
seseorang yang berbuat baik bahkan setelah terluka / foto: Magnific/dotshock
JawaPos.com - Dalam kehidupan, hampir setiap orang pernah mengalami kekecewaan, pengkhianatan, penolakan, atau perlakuan yang tidak adil. Pengalaman-pengalaman tersebut sering meninggalkan luka emosional yang mendalam. Tidak sedikit orang yang kemudian menjadi lebih tertutup, sinis, atau sulit mempercayai orang lain.
Namun, ada sekelompok orang yang tetap mampu menunjukkan kebaikan meskipun pernah disakiti. Mereka tidak membalas keburukan dengan keburukan. Mereka tetap menghormati orang lain, membantu ketika mampu, dan mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan yang mereka yakini.
Psikologi menunjukkan bahwa perilaku seperti ini bukanlah tanda kelemahan. Sebaliknya, kemampuan untuk tetap berbuat baik setelah mengalami luka emosional sering kali didukung oleh sejumlah kekuatan mental dan emosional yang sangat kuat.
Dilansir dari Expert Editor pada Kamis (25/6), terdapat delapan kekuatan teguh yang sering dimiliki oleh orang-orang tersebut.
1. Ketahanan Emosional (Resilience)
Salah satu karakteristik paling menonjol dari orang yang tetap baik setelah terluka adalah ketahanan emosional atau resilience.
Ketahanan emosional bukan berarti seseorang tidak merasakan sakit. Mereka tetap merasakan sedih, marah, kecewa, atau terluka seperti orang lain. Bedanya, mereka tidak membiarkan pengalaman buruk tersebut mendefinisikan seluruh hidup mereka.
Mereka mampu bangkit kembali setelah mengalami kesulitan. Mereka melihat penderitaan sebagai bagian dari perjalanan hidup, bukan sebagai alasan untuk kehilangan jati diri.
Penelitian psikologi menunjukkan bahwa individu dengan tingkat resilience yang tinggi cenderung lebih mampu mengelola stres, menjaga hubungan sosial yang sehat, dan mempertahankan pandangan hidup yang positif meskipun menghadapi tantangan berat.
2. Empati yang Mendalam
Banyak orang mengira bahwa pengalaman buruk akan membuat seseorang menjadi keras. Namun pada sebagian orang, luka justru memperdalam empati mereka.
Karena pernah merasakan sakit, mereka lebih memahami penderitaan orang lain. Mereka tahu bagaimana rasanya diabaikan, dikhianati, atau diremehkan. Pengalaman tersebut membuat mereka lebih berhati-hati dalam memperlakukan sesama.
Alih-alih berkata, “Saya pernah menderita, jadi orang lain juga harus merasakannya,” mereka memilih pendekatan yang berbeda: “Saya pernah menderita, jadi saya tidak ingin orang lain mengalami hal yang sama.”
Empati seperti ini menjadi sumber kebaikan yang sangat kuat dan tulus.
3. Kemampuan Mengendalikan Diri

Prediksi Skor Afrika Selatan vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Penentu Les Rouges Lolos 16 Besar
Prediksi Skor Aljazair vs Austria di Piala Dunia 2026: Tiket 32 Besar Dipertaruhkan, Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Kroasia vs Ghana di Piala Dunia 2026: Duel Penentu Tiket 32 Besar, Hasil Imbang Skenario Paling Masuk Akal
Prediksi Skor Brasil vs Jepang di Piala Dunia 2026: Kans Selecao Lolos 16 Besar Lewat Adu Penalti
Prediksi Skor RD Kongo vs Uzbekistan di Piala Dunia 2026: Duel Sengit di Laga Terakhir Fase Grup
Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris PT Krakatau Posco, Netizen: Muak Sekali
Prediksi Skor Panama vs Inggris: Three Lions Sedang Tak Ideal, Harry Kane Ingin Kembali ke Jalur Gol
Prediksi Skor Jerman vs Paraguay di Piala Dunia 2026: Der Panzer Bisa Amankan Tiket 16 Besar dalam 90 Menit
Prediksi Afrika Selatan vs Kanada di 32 Besar Piala Dunia 2026: Bafana Bafana Ukir Sejarah!
Prediksi Skor Selandia Baru vs Belgia di Piala Dunia 2026: Pembuktian Romelu Lukaku Belum Habis!
