
seseorang yang canggung secara sosial./ Freepik/katemangostar
JawaPos.com - Tidak semua orang yang terlihat pendiam atau kaku dalam percakapan memang tidak ingin bersosialisasi.
Banyak di antaranya sebenarnya ingin terhubung, tetapi merasa tidak nyaman, gugup, atau takut dinilai.
Dalam psikologi, kecanggungan sosial bukan sekadar sifat bawaan. Ia sering kali terbentuk dari pengalaman masa kecil yang membentuk cara seseorang melihat dirinya sendiri dan orang lain.
Tokoh psikologi perkembangan seperti Erik Erikson menekankan bahwa setiap tahap perkembangan anak membawa tantangan emosional tertentu.
Jika kebutuhan psikologis pada tahap tersebut tidak terpenuhi, dampaknya bisa terbawa hingga dewasa, termasuk dalam kemampuan bersosialisasi.
Dilansir dari Expert Editor pada Selasa (17/2), terdapat tujuh pengalaman masa kecil yang menurut psikologi sering membentuk kecanggungan sosial di kemudian hari.
1. Terlalu Sering Dikritik atau Diperbaiki
Anak yang tumbuh dalam lingkungan yang penuh kritik sering belajar bahwa apa pun yang mereka lakukan “tidak cukup baik”. Kritik terus-menerus—terutama yang menyerang kepribadian, bukan perilaku—membentuk rasa takut membuat kesalahan.
Akibatnya, saat dewasa mereka menjadi sangat berhati-hati dalam berbicara. Mereka cenderung memikirkan setiap kata sebelum diucapkan, takut terdengar bodoh atau salah. Kecemasan ini membuat interaksi terasa kaku dan tidak alami.
2. Kurangnya Validasi Emosional
Ketika anak sering mendengar kalimat seperti “Jangan lebay”, “Kamu terlalu sensitif”, atau “Tidak usah nangis”, mereka belajar bahwa emosi mereka tidak valid. Dalam jangka panjang, ini bisa membuat seseorang kesulitan mengenali dan mengekspresikan perasaan.
Psikolog seperti Carl Rogers menekankan pentingnya unconditional positive regard—penerimaan tanpa syarat. Tanpa itu, anak dapat tumbuh dengan perasaan tidak aman secara emosional, yang kemudian muncul sebagai kecanggungan dalam hubungan sosial.
3. Mengalami Perundungan (Bullying)
Pengalaman dirundung di sekolah sangat memengaruhi cara seseorang melihat dunia sosial. Anak yang pernah dipermalukan atau dikucilkan sering mengembangkan keyakinan bahwa lingkungan sosial adalah tempat yang berbahaya.
Menurut Albert Bandura, kita belajar dari pengalaman langsung dan pengamatan. Jika interaksi sosial berulang kali dikaitkan dengan rasa sakit atau penghinaan, otak akan mengasosiasikan pergaulan dengan ancaman.
Hasilnya? Ketegangan, overthinking, dan kecanggungan setiap kali harus berinteraksi dengan orang baru.
4. Orang Tua yang Terlalu Protektif
Sekilas, perlindungan berlebihan tampak seperti kasih sayang. Namun ketika anak tidak diberi kesempatan mencoba, gagal, atau menyelesaikan konflik sendiri, mereka tidak mengembangkan kepercayaan diri sosial.
Anak yang selalu “diselamatkan” dari situasi sulit sering tumbuh menjadi orang dewasa yang meragukan kemampuan dirinya sendiri. Situasi sosial terasa menakutkan karena dulu mereka jarang diberi ruang untuk belajar menghadapinya.
5. Lingkungan yang Minim Interaksi Sosial
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Genoa vs Sudtirol di Coppa Italia: Grifone Berburu Gol di Stadio Ferraris
Prediksi Skor FC Seoul vs Persib di ACL Two: Maung Bandung Hadapi Ujian Berat di Korea
Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Espanyol di Liga Spanyol: Misi Berat Emil Audero di Kandang
Prediksi Skor Levante vs Athletic Bilbao di Liga Spanyol: Los Leones Bidik Poin di Laga Tandang
Prediksi Skor Olympiacos vs Jagiellonia Bialystok di Liga Europa: Thrylos Amankan 3 Poin Kandang
Prediksi Skor Reading vs Brentford di Carabao Cup: The Bees Bakal Sengat Tuan Rumah
Daftar Lengkap Korban Tenggelamnya Kapal Virgo Transport 8 yang Berhasil Dievakuasi
Prediksi Skor Al-Hilal vs Al-Gharafa di Liga Champions Asia: Gabriel Martinelli Cetak Gol Lagi!
Prediksi Genoa vs Sudtirol: Rotasi De Rossi Jadi Sorotan, Laga Coppa Italia Bisa Berlangsung Sengit
Prediksi Skor Atletico Madrid vs Osasuna di Liga Spanyol: Los Colchoneros Menang di Metropolitano

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022