Logo JawaPos
Author avatar - Image
19 Maret 2026, 09.51 WIB

7 Alasan Mengapa Banyak Orang di Atas 60 Tahun Merasa 'Tidak Terlihat' Menurut Psikologi

seseorang yang merasa tidak terlihat di usia tua./ Freepik/freepik - Image

seseorang yang merasa tidak terlihat di usia tua./ Freepik/freepik

JawaPos.com - Dalam banyak budaya modern, usia sering kali dikaitkan dengan penurunan peran sosial. Banyak orang yang telah melewati usia 60 tahun melaporkan perasaan seperti “tidak terlihat”, seolah-olah keberadaan mereka diabaikan oleh masyarakat.

Fenomena ini bukan sekadar perasaan subjektif; dalam bidang Psikologi Sosial dan Psikologi Penuaan, pengalaman ini sering dikaitkan dengan perubahan sosial, budaya, dan psikologis yang terjadi pada tahap kehidupan lanjut.

Dilansir dari Expert Editor pada Senin (16/3), terdapat tujuh alasan utama mengapa banyak orang di atas 60 tahun merasa tidak terlihat, berdasarkan perspektif psikologi.


1. Budaya yang Mengagungkan Usia Muda


Salah satu faktor terbesar adalah budaya modern yang sangat menonjolkan kemudaan. Media, iklan, dan industri hiburan sering menampilkan standar ideal berupa wajah muda, tubuh bugar, dan gaya hidup aktif.

Fenomena ini dikenal sebagai ageism, yaitu diskriminasi berdasarkan usia. Konsep ini pertama kali dipopulerkan oleh Robert N. Butler, yang menjelaskan bagaimana masyarakat sering kali secara tidak sadar mengabaikan kontribusi orang yang lebih tua.

Akibatnya, orang yang lebih tua bisa merasa bahwa pengalaman dan kebijaksanaan mereka tidak lagi dihargai.

2. Berkurangnya Peran Sosial Setelah Pensiun

Baca Juga:6 Alasan Mengapa Sebagian Orang Menjadi Lebih Menarik Seiring Bertambahnya Usia Menurut Psikologi

Pekerjaan memberi identitas sosial yang kuat bagi banyak orang. Ketika seseorang pensiun, identitas tersebut bisa berubah secara drastis.

Menurut teori perkembangan psikososial dari Erik Erikson, tahap kehidupan lanjut berkaitan dengan konflik antara integritas ego dan keputusasaan. Pada tahap ini, individu mengevaluasi kehidupan mereka dan mencari makna.

Tanpa aktivitas sosial yang jelas seperti pekerjaan, sebagian orang merasa kehilangan posisi mereka dalam masyarakat.

3. Perubahan Cara Orang Lain Berinteraksi


Banyak orang lanjut usia melaporkan bahwa orang lain berbicara kepada mereka dengan cara yang berbeda. Misalnya:

dianggap kurang mampu memahami teknologi

tidak dilibatkan dalam keputusan

diperlakukan seperti anak kecil

Dalam psikologi komunikasi, fenomena ini sering disebut “elderspeak”, yaitu gaya bicara yang terlalu disederhanakan atau merendahkan kepada orang tua.

Meskipun sering tidak disengaja, perlakuan seperti ini dapat membuat seseorang merasa tidak dihargai.

4. Penyempitan Lingkaran Sosial


Seiring bertambahnya usia, lingkaran sosial biasanya menyempit. Teman sebaya mungkin pindah, sakit, atau meninggal. Anak-anak juga sering sibuk dengan kehidupan mereka sendiri.

Teori socioemotional selectivity yang dikembangkan oleh Laura L. Carstensen menjelaskan bahwa orang yang lebih tua cenderung memilih hubungan yang lebih bermakna daripada jumlah hubungan yang banyak.

Namun, jika hubungan bermakna tersebut terbatas, rasa kesepian dan “ketidak-terlihatan” bisa muncul.

5. Perubahan Fisik dan Energi


Perubahan tubuh yang terjadi secara alami—seperti penurunan energi, pendengaran, atau mobilitas—juga dapat memengaruhi partisipasi sosial.

Ketika seseorang tidak lagi menghadiri acara sosial, bekerja, atau terlibat dalam aktivitas komunitas seperti sebelumnya, orang lain mungkin secara tidak sadar mulai jarang melibatkan mereka.

Hal ini dapat memperkuat perasaan bahwa mereka telah “hilang” dari ruang sosial.

6. Kurangnya Representasi di Media


Media memiliki kekuatan besar dalam membentuk persepsi sosial. Sayangnya, orang yang berusia di atas 60 tahun sering kali jarang muncul sebagai tokoh utama dalam film, iklan, atau cerita populer.

Ketika mereka muncul, peran tersebut sering stereotipikal, seperti:

orang tua yang lemah

kakek atau nenek yang lucu

karakter yang bergantung pada orang lain

Kurangnya representasi yang kompleks dan realistis membuat banyak orang lanjut usia merasa identitas mereka tidak diakui oleh budaya populer.

7. Transisi Identitas dalam Tahap Kehidupan


Usia lanjut adalah masa transisi besar dalam identitas. Banyak peran yang sebelumnya mendefinisikan seseorang—pekerja, orang tua aktif, pemimpin komunitas—mulai berubah.

Psikologi perkembangan menjelaskan bahwa manusia membangun identitas melalui peran sosial. Ketika peran tersebut berubah atau hilang, seseorang mungkin mengalami krisis makna sementara.

Jika masyarakat tidak menyediakan ruang baru untuk kontribusi orang yang lebih tua, perasaan “tidak terlihat” menjadi semakin kuat.

Kesimpulan

Perasaan tidak terlihat pada orang di atas 60 tahun bukan sekadar masalah pribadi, tetapi juga hasil dari dinamika sosial dan budaya. Diskriminasi usia, perubahan peran sosial, penyempitan hubungan, serta representasi media semuanya berkontribusi terhadap pengalaman ini.

Namun, penelitian dalam Gerontologi menunjukkan bahwa keterlibatan sosial, aktivitas bermakna, dan pengakuan terhadap pengalaman hidup dapat secara signifikan meningkatkan kesejahteraan psikologis orang lanjut usia.

Pada akhirnya, masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang menghargai setiap tahap kehidupan—bukan hanya masa muda, tetapi juga kebijaksanaan yang datang bersama usia.
Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore