Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 26 Juni 2026 | 02.05 WIB

Jika Kamu Pernah Meminta Maaf Karena Menangis, Kamu Mungkin Pernah Alami 7 Hal Ini Saat Tumbuh Dewasa Menurut Psikologi

seseorang yang meminta maaf karena menangis / foto: Magnific/prostock-studio - Image

seseorang yang meminta maaf karena menangis / foto: Magnific/prostock-studio

JawaPos.com - Menangis adalah respons manusia yang alami. Air mata bukan tanda kelemahan, melainkan salah satu cara tubuh dan pikiran melepaskan tekanan, mengungkapkan kesedihan, atau bahkan merespons kebahagiaan yang mendalam. Namun, tidak sedikit orang yang secara refleks berkata, “Maaf, aku terlalu emosional,” atau “Maaf, aku menangis.”

Jika kamu termasuk orang yang pernah meminta maaf hanya karena menunjukkan kesedihan, kemungkinan kebiasaan itu tidak muncul begitu saja. Menurut psikologi, cara kita memandang emosi sering kali dibentuk sejak masa kanak-kanak dan remaja. Pengalaman yang berulang dapat membuat seseorang percaya bahwa menangis adalah sesuatu yang memalukan atau merepotkan orang lain.

Dilansir dari Expert Editor pada Rabu (24/6), terdapat tujuh pengalaman yang mungkin pernah kamu alami saat tumbuh dewasa jika kamu terbiasa meminta maaf karena menangis.

1. Emosi Kamu Sering Dianggap Berlebihan

Saat kecil, mungkin kamu sering mendengar kalimat seperti:

“Jangan cengeng.”
“Kamu terlalu sensitif.”
“Masalah kecil saja kok menangis.”

Kalimat-kalimat semacam ini bisa membuat seseorang belajar bahwa perasaannya tidak valid. Akibatnya, ketika dewasa, muncul keyakinan bahwa menunjukkan emosi berarti membuat situasi menjadi tidak nyaman bagi orang lain.

Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai emotional invalidation, yaitu ketika emosi seseorang terus-menerus diabaikan, diremehkan, atau dianggap tidak penting. Lama-kelamaan, seseorang bisa terbiasa menekan perasaan dan merasa bersalah ketika akhirnya tidak mampu menahannya.

2. Kamu Tumbuh Dalam Lingkungan yang Mengutamakan Kekuatan dan Ketahanan

Sebagian keluarga menganggap ketegaran sebagai nilai yang sangat penting. Tidak ada yang salah dengan mengajarkan ketahanan, tetapi masalah muncul ketika emosi dipandang sebagai tanda kelemahan.

Mungkin kamu dibesarkan dengan pesan seperti:

“Orang kuat tidak menangis.”
“Jangan tunjukkan kesedihan di depan orang lain.”
“Selesaikan masalah sendiri.”

Pesan-pesan tersebut dapat membuat seseorang belajar untuk selalu tampak baik-baik saja, bahkan ketika sebenarnya sedang terluka. Akibatnya, ketika air mata akhirnya keluar, muncul dorongan otomatis untuk meminta maaf.

3. Kamu Terbiasa Menjadi Penjaga Perasaan Orang Lain

Ada orang yang sejak kecil terbiasa menjadi “anak yang baik”, yang selalu berusaha menjaga suasana rumah tetap tenang. Mereka belajar untuk tidak merepotkan orang tua atau anggota keluarga lainnya.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore