Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 29 Juni 2026 | 02.06 WIB

8 Tanda yang Banyak Orang Tahu Bahwa Kamu Berpura-Pura Baik-Baik Saja dalam Hidupmu Menurut Psikologi

seseorang yang berpura-pura baik / foto: Magnific/freepik - Image

seseorang yang berpura-pura baik / foto: Magnific/freepik

JawaPos.com - "Aku baik-baik saja." Kalimat ini mungkin menjadi salah satu jawaban yang paling sering diucapkan ketika seseorang sedang mengalami masa sulit. Sayangnya, tidak semua orang yang mengucapkannya benar-benar berada dalam kondisi yang baik. Dalam psikologi, fenomena ini dikenal sebagai masking emotions atau menyembunyikan emosi, yaitu ketika seseorang berusaha menampilkan citra bahwa semuanya baik-baik saja, padahal di dalam dirinya sedang terjadi pergulatan emosional yang berat.

Banyak orang melakukan hal ini karena tidak ingin merepotkan orang lain, takut dianggap lemah, menjaga citra diri, atau merasa bahwa tidak ada yang benar-benar akan memahami perasaannya. Namun, meskipun kata-kata dapat disembunyikan, bahasa tubuh, kebiasaan, dan perubahan perilaku sering kali mengungkapkan apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Dilansir dari Expert Editor pada Sabtu (27/6), terdapat delapan tanda yang menurut psikologi sering menunjukkan bahwa seseorang sedang berpura-pura baik-baik saja.

1. Terlalu Sering Mengatakan "Aku Baik-Baik Saja"

Ironisnya, orang yang benar-benar baik biasanya tidak perlu terus-menerus meyakinkan orang lain bahwa dirinya baik.

Dalam psikologi komunikasi, seseorang yang sedang menutupi emosi cenderung menggunakan jawaban singkat dan berulang untuk menghindari pembicaraan lebih dalam. Mereka berharap percakapan segera berakhir sehingga tidak perlu menjelaskan apa yang sebenarnya sedang dirasakan.

Jika setiap kali ditanya kabarnya ia selalu menjawab dengan cepat, "Aku baik kok," tanpa ekspresi yang sesuai atau langsung mengalihkan pembicaraan, bisa jadi itu adalah mekanisme pertahanan diri.

Hal ini bukan berarti setiap orang yang mengatakan dirinya baik sedang berbohong. Namun, jika pola tersebut berlangsung terus-menerus disertai perubahan perilaku lainnya, patut diperhatikan.

2. Senyumnya Terlihat Dipaksakan

Psikologi membedakan antara senyum tulus dan senyum yang dibuat-buat.

Senyum yang tulus biasanya melibatkan otot di sekitar mata sehingga mata tampak ikut "tersenyum". Sebaliknya, senyum yang dipaksakan sering kali hanya melibatkan bibir, sementara mata tetap terlihat lelah, kosong, atau kurang hidup.

Orang yang sedang memendam tekanan emosional sering menggunakan senyum sebagai "topeng sosial" agar orang lain tidak khawatir.

Mereka tampak ceria di depan banyak orang, tetapi begitu sendirian, ekspresi wajahnya langsung berubah.

3. Selalu Sibuk Agar Tidak Punya Waktu Memikirkan Perasaannya

Sebagian orang mengatasi rasa sedih dengan menyibukkan diri secara berlebihan.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore