Ilustrasi tradisi yang dijalankan pada bulan Ramadhan (Freepik)
JawaPos.com – Ramadhan merupakan bulan kesembilan dalam kalender Hijriah yang berlangsung selama 29 hingga 30 hari, bergantung pada hasil rukyatulhilal.
Pada bulan suci ini, setiap amalan ibadah diyakini dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT, sehingga umat Islam berlomba-lomba meningkatkan kualitas ibadah seperti puasa, salat sunah, dan tadarus al-Qur’an.
Bagi sekitar 1,8 miliar Muslim di seluruh dunia, Ramadan menjadi momentum untuk memperbanyak doa, berbagi kepada sesama, serta melatih pengendalian diri melalui puasa sejak fajar hingga terbenam matahari.
Tradisi Ramadan pun memiliki corak yang beragam di berbagai negara, mulai dari kebiasaan mengumpulkan permen hingga menyalakan meriam sebagai penanda waktu berbuka.
Dilansir dari laman World Remit, berikut beberapa tradisi pada bulan Ramadhan dari berbagai negara.
Jika Anda mengunjungi Turki selama bulan Ramadan, bersiaplah untuk perayaan yang sangat meriah, yang memadukan antara yang lama dan yang baru.
Tradisi Ramadan yang unik di Turki ini sudah ada sejak Kekaisaran Ottoman beberapa abad yang lalu, saat belum ada yang namanya jam alarm.
Para penabuh drum yang berdedikasi berbaris di jalan untuk membangunkan semua orang agar bisa sahur, yaitu makanan yang Anda santap saat fajar sebelum berpuasa. Yang membuatnya semakin menarik saat ini adalah para penabuh drum ini tidak mengenakan pakaian biasa, tetapi mengenakan kostum Ottoman, termasuk fez dan rompi.
Bagi para penyuka makanan manis, Anda juga akan tertarik untuk mengetahui bahwa manisan khas Turki, baklava, dan kue kering adalah makanan yang wajib ada untuk berbuka puasa.
Banyak keluarga memiliki resep khusus yang diwariskan dari generasi ke generasi, tetapi Anda juga dapat menemukan makanan ini di pasar-pasar di seluruh negeri.
Ramadan di Mesir merupakan salah satu festival paling berwarna di seluruh dunia. Jalan-jalan dihiasi dengan lentera warna-warni yang disebut fanous dengan tujuan menyebarkan kegembiraan dan keceriaan. Kisah fanous bermula pada abad ke-10 hingga ke-12 dan berasal dari Kekhalifahan Fatimiyah.
Menurut legenda, ketika Kekhalifahan, pemimpin atau penguasa setempat, mengunjungi Kairo pada hari pertama Ramadan, penduduk setempat menyalakan lilin di jalan-jalan yang gelap untuk menyambut mereka.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
Pegawai Diskominfo Kukar Bakar Kantor Usai Wajah Dijadikan Stiker WA
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
Doktif Bongkar Transfer Rp 9 Juta Richard Lee, Disebut untuk Jasa Prostitusi
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Richard Lee Bela Perempuan di Podcast, Eks Karyawan: Dia Penjahat Wanita
Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Eks Dewas KPK Albertina Ho Tak Lolos Seleksi CHA di KY, TII Bandingkan dengan Politikus Golkar Ini
Jessica Mila Sentil Kapten Kapal Soal Polemik Pulau Padar: Harus Terbuka soal Larangan Berlayar!
HUT ke-81 RI, Naik Suroboyo Bus dan Wira Wiri Cuma Rp81, Berlaku Sepekan
