
Ilustrasi seseorang yang tumbuh dengan kritik (Freepik/Peoplecreations)
JawaPos.com - Tidak semua luka terlihat. Sebagian orang tumbuh dalam lingkungan yang penuh kritik, baik dari orang tua, guru, atau lingkungan sekitar, dan tanpa disadari, pengalaman itu membentuk cara mereka memandang diri sendiri dan dunia.
Kritik yang konstruktif memang bisa membantu perkembangan, tetapi kritik yang terus-menerus, tajam, dan tanpa empati dapat meninggalkan jejak psikologis yang dalam.
Menurut psikologi, individu yang dibesarkan dalam suasana penuh kritik sering kali membawa "beban tak terlihat" hingga dewasa. Beban ini tidak selalu disadari, tetapi memengaruhi hubungan, karier, dan kesehatan mental mereka.
Dilansir dari Expert Editor pada Rabu (15/4), terdapat adalah delapan beban tersebut:
1. Suara Kritik Internal yang Tidak Pernah Diam
Orang yang sering dikritik cenderung menginternalisasi suara tersebut. Seiring waktu, suara itu berubah menjadi "kritikus batin" yang terus mengomentari setiap tindakan mereka.
Mereka mungkin berpikir:
"Aku pasti salah."
"Ini belum cukup baik."
"Aku akan mengecewakan orang lain."
Akibatnya, mereka sulit merasa puas dengan diri sendiri, bahkan saat berhasil.
2. Perfeksionisme yang Melelahkan
Karena terbiasa dikritik, mereka belajar bahwa kesalahan tidak bisa ditoleransi. Ini sering berkembang menjadi perfeksionisme.
Perfeksionisme ini bukan tentang standar tinggi yang sehat, tetapi lebih pada ketakutan akan kesalahan. Mereka bekerja keras bukan untuk berkembang, tetapi untuk menghindari kritik.
Ironisnya, ini justru bisa membuat mereka mudah stres dan kelelahan.
3. Rasa Tidak Pernah Cukup
Meski telah mencapai banyak hal, mereka tetap merasa kurang. Validasi eksternal menjadi sangat penting, tetapi sekaligus tidak pernah benar-benar memuaskan.
Hal ini berasal dari pengalaman masa lalu di mana usaha mereka jarang dihargai atau selalu dianggap kurang.
4. Ketakutan Berlebihan terhadap Penilaian Orang Lain
Mereka menjadi sangat sensitif terhadap opini orang lain. Bahkan komentar kecil bisa terasa seperti serangan besar.
Akibatnya:
Mereka overthinking setelah berbicara
Takut tampil atau mengambil risiko
Cenderung menghindari situasi sosial tertentu
5. Sulit Menerima Pujian
Ketika dipuji, mereka mungkin merasa:
"Ah, itu cuma kebetulan."
"Mereka cuma sopan saja."
Ini terjadi karena citra diri mereka sudah terbentuk dari kritik, bukan penghargaan. Pujian terasa asing atau bahkan tidak pantas.
6. Kecenderungan People-Pleasing
Untuk menghindari kritik, mereka belajar menyenangkan orang lain. Mereka mengatakan “iya” bahkan ketika ingin menolak.
Dalam jangka panjang, ini bisa membuat mereka:
Kehilangan batas diri
Merasa lelah secara emosional
Sulit mengenali kebutuhan sendiri
7. Takut Gagal yang Melumpuhkan

Prediksi Skor Persib Bandung vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Maung Bandung Masih Terlalu Perkasa?
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Ikhwan Ali Tanamal Resmi Gabung Persib Bandung, Siap Bekerja Keras Rebut Tempat di Tim Utama
Prediksi Skor DPMM FC vs Tampines Rovers di Piala Presiden 2026: Misi Dalberto Tebar Pesona di Klub Baru!
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Momentum Green Force Unjuk Gigi
An Se Young Mundur dari China Open 2026 karena Cedera, Fokus Pulihkan Kondisi Jelang Kejuaraan Dunia
Profil Fajar Listyantara, Legenda PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta yang Meninggal Dunia Akibat Gagal Ginjal
Mengulas Dugaan Kejanggalan Argentina di Final Piala Dunia 2026, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
