Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 4 Agustus 2026 | 00.59 WIB

8 Alasan Mengapa Beberapa Pola Parenting yang Telah Direncanakan Kadang Tidak Berhasil

seseorang yang berusaha baik dalam parenting / foto: Magnific/javi_indy

 

JawaPos.com - Menjadi orang tua sering kali dimulai dengan berbagai rencana yang tampak sempurna. Sebelum memiliki anak, banyak orang membayangkan akan selalu sabar, konsisten dalam membuat aturan, tidak akan membentak, membatasi penggunaan gawai, hingga mampu mendidik anak dengan disiplin yang hangat.

Namun, ketika kehidupan sehari-hari benar-benar dijalani, kenyataannya sering kali jauh berbeda. Orang tua yang telah membaca banyak buku parenting pun tetap bisa kehilangan kesabaran. Aturan yang dibuat bersama pasangan terkadang tidak berjalan. Anak yang awalnya tampak kooperatif tiba-tiba menjadi sulit diatur.

Hal ini bukan berarti orang tua gagal. Dalam psikologi, perilaku anak merupakan hasil interaksi yang kompleks antara perkembangan otak, temperamen, lingkungan, hubungan dengan orang tua, hingga kondisi emosional seluruh anggota keluarga. Tidak ada satu metode yang selalu berhasil pada semua anak.

Dilansir dari Psychology Today pada Senin (3/8), terdapat delapan alasan mengapa strategi parenting yang sudah direncanakan terkadang tidak berjalan sesuai harapan, beserta pendekatan alternatif yang lebih sesuai dengan temuan psikologi modern.

1. Terlalu Fokus pada Metode, Kurang Memahami Karakter Anak

Banyak orang tua memilih metode parenting berdasarkan buku, media sosial, atau pengalaman keluarga. Sayangnya, setiap anak memiliki temperamen yang berbeda.

Dalam psikologi perkembangan dikenal adanya perbedaan temperamen bawaan, seperti:

anak yang mudah beradaptasi,
anak yang lebih sensitif,
anak yang sangat aktif,
anak yang membutuhkan waktu lebih lama untuk menerima perubahan.

Strategi yang berhasil pada anak pertama belum tentu efektif untuk anak kedua.

Misalnya, sistem hadiah mungkin membuat satu anak semakin termotivasi, tetapi pada anak lain justru memunculkan kebiasaan hanya mau melakukan sesuatu jika diberi imbalan.

Yang Bisa Dicoba

Alih-alih memaksakan metode tertentu, amati terlebih dahulu:

Apa yang membuat anak merasa aman?
Bagaimana cara anak merespons perubahan?
Apakah ia lebih membutuhkan arahan atau kesempatan memilih?

Pendekatan yang menyesuaikan karakter anak biasanya menghasilkan hubungan yang lebih positif dibandingkan menerapkan satu metode secara kaku.

2. Orang Tua Sedang Mengalami Kelelahan Emosional

Banyak rencana parenting gagal bukan karena metodenya buruk, melainkan karena orang tua kehabisan energi.

Kurang tidur, tekanan pekerjaan, masalah keuangan, hingga konflik rumah tangga dapat mengurangi kemampuan seseorang mengendalikan emosi.

Dalam kondisi stres, otak lebih mudah bereaksi secara impulsif dibandingkan berpikir rasional.

Akibatnya, orang tua yang sebenarnya ingin berbicara dengan tenang justru membentak atau memberikan hukuman yang tidak konsisten.

Yang Bisa Dicoba

Psikologi menekankan pentingnya regulasi emosi orang tua.

Beberapa langkah sederhana antara lain:

mengambil jeda sebelum merespons perilaku anak,
berbagi tanggung jawab pengasuhan,
menjaga kualitas tidur,
meluangkan waktu singkat untuk pemulihan diri.

Anak lebih membutuhkan orang tua yang cukup tenang daripada orang tua yang berusaha menjadi sempurna.

3. Ekspektasi Tidak Sesuai Tahap Perkembangan Anak

Sering kali orang tua berharap anak mampu melakukan sesuatu sebelum kemampuan otaknya benar-benar berkembang.

Contohnya:

balita diharapkan duduk diam terlalu lama,
anak usia tiga tahun diminta selalu berbagi,
anak prasekolah dianggap mampu mengendalikan emosinya seperti orang dewasa.

Padahal bagian otak yang berperan dalam pengendalian diri masih berkembang hingga usia dewasa muda.

Yang Bisa Dicoba

Sesuaikan harapan dengan usia perkembangan anak.

Daripada mengatakan:

"Kamu harus berhenti menangis sekarang."

lebih baik membantu anak mengenali emosinya:

"Ayah tahu kamu sedang kecewa. Yuk kita tenang dulu."

Pendekatan ini membantu anak belajar mengatur emosinya secara bertahap.

4. Terlalu Mengandalkan Hukuman

Hukuman memang dapat menghentikan perilaku tertentu dalam jangka pendek.

Namun, psikologi menunjukkan bahwa hukuman tidak selalu mengajarkan perilaku yang diharapkan.

Anak mungkin berhenti melakukan kesalahan saat diawasi, tetapi belum tentu memahami alasan mengapa perilaku tersebut tidak baik.

Dalam beberapa kasus, hukuman yang terlalu keras justru meningkatkan rasa takut, kebohongan, atau perilaku menentang.

Yang Bisa Dicoba

Fokus pada konsekuensi logis dan pembelajaran.

Misalnya:

jika anak menumpahkan mainan, ia ikut merapikannya,
jika merusak barang karena ceroboh, ia membantu memperbaikinya sesuai kemampuan.

Anak belajar bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi tanpa harus dipermalukan.

5. Kurangnya Konsistensi

Aturan yang berubah-ubah membuat anak bingung.

Hari ini boleh bermain gawai selama dua jam, besok dimarahi setelah tiga puluh menit.

Hari ini orang tua tertawa ketika anak berteriak, besok perilaku yang sama dihukum.

Ketidakkonsistenan membuat anak sulit memahami batasan.

Yang Bisa Dicoba

Buat beberapa aturan sederhana yang benar-benar dapat dijalankan.

Misalnya:

waktu tidur tetap,
waktu makan tanpa gawai,
menyimpan mainan setelah selesai bermain.

Jumlah aturan yang sedikit tetapi konsisten jauh lebih efektif daripada banyak aturan yang sering berubah.

6. Terlalu Sering Membandingkan dengan Anak Lain

Kalimat seperti:

"Lihat kakakmu."

"Temanmu saja bisa."

sering dimaksudkan sebagai motivasi.

Namun, penelitian psikologi menunjukkan bahwa perbandingan sosial lebih sering menurunkan rasa percaya diri dibandingkan meningkatkan motivasi.

Anak mulai merasa dirinya kurang mampu atau kurang dihargai.

Yang Bisa Dicoba

Bandingkan anak dengan perkembangan dirinya sendiri.

Misalnya:

"Hari ini kamu sudah lebih berani mencoba."

atau

"Kamu sudah lebih sabar dibanding minggu lalu."

Pendekatan ini membantu membangun motivasi dari dalam diri.

7. Komunikasi Lebih Banyak Berisi Perintah daripada Hubungan

Ketika rutinitas semakin padat, interaksi orang tua dan anak sering berubah menjadi rangkaian instruksi.

"Mandi."

"Belajar."

"Jangan lari."

"Rapikan."

Hubungan emosional menjadi berkurang.

Padahal anak lebih mudah bekerja sama ketika merasa terhubung secara emosional.

Yang Bisa Dicoba

Luangkan waktu berkualitas meskipun hanya 10–15 menit setiap hari.

Biarkan anak memilih permainan.

Dengarkan ceritanya tanpa mengoreksi.

Tatap matanya ketika berbicara.

Koneksi emosional sering menjadi fondasi utama agar anak lebih kooperatif.

8. Berusaha Menjadi Orang Tua yang Sempurna

Media sosial sering menampilkan gambaran keluarga yang selalu harmonis.

Hal ini membuat sebagian orang tua merasa bersalah ketika sesekali marah, lelah, atau melakukan kesalahan.

Padahal psikologi tidak menuntut orang tua sempurna.

Yang lebih penting adalah adanya hubungan yang cukup aman, hangat, dan mampu memperbaiki hubungan setelah terjadi konflik.

Jika orang tua sempat membentak lalu meminta maaf dengan tulus, anak justru belajar bahwa setiap orang dapat mengakui kesalahan dan memperbaikinya.

Yang Bisa Dicoba

Alih-alih mengejar kesempurnaan, fokuslah pada proses.

Beberapa kebiasaan kecil yang lebih realistis antara lain:

meminta maaf ketika salah,
mendengarkan perasaan anak,
memperbaiki komunikasi setelah konflik,
terus belajar tanpa menyalahkan diri sendiri.

Parenting yang baik bukan berarti tidak pernah melakukan kesalahan, tetapi memiliki kemauan untuk terus bertumbuh bersama anak.

Kesimpulan

Tidak ada metode parenting yang berhasil dalam setiap situasi. Anak berkembang seiring waktu, begitu pula orang tua. Rencana pengasuhan yang tampak ideal di atas kertas sering kali perlu disesuaikan dengan kondisi nyata di rumah.

Menurut psikologi, keberhasilan pengasuhan tidak ditentukan oleh seberapa sempurna aturan yang dibuat, melainkan oleh kualitas hubungan antara orang tua dan anak, kemampuan mengelola emosi, konsistensi dalam menerapkan batasan, serta kesediaan untuk memahami kebutuhan unik setiap anak.

Pada akhirnya, anak tidak membutuhkan orang tua yang selalu benar. Mereka membutuhkan sosok yang hadir, mau mendengarkan, memberikan rasa aman, dan bersedia memperbaiki hubungan ketika terjadi kesalahan. Dari hubungan yang hangat inilah kepercayaan diri, kemampuan mengelola emosi, dan karakter positif anak akan tumbuh secara alami seiring bertambahnya usia.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore