Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 19 Juli 2026 | 04.52 WIB

Benarkah "Panic Pouch" Bisa Meredakan Kecemasan? Psikolog Sebut Ada Dampak yang Perlu Diwaspadai

ilustrasi gambar dari pinterest
ilustrasi gambar dari pinteres
 
JawaPos.com - Tren membawa "panic pouch" atau tas kecil berisi benda-benda penenang semakin populer, terutama di kalangan orang yang sering mengalami kecemasan.
 
Isi tas tersebut biasanya berupa fidget toy, minyak lavender, permen asam, obat antimual, botol minum, hingga obat antikecemasan.
 
Meski benda-benda tersebut dapat memberikan rasa aman saat serangan panik muncul, para ahli mengingatkan bahwa kebiasaan ini justru berpotensi memperpanjang gangguan panik jika terus dijadikan andalan.
 
Gangguan panik (panic disorder) ditandai dengan serangan panik yang datang tiba-tiba disertai gejala fisik seperti jantung berdebar, sesak napas, pusing, hingga rasa takut akan kehilangan kendali atau meninggal dunia.
 
Kondisi ini sering membuat penderitanya menghindari berbagai situasi yang dianggap dapat memicu serangan panik, termasuk olahraga, mengonsumsi kafein, atau bepergian ke tempat tertentu.
 
Menurut pendekatan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) yang selama ini dianggap sebagai terapi paling efektif untuk gangguan panik, tujuan utama pengobatan bukanlah menghindari serangan panik, melainkan mengubah cara seseorang meresponsnya.
 
Terapi ini membantu pasien memahami bahwa gejala panik tidak berbahaya, sehingga rasa takut terhadap serangan tersebut perlahan berkurang.
 
CBT juga melibatkan latihan paparan (exposure therapy) untuk membiasakan tubuh menghadapi sensasi panik tanpa menghindarinya.
 
Dalam proses terapi, penggunaan safety objects atau benda yang dianggap memberikan rasa aman, termasuk isi "panic pouch", secara bertahap akan dikurangi.
 
Alasannya, jika seseorang selalu merasa harus membawa benda tertentu agar berani beraktivitas, maka otak akan terus mempercayai bahwa situasi tersebut memang berbahaya.
 
Akibatnya, ketergantungan terhadap benda-benda tersebut justru mempertahankan siklus kecemasan.
 
Meski begitu, para psikolog menegaskan bahwa mengurangi penggunaan panic pouch bukan berarti dilakukan secara mendadak tanpa pendampingan.
 
Pada beberapa tahap terapi, benda penenang masih dapat digunakan sebagai langkah awal sebelum akhirnya dilepas secara bertahap.
 
Bagi mereka yang telah bertahun-tahun hidup dengan gangguan panik, mendapatkan terapi berbasis bukti ilmiah seperti CBT tetap menjadi cara paling efektif untuk memperoleh pemulihan jangka panjang dibanding hanya mengandalkan benda-benda penenang.
 
 
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore