
Fakta tentang avoidant attachment menurut psikologi (Pexels/www.kaboompics.com)
JawaPos.com - Apakah seseorang yang cenderung menjaga jarak emosional akan semakin sulit menjalin hubungan seiring bertambahnya usia?
Pertanyaan ini sering muncul dalam pembahasan avoidant attachment, terutama ketika seseorang merasa semakin nyaman sendiri dan sulit membuka diri.
Menurut psikologi, avoidant attachment adalah pola keterikatan yang biasanya terbentuk sejak masa kecil.
Anak dengan pola ini cenderung menekan kebutuhan emosionalnya dan tidak bergantung pada orang lain.
Seiring waktu, kebiasaan tersebut berkembang menjadi cara bertahan diri, yaitu dengan menghindari kedekatan emosional agar tidak terluka.
Pola Emosi yang Semakin Kuat
Dilansir dari simplyphysicology, seiring bertambahnya usia individu avoidant biasanya semakin terbiasa menekan emosi.
Awalnya, hal ini terasa membantu karena membuat mereka terhindar dari rasa sakit. Namun, jika terus dilakukan, mereka bisa kesulitan memahami perasaan sendiri.
Menariknya, bukan hanya emosi negatif yang dihindari, tetapi juga emosi positif.
Perasaan bahagia atau kedekatan bisa terasa tidak nyaman karena membuka peluang untuk hubungan yang lebih dalam. Akibatnya, mereka cenderung menjaga jarak dan terlihat 'dingin'.
Selain itu, meski terlihat tenang, tubuh tetap bisa merespons stres. Karena emosi tidak diungkapkan, tekanan ini bisa menumpuk dan berdampak dalam jangka panjang.
Hubungan yang Semakin Menantang
Dalam hubungan, pola avoidant yang tidak disadari bisa menjadi semakin kuat. Orang tersebut mungkin lebih memilih hubungan yang tidak terlalu dalam atau menghindari komitmen.
Mereka juga bisa menjadi lebih defensif terhadap pasangan, karena takut dituntut atau disakiti.
Sikap ini sering membuat hubungan terasa jauh dan kurang hangat. Dalam jangka panjang, hal ini bisa menimbulkan kesepian, meskipun mereka tampak baik-baik saja.
Kepercayaan terhadap orang lain juga cenderung menurun. Mereka lebih mengandalkan diri sendiri dan merasa sulit untuk bergantung pada orang lain, bahkan dalam situasi yang membutuhkan dukungan emosional.
Apakah Bisa Berubah?
Meskipun pola ini bisa semakin kuat seiring usia, bukan berarti tidak bisa berubah.
Dengan kesadaran diri dan kemauan untuk belajar, si avoidant tetap bisa membangun hubungan yang lebih sehat.
Langkah awalnya adalah memahami pola tersebut, lalu perlahan belajar menerima emosi dan membuka diri. Dukungan dari lingkungan yang aman dan tidak menghakimi juga sangat membantu proses ini.
Pada akhirnya, avoidant attachment tidak harus menjadi penghalang dalam hubungan. Dengan pendekatan yang tepat, seseorang tetap bisa memiliki hubungan yang hangat, stabil, dan bermakna.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Borneo FC vs Persija Jakarta: Macan Kemayoran Menang Tipis di Samarinda
Prediksi Skor Lyon vs Auxerre di Liga Prancis: Les Gones Berpeluang Menang Telak di Groupama!
Prediksi Skor Newcastle United vs Bournemouth di Liga Inggris: The Magpies Tak Ingin Malu di Kandang
Prediksi Skor Hoffenheim vs Borussia Dortmund di Liga Jerman: Kans Die Borussen Gondol 3 Poin
Prediksi Skor Bhayangkara FC vs Persebaya Surabaya: Green Force Diprediksi Menang Tipis di Lampung
Prediksi Arema FC vs Isenmulang Kalteng FC: Singo Edan Diprediksi Menang di Kanjuruhan
Santri Cilik Tegur Bacaan Alquran Nusron Wahid: Ayat Alquran Jangan Diacak-acak!
Prediksi Skor Werder Bremen vs RB Leipzig di Liga Jerman: Die Bullen Bisa Gondol 3 Poin
Prediksi Skor Brentford vs Sunderland di Liga Inggris: The Bees Berpeluang Gasak Tim Tamu!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
