Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 8 April 2026 | 00.59 WIB

Jika Seseorang Meminta Maaf tetapi Melakukan 8 Perilaku Ini, Mereka Tidak Benar-Benar Menyesal Menurut Psikologi

seseorang yang tidak benar-benar meminta maaf./Freepik/glowonconcept - Image

seseorang yang tidak benar-benar meminta maaf./Freepik/glowonconcept

JawaPos.com - Meminta maaf adalah salah satu bentuk tanggung jawab emosional yang paling penting dalam hubungan manusia—baik itu hubungan romantis, persahabatan, keluarga, maupun profesional. Namun, tidak semua permintaan maaf benar-benar tulus.

 Dalam psikologi, permintaan maaf yang sehat bukan hanya tentang kata-kata, tetapi juga tentang perubahan perilaku, empati, dan kesadaran diri.

Banyak orang terlihat “minta maaf”, tetapi sebenarnya hanya ingin meredakan konflik, menghindari konsekuensi, atau menjaga citra diri.

Dilansir dari Expert Editor pada Senin (6/4), terdapat delapan perilaku yang menunjukkan bahwa seseorang mungkin tidak benar-benar menyesal, meskipun mereka sudah mengucapkan kata “maaf”.

1. Mereka Mengalihkan Kesalahan

Alih-alih bertanggung jawab, mereka berkata seperti:

“Aku minta maaf, tapi kamu juga memancing reaksiku.”
“Aku cuma bereaksi dari apa yang kamu lakukan.”

Dalam psikologi, ini disebut blame-shifting. Orang tersebut tidak benar-benar mengakui kesalahan, melainkan membaginya agar terlihat lebih ringan. Permintaan maaf seperti ini kehilangan makna karena tidak ada kepemilikan atas tindakan sendiri.

2. Permintaan Maaf Mereka Bersyarat

Kalimat seperti:

“Maaf kalau kamu tersinggung.”
“Maaf jika itu membuatmu tidak nyaman.”

Terlihat sopan, tapi sebenarnya problematik. Ini bukan pengakuan kesalahan, melainkan meragukan perasaan orang lain. Seolah-olah masalahnya ada pada sensitivitas korban, bukan tindakan pelaku.

3. Mereka Mengulang Kesalahan yang Sama

Dalam psikologi perilaku, perubahan adalah indikator utama penyesalan yang tulus. Jika seseorang terus melakukan kesalahan yang sama setelah meminta maaf, itu menunjukkan bahwa:

Mereka tidak belajar dari kesalahan
Atau mereka tidak benar-benar peduli

Permintaan maaf tanpa perubahan hanyalah kata-kata kosong.

4. Mereka Terlihat Tidak Nyaman dengan Percakapan

Orang yang benar-benar menyesal biasanya siap menghadapi konsekuensi emosional dari tindakannya. Sebaliknya, orang yang tidak tulus akan:

Menghindari pembahasan lebih dalam
Terlihat gelisah atau ingin cepat mengakhiri percakapan
Mengalihkan topik

Ini menunjukkan bahwa fokus mereka bukan pada memperbaiki hubungan, melainkan menghindari ketidaknyamanan.

5. Mereka Membuat Diri Sendiri sebagai Korban

Contohnya:

“Aku sudah minta maaf, kenapa kamu masih marah?”
“Aku juga merasa buruk, kamu tidak mengerti perasaanku.”

Ini disebut emotional reversal. Mereka memindahkan fokus dari orang yang disakiti ke diri mereka sendiri, sehingga justru meminta simpati. Ini bukan empati—ini manipulasi halus.

6. Bahasa Tubuh Tidak Selaras

Psikologi komunikasi menunjukkan bahwa bahasa nonverbal sering lebih jujur daripada kata-kata. Tanda-tandanya:

Tidak melakukan kontak mata
Nada suara datar atau defensif
Ekspresi wajah tidak menunjukkan penyesalan

Ketidaksesuaian antara kata dan bahasa tubuh sering menjadi indikator ketidaktulusan.

7. Mereka Mengharapkan Segera Dimaafkan

Orang yang tulus memahami bahwa memaafkan butuh waktu. Namun, jika seseorang:

Menuntut agar kamu segera “move on”
Marah karena kamu masih terluka
Menganggap masalah selesai hanya karena mereka sudah minta maaf

Ini menunjukkan bahwa tujuan mereka adalah kenyamanan diri sendiri, bukan pemulihan hubungan.

8. Mereka Tidak Berusaha Memperbaiki Keadaan

Permintaan maaf yang tulus biasanya diikuti dengan tindakan nyata, seperti:

Mengganti kerugian
Memperbaiki kesalahan
Menunjukkan usaha agar hal yang sama tidak terulang

Jika tidak ada usaha konkret, maka permintaan maaf hanya bersifat simbolis—tanpa komitmen.

Kesimpulan

Dalam psikologi, permintaan maaf yang tulus memiliki tiga komponen utama:

Pengakuan kesalahan tanpa pembelaan
Empati terhadap perasaan orang lain
Komitmen untuk berubah

Jika salah satu dari komponen ini hilang—terutama perubahan perilaku—maka kemungkinan besar permintaan maaf tersebut tidak sepenuhnya tulus.

Memahami tanda-tanda ini penting agar kita tidak terjebak dalam pola hubungan yang tidak sehat. Memaafkan adalah pilihan, tetapi memahami apakah seseorang benar-benar menyesal adalah bentuk perlindungan diri yang penting
Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore