Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 26 Juni 2026 | 02.00 WIB

7 Tanda Halus bahwa Seseorang Mungkin Sebenarnya Tidak Baik, Mereka Hanya Takut Akan Konflik Menurut Psikologi

seseorang yang sebenarnya tidak baik / foto: Magnific/katemangostar - Image

seseorang yang sebenarnya tidak baik / foto: Magnific/katemangostar

JawaPos.com - Banyak orang menganggap seseorang yang selalu ramah, jarang membantah, dan hampir tidak pernah marah sebagai pribadi yang baik. Namun, psikologi menunjukkan bahwa kebaikan dan penghindaran konflik bukanlah hal yang sama.

Orang yang benar-benar baik biasanya bertindak berdasarkan empati, integritas, dan kepedulian terhadap orang lain. Sementara itu, sebagian orang terlihat menyenangkan hanya karena mereka takut ditolak, dikritik, atau menghadapi ketegangan. Mereka lebih memilih menghindari konflik daripada mengungkapkan apa yang sebenarnya mereka pikirkan.

Sekilas, kedua tipe ini tampak serupa. Namun, seiring waktu, perbedaannya mulai terlihat.

Dilansir dari Expert Editor pada Rabu (24/6), terdapat tujuh tanda halus bahwa seseorang mungkin sebenarnya bukan orang yang benar-benar baik, melainkan hanya takut menghadapi konflik.

1. Mereka Selalu Mengatakan “Ya”, tetapi Sering Tidak Menepati Janji

Pada awalnya, mereka tampak sangat membantu. Apa pun permintaan yang diajukan, jawabannya hampir selalu "ya".

Masalahnya, mereka sering gagal memenuhi komitmen tersebut.

Menurut psikologi, orang yang takut konflik cenderung mengatakan apa yang ingin didengar orang lain karena mereka tidak nyaman mengecewakan siapa pun. Mereka lebih takut mengatakan "tidak" daripada menghadapi konsekuensi dari janji yang tidak ditepati.

Akibatnya, orang lain merasa dikecewakan, meskipun tidak pernah ada penolakan secara langsung.

Orang yang benar-benar baik mungkin tidak selalu mengatakan "ya", tetapi ketika mereka berkomitmen, mereka berusaha memegang kata-kata mereka.

2. Mereka Tampak Ramah di Depan, tetapi Mengeluh di Belakang

Salah satu tanda paling umum dari penghindaran konflik adalah ketidakmampuan menyampaikan ketidaksetujuan secara langsung.

Alih-alih mengatakan, "Saya tidak setuju dengan keputusan itu," mereka memilih tersenyum di depan, lalu melampiaskan rasa kesal kepada orang lain.

Psikologi menyebut perilaku ini sebagai bentuk komunikasi pasif-agresif. Mereka menghindari konfrontasi langsung, tetapi emosi negatif tetap muncul dalam bentuk gosip, sindiran, atau keluhan tersembunyi.

Orang yang tulus biasanya mampu menyampaikan ketidaknyamanan dengan cara yang jujur dan penuh hormat, tanpa harus membicarakan orang lain di belakang.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore