Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 17 April 2026 | 03.16 WIB

Orang yang Tumbuh dengan Kritik Terus-menerus Sering Membawa 8 Beban Tak Terlihat Ini Hingga Dewasa Menurut Psikologi

Ilustrasi seseorang yang tumbuh dengan kritik (Freepik/Peoplecreations) - Image

Ilustrasi seseorang yang tumbuh dengan kritik (Freepik/Peoplecreations)

JawaPos.com - Tidak semua luka terlihat. Sebagian orang tumbuh dalam lingkungan yang penuh kritik, baik dari orang tua, guru, atau lingkungan sekitar, dan tanpa disadari, pengalaman itu membentuk cara mereka memandang diri sendiri dan dunia.

Kritik yang konstruktif memang bisa membantu perkembangan, tetapi kritik yang terus-menerus, tajam, dan tanpa empati dapat meninggalkan jejak psikologis yang dalam.

Menurut psikologi, individu yang dibesarkan dalam suasana penuh kritik sering kali membawa "beban tak terlihat" hingga dewasa. Beban ini tidak selalu disadari, tetapi memengaruhi hubungan, karier, dan kesehatan mental mereka.

Dilansir dari Expert Editor pada Rabu (15/4), terdapat adalah delapan beban tersebut:

1. Suara Kritik Internal yang Tidak Pernah Diam

Orang yang sering dikritik cenderung menginternalisasi suara tersebut. Seiring waktu, suara itu berubah menjadi "kritikus batin" yang terus mengomentari setiap tindakan mereka.

Mereka mungkin berpikir:

"Aku pasti salah."
"Ini belum cukup baik."
"Aku akan mengecewakan orang lain."

Akibatnya, mereka sulit merasa puas dengan diri sendiri, bahkan saat berhasil.

2. Perfeksionisme yang Melelahkan

Karena terbiasa dikritik, mereka belajar bahwa kesalahan tidak bisa ditoleransi. Ini sering berkembang menjadi perfeksionisme.

Perfeksionisme ini bukan tentang standar tinggi yang sehat, tetapi lebih pada ketakutan akan kesalahan. Mereka bekerja keras bukan untuk berkembang, tetapi untuk menghindari kritik.

Ironisnya, ini justru bisa membuat mereka mudah stres dan kelelahan.

3. Rasa Tidak Pernah Cukup

Meski telah mencapai banyak hal, mereka tetap merasa kurang. Validasi eksternal menjadi sangat penting, tetapi sekaligus tidak pernah benar-benar memuaskan.

Hal ini berasal dari pengalaman masa lalu di mana usaha mereka jarang dihargai atau selalu dianggap kurang.

4. Ketakutan Berlebihan terhadap Penilaian Orang Lain

Mereka menjadi sangat sensitif terhadap opini orang lain. Bahkan komentar kecil bisa terasa seperti serangan besar.

Akibatnya:

Mereka overthinking setelah berbicara
Takut tampil atau mengambil risiko
Cenderung menghindari situasi sosial tertentu

Baca Juga:Jika Seorang Perempuan Menginginkan Hubungan Lebih dari Sekadar Teman, Dia Akan Menunjukkan 8 Perilaku Halus Ini Menurut Psikologi

5. Sulit Menerima Pujian

Ketika dipuji, mereka mungkin merasa:

"Ah, itu cuma kebetulan."
"Mereka cuma sopan saja."

Ini terjadi karena citra diri mereka sudah terbentuk dari kritik, bukan penghargaan. Pujian terasa asing atau bahkan tidak pantas.

6. Kecenderungan People-Pleasing

Untuk menghindari kritik, mereka belajar menyenangkan orang lain. Mereka mengatakan “iya” bahkan ketika ingin menolak.

Dalam jangka panjang, ini bisa membuat mereka:

Kehilangan batas diri
Merasa lelah secara emosional
Sulit mengenali kebutuhan sendiri

7. Takut Gagal yang Melumpuhkan

Bagi mereka, kegagalan bukan sekadar pengalaman belajar, tetapi ancaman terhadap harga diri.

Karena itu, mereka mungkin:

Menunda pekerjaan (prokrastinasi)
Tidak mencoba hal baru
Menghindari tantangan

Padahal, justru dari kegagalan seseorang bisa berkembang.

8. Kesulitan Membentuk Hubungan yang Aman

Pengalaman dikritik terus-menerus bisa memengaruhi cara seseorang menjalin hubungan.

Mereka mungkin:

Takut ditolak atau ditinggalkan
Terlalu sensitif terhadap konflik
Sulit percaya bahwa mereka diterima apa adanya

Dalam beberapa kasus, mereka juga bisa menjadi sangat defensif atau justru menarik diri.

Penutup: Luka yang Bisa Disembuhkan

Membawa beban-beban ini bukan berarti seseorang "rusak". Ini adalah respons alami terhadap lingkungan yang tidak mendukung secara emosional.

Kabar baiknya, psikologi juga menunjukkan bahwa pola ini bisa diubah. Dengan kesadaran, terapi, dan latihan self-compassion, seseorang bisa:

Mengubah suara batin menjadi lebih suportif
Membangun harga diri yang sehat
Belajar menerima diri tanpa syarat

Perjalanan ini memang tidak instan, tetapi sangat mungkin. Karena pada akhirnya, setiap orang berhak hidup tanpa bayang-bayang kritik masa lalu.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore