
seseorang yang meminta maaf karena menangis / foto: Magnific/prostock-studio
JawaPos.com - Menangis adalah respons manusia yang alami. Air mata bukan tanda kelemahan, melainkan salah satu cara tubuh dan pikiran melepaskan tekanan, mengungkapkan kesedihan, atau bahkan merespons kebahagiaan yang mendalam. Namun, tidak sedikit orang yang secara refleks berkata, “Maaf, aku terlalu emosional,” atau “Maaf, aku menangis.”
Jika kamu termasuk orang yang pernah meminta maaf hanya karena menunjukkan kesedihan, kemungkinan kebiasaan itu tidak muncul begitu saja. Menurut psikologi, cara kita memandang emosi sering kali dibentuk sejak masa kanak-kanak dan remaja. Pengalaman yang berulang dapat membuat seseorang percaya bahwa menangis adalah sesuatu yang memalukan atau merepotkan orang lain.
Dilansir dari Expert Editor pada Rabu (24/6), terdapat tujuh pengalaman yang mungkin pernah kamu alami saat tumbuh dewasa jika kamu terbiasa meminta maaf karena menangis.
1. Emosi Kamu Sering Dianggap Berlebihan
Saat kecil, mungkin kamu sering mendengar kalimat seperti:
“Jangan cengeng.”
“Kamu terlalu sensitif.”
“Masalah kecil saja kok menangis.”
Kalimat-kalimat semacam ini bisa membuat seseorang belajar bahwa perasaannya tidak valid. Akibatnya, ketika dewasa, muncul keyakinan bahwa menunjukkan emosi berarti membuat situasi menjadi tidak nyaman bagi orang lain.
Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai emotional invalidation, yaitu ketika emosi seseorang terus-menerus diabaikan, diremehkan, atau dianggap tidak penting. Lama-kelamaan, seseorang bisa terbiasa menekan perasaan dan merasa bersalah ketika akhirnya tidak mampu menahannya.
2. Kamu Tumbuh Dalam Lingkungan yang Mengutamakan Kekuatan dan Ketahanan
Sebagian keluarga menganggap ketegaran sebagai nilai yang sangat penting. Tidak ada yang salah dengan mengajarkan ketahanan, tetapi masalah muncul ketika emosi dipandang sebagai tanda kelemahan.
Mungkin kamu dibesarkan dengan pesan seperti:
“Orang kuat tidak menangis.”
“Jangan tunjukkan kesedihan di depan orang lain.”
“Selesaikan masalah sendiri.”
Pesan-pesan tersebut dapat membuat seseorang belajar untuk selalu tampak baik-baik saja, bahkan ketika sebenarnya sedang terluka. Akibatnya, ketika air mata akhirnya keluar, muncul dorongan otomatis untuk meminta maaf.
3. Kamu Terbiasa Menjadi Penjaga Perasaan Orang Lain
Ada orang yang sejak kecil terbiasa menjadi “anak yang baik”, yang selalu berusaha menjaga suasana rumah tetap tenang. Mereka belajar untuk tidak merepotkan orang tua atau anggota keluarga lainnya.

Prediksi Skor Paraguay vs Australia di Piala Dunia 2026: Berebut Tiket 32 Besar Namun Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Swiss vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Tancap Gas Bombardir Gawang La Nati
Prediksi Skor Turki vs Amerika Serikat di Piala Dunia 2026: The Stars & Stripes Berburu Rekor Sempurna di Fase Grup
Prediksi Skor Jepang vs Swedia di Piala Dunia 2026: Samurai Biru Incar Tiket 32 Besar di Laga Penentuan
Prediksi Skor Afrika Selatan vs Korea Selatan di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Wajib Menang Demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Tunisia vs Belanda di Piala Dunia 2026: Oranje Wajib Menang demi Amankan Tiket 32 Besar
Profil Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra yang Konsisten Mengkritik Program MBG
Prediksi Skor Bosnia dan Herzegovina vs Qatar di Piala Dunia 2026: Mimpi Buruk Al-Annabi Belum Usai
Prediksi Skor Curacao vs Pantai di Piala Dunia 2026: Misi Les Éléphants Menang demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Maroko vs Haiti di Piala Dunia 2026: Achraf Hakimi Cs Siap Pesta Gol di Laga Penentuan
