Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 18 Mei 2026 | 20.23 WIB

8 Perilaku yang Anda Anggap Biasa Saja Saat Masih Kecil, Tetapi Kini Anda Menyadari Betapa Banyak Pengorbanan yang Sebenarnya Dilakukan Orang Tua Anda Menurut Psikologi

seseorang yang tetap tenang meski dalam masalah besar / foto: Magnific/dotshock - Image

seseorang yang tetap tenang meski dalam masalah besar / foto: Magnific/dotshock

JawaPos.com - Ketika masih kecil, banyak hal terasa berjalan begitu saja. Makanan selalu tersedia di meja, seragam sekolah tiba-tiba sudah rapi, lampu rumah tetap menyala, dan kita bisa tidur dengan tenang tanpa memikirkan bagaimana semuanya terjadi. Sebagai anak, kita cenderung melihat perhatian orang tua sebagai sesuatu yang “normal”. Baru ketika beranjak dewasa—terutama setelah menghadapi tekanan hidup sendiri—kita mulai memahami bahwa di balik hal-hal sederhana itu terdapat pengorbanan besar yang sering tidak terlihat.

Psikologi perkembangan menjelaskan bahwa anak-anak secara alami berfokus pada kebutuhan diri sendiri karena kemampuan empati dan perspektif sosial mereka masih berkembang. Itu sebabnya banyak tindakan orang tua dulu tampak biasa saja. Namun saat dewasa, otak kita mulai mampu memahami konteks emosional, finansial, dan mental di balik tindakan tersebut.

Dilansir dari Expert Editor pada Sabtu (16/5), terdapat delapan perilaku yang mungkin dulu Anda anggap biasa, tetapi sekarang terasa sangat berarti karena Anda menyadari betapa besar pengorbanan orang tua di baliknya.

1. Orang Tua Selalu Mengalah Soal Makanan

Saat kecil, mungkin Anda pernah memilih bagian ayam paling besar, meminta makanan favorit, atau menghabiskan camilan tanpa berpikir apakah orang tua Anda sudah makan atau belum. Banyak anak bahkan tidak menyadari ketika ibu atau ayah berkata, “Ayah sudah kenyang,” padahal sebenarnya mereka sengaja mengalah agar anaknya bisa makan lebih banyak.

Dalam psikologi keluarga, perilaku ini dikenal sebagai bentuk parental sacrifice—pengorbanan orang tua yang dilakukan untuk memastikan kebutuhan anak terpenuhi lebih dulu dibanding kebutuhan pribadi mereka sendiri.

Secara emosional, orang tua sering mendapatkan kepuasan psikologis ketika melihat anak merasa cukup dan bahagia. Namun di sisi lain, pengorbanan ini kadang dilakukan di tengah tekanan ekonomi, rasa lelah, bahkan kecemasan mengenai keuangan keluarga.

Ketika dewasa, banyak orang mulai tersentuh oleh kenangan sederhana seperti:

Ibu yang makan paling terakhir.
Ayah yang bilang tidak lapar.
Orang tua yang memilih menu paling murah.
Bekal sekolah anak lebih lengkap daripada makanan mereka sendiri.

Kini kita memahami bahwa itu bukan kebetulan. Itu adalah bentuk cinta yang sering tidak diucapkan.

2. Mereka Tetap Tenang Walau Sedang Punya Masalah Besar

Saat kecil, kita sering menganggap rumah terasa aman begitu saja. Kita tidak tahu bahwa orang tua mungkin sedang memikirkan tagihan, pekerjaan, utang, kesehatan, atau konflik hidup lainnya.

Banyak orang tua secara sadar menyembunyikan stres demi menjaga kestabilan emosional anak. Dalam psikologi, ini berkaitan dengan konsep emotional buffering, yaitu usaha melindungi anak dari tekanan emosional yang belum mampu mereka pahami.

Anak-anak membutuhkan rasa aman untuk berkembang secara sehat. Karena itu, banyak orang tua memilih memendam kecemasan mereka sendiri agar suasana rumah tetap terasa nyaman.

Dulu mungkin Anda menganggap:

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore