
Ilustrasi pejalan kaki lambat (freepik)
JawaPos.com - Beberapa orang tampaknya memiliki banyak waktu luang atau kebiasaan berjalan lambat. Kebiasaan itu tampaknya tidak dapat dimaklumi oleh semua orang. Beberapa orang mungkin akan berdiri di belakang orang tersebut dengan perasaan marah dan memilih menghindar lalu berputar arah.
Kita semua mungkin pernah mengalaminya. Kemarahan yang tak dapat dijelaskan akibat berada dan terjebak di belakang pejalan kaki yang lambat. Bagi sebagian orang, ini adalah perjuangan sehari-hari, kekesalah yang dapat mengubah perjalanan santai menjadi cobaan yang menegangkan.
Dilansir dari Geediting, terdapat delapan ciri utama orang-orang yang mudah marah terhadap pejalan kaki yang berjalan lambat.
Baca Juga:Sering Cemas saat Menunggu Balasan Pesan dari Seseorang? 7 Perilaku ini Mungkin Pernah Kamu Lakukan
1. Ketidaksabaran
Ketidaksabaran adalah sifat pertama yang sering muncul. Mereka yang marah secara tidak rasional pada pejalan kaki yang lambat sering kali adalah orang-orang yang selalu terburu-buru, bahkan ketika mereka sebenarnya tidak terlambat.
Mereka adalah orang-orang yang terus-menerus memeriksa jam tangan, mengetuk-ngetukkan kaki ketika menunggu lift, atau mendesah keras saat mengantre di toko kelontong. Bagi mereka, setiap detik sangat berarti dan pejalan lambat dianggap sebagai hambatan yang menghambat langkah mereka.
Dunia bergerak dalam kecepatan tinggi dan mereka pun mengikutinya, jadi siapa pun yang tidak mengikuti kecepatan mereka akan merasa seperti polisi tidur di jalan raya.
Ketidaksabaran ini tidak selalu berarti harus mencapai suatu tempat tepat waktu. Ketidaksabaran lebih merupakan sifat bawaan, ritme internal yang diatur untuk 'mempercepat'.
2. Mendambakan kendali
Orang-orang ini sering suka mengatur kecepatan mereka sendiri, dan ketika seseorang atau sesuatu mengganggu kecepatan tersebut, mereka akan merasa kesal. Ini seperti terjebak dalam kemacetan, Anda tidak memegang kendali, dan itu membuat frustasi.
Perasaan tidak mampu menentukan jalan sendiri inilah yang dapat menimbulkan kemarahan tak beralasan pada pejalan kaki yang lambat. Bagi orang dengan sifat ini, yang penting bukan hanya berjalan, tetapi mempertahankan kendali atas lingkungan dan keadaan mereka.
3. Perfeksionis
Perfeksionisme adalah sifat yang merupakan berkah sekaligus kutukan. Di satu sisi, sifat ini mendorong Anda untuk berjuang demi yang terbaik, tidak puas dengan yang biasa-biasa saja.
Namun di sisi lain, hal itu menciptakan standar yang terlalu tinggi yang sering kali menimbulkan frustrasi saat segala sesuatunya tidak berjalan sesuai rencana.
Ambil contoh pejalan kaki yang lambat. Dalam benak seorang perfeksionis, jalan di depan jelas dan mereka dapat melangkah tanpa hambatan apa pun.
Ketika kesempurnaan yang dibayangkan ini diganggu oleh sesuatu yang biasa saja seperti pejalan kaki yang lebih lambat, hal itu terasa seperti sebuah cacat dalam skenario yang telah direncanakan dengan sempurna.
Menjadi seorang perfeksionis bukan hanya tentang mendapatkan hasil terbaik, tetapi juga tentang mengendalikan variabel dan mengurangi ketidakpastian.
4. Berkembang karena efisiensi
Orang-orang yang marah secara tidak rasional terhadap pejalan kaki yang lambat sering kali memiliki dorongan bawaan untuk efisiensi. Mereka gemar menyelesaikan berbagai hal dengan cepat dan efektif.
Bagi mereka, berjalan kaki bukan sekadar sarana untuk berpindah dari Titik A ke Titik B, ini adalah tugas yang harus diselesaikan seefisien mungkin. Ketika terjebak di belakang pejalan kaki yang lambat, rasanya seperti ada yang salah dengan mesin efisiensi mereka yang bekerja dengan baik.
Apa yang seharusnya menjadi perjalanan yang cepat dan lancar berubah menjadi rintangan, dan itu dapat menyebabkan frustasi.
5. Kompetitif secara alami
Dengan kebutuhan untuk mengendalikan, sedikit perfeksionisme, dan dorongan tanpa henti untuk efisiensi, tidak mengherankan bahwa sifat umum lainnya di antara orang-orang yang menjadi marah secara tidak rasional pada pejalan kaki yang lambat adalah sifat kompetitif.
Mereka sering kali memiliki keinginan bawaan untuk menjadi yang pertama, tercepat, terbaik. Ini bukan tentang memenangkan perlombaan atau mengalahkan orang lain, ini tentang mengatasi tantangan, termasuk tantangan yang tampaknya tidak penting bagi orang lain.
Seorang pejalan kaki yang lambat mungkin dianggap sebagai rintangan yang harus diatasi, tantangan yang harus dihadapi dan ditaklukkan. Semangat kompetitif ini bukan hanya tentang menjadi lebih cepat daripada orang di depan mereka.
Ini tentang membuktikan kepada diri mereka sendiri bahwa mereka dapat melewati situasi apa pun, tidak peduli betapa remehnya hal itu.
6. Menghargai ruang pribadi
Bagi orang yang mudah marah pada pejalan kaki yang lambat, ini adalah sifat penting lainnya. Mereka sangat menghargai ruang pribadi dan kebebasan bergerak. Ketika pejalan kaki yang lambat mengganggu alur mereka, hal itu terasa seperti gangguan terhadap wilayah pribadi mereka.
Ini bukan hanya tentang ruang fisik, ini tentang ruang untuk bergerak bebas sesuai kecepatan mereka sendiri, untuk mengendalikan perjalanan mereka sendiri. Pejalan kaki yang lambat menjadi penghalang di jalan mereka, mengganggu kebebasan bergerak mereka.
Rasa frustrasi ini bukan hanya tentang kecepatan berjalan. Ini tentang perasaan terjebak atau terpojok, tidak dapat bergerak bebas. Ruang pribadi mereka bukan hanya batasan fisik, ini juga tentang kebebasan untuk menjelajahi dunia dengan kecepatan mereka sendiri.
7. Sangat jeli
Orang yang marah secara tidak rasional terhadap pejalan kaki yang lambat cenderung sangat jeli. Mereka memperhatikan detail yang mungkin diabaikan orang lain, termasuk kecepatan orang yang berjalan di depan mereka.
Tentu saja, kepekaan mereka yang tinggi terhadap pengamatan tidak terbatas pada pejalan kaki yang lambat. Hal itu berlaku untuk semua aspek kehidupan. Mereka mungkin akan menyadari jika gambar tergantung agak miring, atau jika volume TV terlalu keras.
Namun, jika menyangkut pejalan kaki yang lambat, kepekaan pengamatan yang tajam ini dapat berubah menjadi sumber frustrasi. Mereka tidak hanya melihat pejalan kaki yang lambat; mereka sangat menyadari bagaimana orang ini memengaruhi kecepatan, rutinitas, dan ruang pribadi mereka.
Ini bukan sekadar tentang terjebak di belakang seseorang yang berjalan lambat, tetapi tentang menyadari gangguan di jalur mereka dan bagaimana gangguan itu memengaruhi perjalanan mereka.
8. Sadar diri
Salah satu ciri yang paling menonjol dari orang-orang yang marah secara tidak rasional kepada pejalan kaki yang lambat adalah tingkat kesadaran diri mereka yang tinggi . Mereka sering kali sangat menyadari perasaan dan reaksi mereka, meskipun mereka tidak selalu dapat mengendalikannya.
Kesadaran diri ini tidak serta merta berarti bahwa mereka senang dengan reaksi mereka atau bahwa mereka mampu mengubahnya saat itu juga. Namun, itu berarti mereka sadar akan kekhasan dan pemicu mereka sendiri, termasuk kemarahan tak rasional mereka terhadap pejalan kaki lambat.
Orang-orang ini sering kali mengenali ketidaksabaran mereka, kebutuhan mereka untuk mengontrol, dan sifat-sifat lainnya yang menyebabkan kekesalan khusus ini. Mereka mungkin tidak selalu tahu cara mengelola perasaan-perasaan ini, tetapi mereka tidak mengabaikannya.
