Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 19 Juli 2026 | 04.51 WIB

Mengapa Remaja Enggan Ikut Terapi? Psikolog Ungkap Pendekatan yang Lebih Tepat

ilustrasi terapi diri / Foto: pinterest
ilustrasi terapi diri / Foto: pinteres
 
JawaPos.com – Sering kali orang tua merasa frustrasi ketika anak remajanya menolak mengikuti terapi atau konseling.
 
Niat membantu justru sering berakhir menjadi perdebatan karena remaja merasa dipaksa atau dianggap sebagai "masalah" yang harus diperbaiki.
 
Padahal, menurut para ahli, cara orang tua menyampaikan dukungan sering kali lebih menentukan daripada isi pesannya.
 
Dilansir dari Psychology today, penolakan terhadap terapi merupakan respons yang cukup umum pada masa remaja.
 
Anak sedang belajar membangun kemandirian dan ingin memiliki kendali atas keputusan hidupnya. 
 
Ketika terapi dipaksakan, mereka cenderung menganggapnya sebagai ancaman terhadap kebebasan, sehingga memilih menolak meski sebenarnya membutuhkan bantuan.
 
Salah satu pendekatan yang sering digunakan dalam Dialectical Behavior Therapy (DBT) adalah validasi emosi.
 
Artinya, orang tua berusaha mengakui bahwa perasaan anak dapat dimengerti tanpa harus menyetujui semua pendapatnya. 
 
Misalnya, ketika remaja mengatakan terapi terasa mengganggu privasinya, respons seperti, "Aku mengerti kenapa kamu merasa tidak nyaman," akan lebih efektif dibanding langsung membantah atau memaksanya berubah.
 
Selain itu adalah dialectical thinking, menerima dua hal yang tampak bertentangan sekaligus. 
 
Orang tua dapat menerima kondisi anak apa adanya saat ini, namun tetap berharap ia berkembang di masa depan.
 
Pendekatan ini membantu mengurangi pola pikir "harus setuju sekarang atau semuanya gagal" yang sering memicu konflik berkepanjangan.
 
Tiga langkah sederhana yang disarankan dalam berkomunikasi dengan remaja. Pertama, validasi perasaan mereka sebelum memberikan saran.
 
Kedua, lebih banyak bertanya daripada memerintah agar anak merasa memiliki pilihan.
 
Ketiga, jaga ketenangan saat berdiskusi karena remaja lebih peka terhadap nada suara dan bahasa tubuh dibanding kata-kata yang diucapkan orang tua.
 
Perubahan sering kali tidak dimulai ketika remaja akhirnya berkata "ya" pada terapi, melainkan ketika suasana hubungan di rumah menjadi lebih aman dan penuh kepercayaan.
 
Orang tua juga dapat menawarkan alternatif selain terapi individual, seperti kelas pengembangan keterampilan atau sesi pengenalan bersama konselor.
 
Dengan komunikasi yang lebih terbuka dan penuh empati, peluang remaja untuk menerima bantuan akan tumbuh secara alami, bukan karena tekanan.
 
 
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore