Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 5 Agustus 2026 | 04.16 WIB

7 Tanda Red Flag Bahwa Suatu Hubungan Sebaiknya Tidak Berlanjut ke Serius Menurut Psikologi

seseorang yang menemukan tanda red flag pada pasangan. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Menjalin hubungan romantis merupakan perjalanan yang penuh dengan harapan, kebahagiaan, sekaligus tantangan. Banyak orang berharap hubungan yang sedang dijalani dapat berakhir di pelaminan. Namun, tidak semua hubungan layak dipertahankan hingga ke tahap yang lebih serius.

Dalam psikologi hubungan, terdapat berbagai tanda atau red flag yang menunjukkan bahwa sebuah hubungan berpotensi menjadi tidak sehat. Red flag bukan berarti pasangan harus sempurna atau tidak pernah berbuat salah. Setiap orang memiliki kekurangan dan bisa melakukan kesalahan. Yang menjadi perhatian adalah ketika perilaku negatif terus berulang, tidak ada keinginan untuk berubah, dan justru merusak kesehatan mental maupun emosional pasangan.

Mengenali red flag sejak dini dapat membantu seseorang mengambil keputusan yang lebih bijak sebelum hubungan berkembang menjadi komitmen yang lebih besar, seperti pertunangan atau pernikahan.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (4/8), terdapat tujuh tanda red flag menurut perspektif psikologi yang menunjukkan bahwa sebuah hubungan mungkin sebaiknya tidak dilanjutkan ke jenjang yang lebih serius.

1. Pasangan Terlalu Mengontrol Kehidupan Anda

Dalam hubungan yang sehat, masing-masing individu tetap memiliki ruang untuk menjadi dirinya sendiri. Psikologi menyebut kebutuhan ini sebagai autonomy, yaitu kemampuan seseorang untuk tetap memiliki kebebasan mengambil keputusan dalam hidupnya.

Namun, hubungan mulai menjadi tidak sehat ketika pasangan ingin mengendalikan hampir semua aspek kehidupan Anda, seperti:

Mengatur siapa yang boleh ditemui.
Meminta akses seluruh akun media sosial.
Selalu ingin mengetahui lokasi setiap saat.
Marah ketika Anda menghabiskan waktu bersama keluarga atau teman.
Menentukan cara berpakaian atau berpenampilan.

Perilaku ini sering kali dibungkus dengan alasan "karena sayang" atau "aku cuma khawatir". Padahal, jika kontrol tersebut membuat Anda kehilangan kebebasan dan merasa tertekan, hal itu merupakan bentuk hubungan yang tidak sehat.

Dalam jangka panjang, pasangan yang sangat mengontrol dapat membuat seseorang kehilangan rasa percaya diri dan merasa bergantung sepenuhnya kepada pasangannya.

2. Tidak Ada Rasa Saling Percaya

Kepercayaan merupakan fondasi utama dalam hubungan jangka panjang.

Menurut psikologi, hubungan yang sehat dibangun melalui rasa aman (secure attachment). Sebaliknya, hubungan yang dipenuhi kecurigaan terus-menerus akan memicu stres kronis.

Beberapa tandanya antara lain:

Selalu menuduh tanpa bukti.
Memeriksa ponsel secara diam-diam.
Menuduh berselingkuh hanya karena membalas pesan teman.
Menuntut laporan setiap aktivitas.

Sekali atau dua kali rasa cemburu masih dianggap wajar. Namun jika kecurigaan menjadi pola yang terus berulang tanpa alasan yang jelas, hubungan tersebut dapat berubah menjadi hubungan yang penuh tekanan emosional.

Hubungan serius membutuhkan kepercayaan yang kuat. Tanpa itu, konflik akan terus muncul meski masalah sebenarnya tidak pernah ada.

3. Komunikasi Selalu Berakhir dengan Pertengkaran

Perbedaan pendapat adalah hal yang normal. Yang membedakan hubungan sehat dan tidak sehat adalah cara menyelesaikan konflik.

Dalam psikologi hubungan, pasangan yang sehat mampu:

Mendengarkan sebelum bereaksi.
Menghargai sudut pandang pasangan.
Mencari solusi bersama.
Mau meminta maaf ketika salah.

Sebaliknya, red flag muncul ketika setiap diskusi selalu berubah menjadi:

Bentakan.
Makian.
Sindiran.
Mengungkit kesalahan lama.
Silent treatment (mendiamkan pasangan sebagai hukuman).

Jika pola komunikasi seperti ini terus berlangsung, hubungan akan dipenuhi rasa takut, bukan rasa nyaman.

Komunikasi yang buruk juga menjadi salah satu prediktor terbesar kegagalan hubungan dalam berbagai penelitian psikologi.

4. Pasangan Tidak Menghargai Batasan Pribadi

Setiap orang memiliki batasan (personal boundaries), baik secara fisik, emosional, finansial, maupun sosial.

Pasangan yang sehat akan menghormati batasan tersebut meskipun tidak selalu setuju.

Contoh pelanggaran batasan meliputi:

Memaksa melakukan sesuatu yang tidak diinginkan.
Meminjam uang tanpa menghargai keberatan pasangan.
Membuka rahasia pribadi kepada orang lain.
Memaksa bertemu ketika pasangan sedang ingin sendiri.
Mengabaikan kata "tidak".

Menghormati batasan menunjukkan adanya rasa hormat terhadap identitas dan hak individu.

