
seseorang yang berpura-pura baik / foto: Magnific/freepik
JawaPos.com - "Aku baik-baik saja." Kalimat ini mungkin menjadi salah satu jawaban yang paling sering diucapkan ketika seseorang sedang mengalami masa sulit. Sayangnya, tidak semua orang yang mengucapkannya benar-benar berada dalam kondisi yang baik. Dalam psikologi, fenomena ini dikenal sebagai masking emotions atau menyembunyikan emosi, yaitu ketika seseorang berusaha menampilkan citra bahwa semuanya baik-baik saja, padahal di dalam dirinya sedang terjadi pergulatan emosional yang berat.
Banyak orang melakukan hal ini karena tidak ingin merepotkan orang lain, takut dianggap lemah, menjaga citra diri, atau merasa bahwa tidak ada yang benar-benar akan memahami perasaannya. Namun, meskipun kata-kata dapat disembunyikan, bahasa tubuh, kebiasaan, dan perubahan perilaku sering kali mengungkapkan apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Dilansir dari Expert Editor pada Sabtu (27/6), terdapat delapan tanda yang menurut psikologi sering menunjukkan bahwa seseorang sedang berpura-pura baik-baik saja.
1. Terlalu Sering Mengatakan "Aku Baik-Baik Saja"
Ironisnya, orang yang benar-benar baik biasanya tidak perlu terus-menerus meyakinkan orang lain bahwa dirinya baik.
Dalam psikologi komunikasi, seseorang yang sedang menutupi emosi cenderung menggunakan jawaban singkat dan berulang untuk menghindari pembicaraan lebih dalam. Mereka berharap percakapan segera berakhir sehingga tidak perlu menjelaskan apa yang sebenarnya sedang dirasakan.
Jika setiap kali ditanya kabarnya ia selalu menjawab dengan cepat, "Aku baik kok," tanpa ekspresi yang sesuai atau langsung mengalihkan pembicaraan, bisa jadi itu adalah mekanisme pertahanan diri.
Hal ini bukan berarti setiap orang yang mengatakan dirinya baik sedang berbohong. Namun, jika pola tersebut berlangsung terus-menerus disertai perubahan perilaku lainnya, patut diperhatikan.
2. Senyumnya Terlihat Dipaksakan
Psikologi membedakan antara senyum tulus dan senyum yang dibuat-buat.
Senyum yang tulus biasanya melibatkan otot di sekitar mata sehingga mata tampak ikut "tersenyum". Sebaliknya, senyum yang dipaksakan sering kali hanya melibatkan bibir, sementara mata tetap terlihat lelah, kosong, atau kurang hidup.
Orang yang sedang memendam tekanan emosional sering menggunakan senyum sebagai "topeng sosial" agar orang lain tidak khawatir.
Mereka tampak ceria di depan banyak orang, tetapi begitu sendirian, ekspresi wajahnya langsung berubah.
3. Selalu Sibuk Agar Tidak Punya Waktu Memikirkan Perasaannya
Sebagian orang mengatasi rasa sedih dengan menyibukkan diri secara berlebihan.

Prediksi Skor Afrika Selatan vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Penentu Les Rouges Lolos 16 Besar
Prediksi Skor Aljazair vs Austria di Piala Dunia 2026: Tiket 32 Besar Dipertaruhkan, Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Kroasia vs Ghana di Piala Dunia 2026: Duel Penentu Tiket 32 Besar, Hasil Imbang Skenario Paling Masuk Akal
Prediksi Skor Brasil vs Jepang di Piala Dunia 2026: Kans Selecao Lolos 16 Besar Lewat Adu Penalti
Prediksi Skor RD Kongo vs Uzbekistan di Piala Dunia 2026: Duel Sengit di Laga Terakhir Fase Grup
Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris PT Krakatau Posco, Netizen: Muak Sekali
Prediksi Skor Panama vs Inggris: Three Lions Sedang Tak Ideal, Harry Kane Ingin Kembali ke Jalur Gol
Prediksi Skor Jerman vs Paraguay di Piala Dunia 2026: Der Panzer Bisa Amankan Tiket 16 Besar dalam 90 Menit
Prediksi Afrika Selatan vs Kanada di 32 Besar Piala Dunia 2026: Bafana Bafana Ukir Sejarah!
Prediksi Skor Selandia Baru vs Belgia di Piala Dunia 2026: Pembuktian Romelu Lukaku Belum Habis!
