
seseorang yang mengucapkan terima kasih secara alami./Freepik/gpointstudio
JawaPos.com - Dalam kehidupan sehari-hari, kata-kata sederhana seperti “tolong” dan “terima kasih” sering kali terdengar sepele.
Namun, menurut psikologi, kebiasaan mengucapkan dua kata ini bukanlah sekadar formalitas sosial.
Justru, hal tersebut mencerminkan pola kepribadian, kecerdasan emosional, dan kualitas didikan seseorang.
Psikologi sosial dan perkembangan menunjukkan bahwa individu yang konsisten menggunakan ungkapan sopan cenderung memiliki rasa hormat yang mendalam terhadap orang lain, lingkungan, dan dirinya sendiri.
Sikap ini biasanya terbentuk sejak dini melalui contoh dan nilai yang diajarkan dalam keluarga maupun lingkungan sosial.
Dilansir dari Geediting pada Selasa (27/1), terdapat 7 ciri hormat utama yang secara alami ditunjukkan oleh orang yang terbiasa mengucapkan “tolong” dan “terima kasih”, yang menurut psikologi menjadi tanda kuat dari didikan yang baik.
1. Menghargai Orang Lain sebagai Individu, Bukan Alat
Orang yang berkata “tolong” memahami bahwa bantuan dari orang lain bukan kewajiban, melainkan pilihan. Kata ini mencerminkan kesadaran bahwa setiap orang memiliki kehendak, waktu, dan perasaan sendiri.
Dalam psikologi, ini menunjukkan respect for autonomy, yaitu kemampuan menghormati batas dan kebebasan orang lain. Individu dengan ciri ini tidak melihat orang lain sebagai alat untuk memenuhi kebutuhannya, melainkan sebagai manusia yang setara.
2. Memiliki Kesadaran Sosial yang Tinggi
Mengucapkan “terima kasih” adalah tanda bahwa seseorang menyadari dampak tindakan orang lain terhadap dirinya. Ini menunjukkan empati dan kepekaan sosial.
Psikologi menyebutnya sebagai bagian dari social awareness, komponen penting dari kecerdasan emosional. Orang dengan kesadaran sosial tinggi lebih mudah membangun hubungan yang sehat karena mereka peka terhadap kontribusi sekecil apa pun dari orang lain.
3. Tidak Merasa Lebih Tinggi dari Orang Lain
Kebiasaan menggunakan bahasa sopan menunjukkan bahwa seseorang tidak memiliki rasa superioritas berlebihan. Mereka tidak merasa status, jabatan, usia, atau pengetahuan memberi hak untuk bersikap kasar.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jafar dan Adnan Diduga Terlibat Match Fixing, PBSI Langsung Ubah Komposisi Ganda Campuran
Hasil Piala Presiden: Persib Bandung vs Persebaya Surabaya 1-1, Lanjut ke Extra Time!
Prediksi Skor Persija Jakarta vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Macan Kemayoran Diunggulkan!
Prediksi Skor Singapura vs Timnas Indonesia di Piala AFF 2026: Misi John Herdman Demi Semifinal!
Prediksi Skor Persib vs Persebaya di Final Piala Presiden 2026: Maung Bandung Favorit Juara
Profil Jafar Hidayatullah dan Adnan Maulana: Diduga Match Fixing, Dicoret PBSI dari Kejuaraan Dunia
Prediksi Skor Singapura vs Timnas Indonesia di Piala AFF 2026: Pembuktian Sihir John Herdman!
Bertahun-Tahun Mogok Kerja, Tim 10 Pekerja Freeport Serahkan Tuntutan ke Said Iqbal
Prediksi Skor Persib vs Persebaya di Final Piala Presiden 2026: Duel Tim Kelelahan!
Senpi hingga Narkoba di Sekolah Swasta di Jaksel Ternyata Milik Eks Ketua Yayasan