Jika pasangan terus mengabaikan batasan yang sudah dijelaskan berkali-kali, kemungkinan besar perilaku tersebut akan semakin buruk ketika hubungan menjadi lebih serius.

5. Sering Melakukan Manipulasi Emosional

Manipulasi emosional merupakan salah satu red flag yang paling sulit dikenali karena sering dilakukan secara halus.

Pelaku manipulasi biasanya membuat pasangannya merasa bersalah agar mendapatkan apa yang diinginkan.

Beberapa contoh manipulasi emosional antara lain:

"Kalau kamu benar-benar sayang, kamu pasti mau."
"Semua ini salah kamu."
"Aku begini karena kamu."
Membuat pasangan merasa bersalah setiap kali menolak permintaan.
Mengancam akan pergi jika keinginannya tidak dipenuhi.

Dalam psikologi, perilaku seperti ini dapat berkembang menjadi hubungan yang bersifat manipulatif bahkan abusif.

Lama-kelamaan korban akan mulai meragukan dirinya sendiri dan merasa semua kesalahan berasal darinya.

6. Nilai Hidup dan Tujuan Masa Depan Sangat Berbeda

Cinta memang penting, tetapi kesamaan visi juga tidak kalah penting.

Hubungan serius akan menghadapi berbagai keputusan besar, seperti:

Menikah atau tidak.
Memiliki anak.
Cara mengatur keuangan.
Tempat tinggal.
Prioritas karier.
Nilai keluarga.

Jika sejak awal kedua belah pihak memiliki tujuan hidup yang bertolak belakang dan tidak ada titik kompromi, konflik besar kemungkinan akan muncul di masa depan.

Psikologi menyebut kesamaan nilai inti (core values) sebagai salah satu faktor penting dalam kepuasan hubungan jangka panjang.

Perbedaan hobi masih bisa disatukan, tetapi perbedaan nilai hidup sering kali jauh lebih sulit untuk dikompromikan.

7. Kekerasan Fisik atau Verbal Sudah Mulai Muncul

Ini merupakan red flag paling serius.

Kekerasan tidak selalu berbentuk pukulan.

Kekerasan juga dapat berupa:

Menghina terus-menerus.
Mempermalukan pasangan.
Membentak.
Mengancam.
Melempar barang.
Mendorong.
Menampar.
Menjambak.
Mengintimidasi.

Sering kali kekerasan dimulai dari hal-hal kecil, kemudian meningkat seiring waktu.

Banyak pelaku meminta maaf setelah melakukan kekerasan, berjanji tidak akan mengulanginya, lalu mengulang kembali perilaku yang sama.

Dalam psikologi dikenal adanya cycle of abuse, yaitu siklus kekerasan yang terdiri dari fase ketegangan, ledakan emosi, permintaan maaf, lalu kembali mengulangi perilaku tersebut.

Jika kekerasan sudah muncul, jangan menganggapnya sebagai tanda cinta yang berlebihan. Keselamatan fisik dan kesehatan mental harus menjadi prioritas utama.

Mengapa Red Flag Sering Diabaikan?

Banyak orang tetap bertahan dalam hubungan yang tidak sehat karena berbagai alasan, seperti:

Takut sendirian.
Sudah terlalu lama bersama.
Berharap pasangan akan berubah.
Merasa sudah banyak berkorban.
Takut mengecewakan keluarga.
Terlalu mencintai pasangan.

Fenomena ini dikenal dalam psikologi sebagai sunk cost fallacy, yaitu kecenderungan mempertahankan sesuatu hanya karena sudah menginvestasikan banyak waktu, tenaga, atau perasaan, meskipun kenyataannya hubungan tersebut tidak lagi sehat.

Apa yang Sebaiknya Dilakukan?

Jika Anda mulai menemukan beberapa red flag di atas, jangan terburu-buru mengambil keputusan. Lakukan evaluasi hubungan secara objektif.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

Bicarakan masalah secara terbuka dengan pasangan.
Perhatikan apakah pasangan benar-benar mau berubah.
Tetapkan batasan yang jelas.
Mintalah pendapat dari keluarga atau teman yang objektif.
Konsultasikan dengan psikolog jika hubungan mulai memengaruhi kesehatan mental.

Perubahan yang nyata ditunjukkan melalui tindakan yang konsisten, bukan sekadar janji.

Kesimpulan

Hubungan yang sehat bukanlah hubungan tanpa konflik, melainkan hubungan yang dipenuhi rasa saling menghormati, kepercayaan, komunikasi yang baik, serta komitmen untuk tumbuh bersama.

Tujuh red flag menurut psikologi yang patut diwaspadai adalah: pasangan terlalu mengontrol, tidak adanya rasa saling percaya, komunikasi yang destruktif, tidak menghargai batasan pribadi, manipulasi emosional, perbedaan nilai hidup yang mendasar, serta munculnya kekerasan fisik maupun verbal.

Mengenali tanda-tanda tersebut sejak dini bukan berarti mudah menyerah dalam hubungan, melainkan bentuk kepedulian terhadap kesehatan emosional dan masa depan. Hubungan yang layak dipertahankan adalah hubungan yang membuat kedua belah pihak merasa aman, dihargai, dan mampu berkembang menjadi pribadi yang lebih baik, bukan hubungan yang dipenuhi rasa takut, tekanan, dan luka emosional.
***

Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore