah menciptakan rasa aman yang cukup sehingga Anda berani mengeksplorasi.
15. Mulailah dengan “Petualangan Mikro”
Jika Anda benar-benar merasa sulit keluar, jangan langsung memaksakan perjalanan besar.
Cobalah membuat tantangan selama 30 hari.
Misalnya:
Hari 1: berjalan 10 menit di sekitar rumah.
Hari 3: membeli makanan di tempat berbeda.
Hari 5: mengunjungi taman baru.
Hari 7: duduk sendiri di kafe.
Hari 10: menggunakan rute berbeda.
Hari 14: mengunjungi tempat yang belum pernah dikunjungi.
Hari 18: pergi sendiri selama beberapa jam.
Hari 21: mencoba aktivitas baru.
Hari 25: mengunjungi kawasan berbeda.
Hari 30: melakukan perjalanan sehari.
Tidak perlu sempurna.
Yang penting adalah Anda terus memberikan pengalaman baru kepada diri sendiri.
Lama-kelamaan, sesuatu yang sebelumnya terasa besar bisa berubah menjadi aktivitas biasa.
Pada Akhirnya, Jiwa Petualang Adalah Keterampilan yang Bisa Dilatih
Banyak orang mengira bahwa jiwa petualang adalah sifat bawaan.
Seolah-olah seseorang dilahirkan sebagai pribadi pemberani, spontan, suka bepergian, dan mudah beradaptasi.
Padahal perilaku manusia jauh lebih kompleks.
Seseorang dapat memiliki kecenderungan tertentu, tetapi kebiasaan dan pengalaman juga memainkan peran besar dalam membentuk perilaku.
Anda tidak harus berubah menjadi orang yang selalu ingin bepergian.
Anda juga tidak harus menjadi orang yang tidak pernah takut.
Tujuan yang lebih realistis adalah menjadi seseorang yang tidak selalu membiarkan rasa takut, malas, atau ketidaknyamanan mengambil keputusan untuk dirinya.
Mulailah kecil.
Pergilah sedikit lebih jauh.
Cobalah tempat baru.
Sesekali lakukan sesuatu sendirian.
Biarkan rencana tidak selalu sempurna.
Terima bahwa sedikit gugup adalah hal normal.
Kemudian pulang dan perhatikan satu hal:
Anda ternyata mampu melakukannya.
Dari pengalaman kecil itulah kepercayaan diri mulai terbentuk.
Dan ketika dilakukan berulang kali, dunia yang sebelumnya terasa terlalu besar perlahan menjadi lebih mudah dijelajahi.
Mungkin pada akhirnya Anda bukan menjadi orang yang selalu pergi ke tempat jauh.
Tetapi Anda menjadi orang yang ketika muncul kesempatan berkata:
“Kenapa tidak saya coba?”
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Menkop Pastikan Gaji PNS Lewat Koperasi Mulai Tahun Ini, Tak Perlu Tunggu 2027
Prediksi Newcastle Jets vs Gamba Osaka di AFC Champions League Elite: Tim Tamu Diunggulkan Menang
Prediksi Skor Lens vs Sporting Lisbon di Liga Champions: Kedua Tim Incar Kemenangan Beruntun
Prediksi Skor Buriram United vs Beijing Guoan: The Imperial Guards Terancam Tertahan
Prediksi Skor Newcastle Jets vs Gamba Osaka: Pertahanan Rapuh Tuan Rumah Jadi Celah!
TPG Guru Non-ASN Belum Cair, PGRI Desak Kemendikdasmen dan Kemenkeu Berikan Kepastian
Prediksi Skor Pohang Steelers vs Johor Darul Ta’zim: Harimau Selatan Siap Terkam Tuan Rumah
Prediksi Skor Kyoto Sanga vs Ratchaburi: Duel Tim Pesakitan Rawan Berakhir Imbang!
Prediksi Skor Al Sadd vs Al Hilal: The Blue Waves Siap Menang Tipis di Doha
Prediksi Susunan Pemain Arsenal vs Lille: Gabriel Magalhaes Tetap Andalan Lini Belakang The Gunners

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022