
seseorang yang menolak pembayaran Non Tunai./Freepik/EyeEm
JawaPos.com - Di tengah derasnya arus digitalisasi, pembayaran tanpa uang tunai—mulai dari QR code, e-wallet, hingga mobile banking—telah menjadi bagian dari keseharian banyak orang.
Di kafe kecil, parkiran, bahkan pedagang kaki lima, tulisan “QRIS tersedia” kini terasa lebih umum daripada “hanya tunai”.
Namun menariknya, tidak semua orang menyambut perubahan ini dengan antusias. Ada sebagian individu yang tetap memilih uang fisik, menolak memindai QR, atau merasa tidak nyaman meninggalkan transaksi tunai.
Sikap ini sering kali dianggap “ketinggalan zaman”, padahal menurut psikologi, penolakan terhadap pembayaran digital tidak selalu soal gagap teknologi.
Justru, di balik preferensi tersebut, tersembunyi pola kepribadian yang cukup khas dan menarik untuk dipahami.
Dilansir dari Geediting pada Jumat (23/1), terdapat lima ciri kepribadian unik yang, menurut sudut pandang psikologi, kerap dimiliki oleh orang-orang yang enggan menggunakan kode QR dan sistem pembayaran non-tunai.
1. Memiliki Kebutuhan Tinggi akan Kendali dan Kejelasan
Dalam psikologi kepribadian, sebagian orang memiliki high need for control—kebutuhan kuat untuk merasakan kendali langsung atas apa yang mereka lakukan, termasuk urusan keuangan.
Uang tunai memberikan sensasi yang sangat konkret: bisa dilihat, disentuh, dihitung, dan disimpan secara fisik.
Saat uang berpindah tangan, prosesnya jelas dan final. Berbeda dengan pembayaran digital yang bersifat abstrak—hanya angka di layar yang berkurang.
Bagi tipe kepribadian ini, kode QR dan e-wallet terasa “terlalu tak kasat mata”. Mereka cenderung merasa lebih aman ketika bisa memegang bukti fisik bahwa uang benar-benar ada dan benar-benar keluar.
Ini bukan soal tidak percaya teknologi, melainkan kebutuhan psikologis akan kejelasan dan kontrol langsung.
2. Cenderung Lebih Hati-hati dan Skeptis terhadap Risiko
Orang yang menolak pembayaran non-tunai sering kali memiliki tingkat risk aversion yang tinggi. Dalam psikologi, ini berarti mereka lebih sensitif terhadap potensi risiko, meskipun probabilitasnya kecil.
Isu seperti kebocoran data, akun dibobol, salah transfer, atau sistem error menjadi perhatian serius. Sekalipun kasusnya jarang, pikiran mereka secara alami akan fokus pada kemungkinan terburuk.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Swiss vs Slovenia di Liga Nations UEFA: La Nati Menang Besar di Thermoplan Arena
Prediksi Semen Padang vs PSPS Pekanbaru: Kabau Sirah Incar 3 Poin, Askar Bertuah Siap Bikin Kejutan!
Prediksi Skor Islandia vs Bulgaria di Liga Nations UEFA: Strákarnir okkar Tundukkan Tim Tamu
Prediksi Skor Kosovo vs Austria di Liga Nations UEFA: Das Team Perpanjang Rekor Tak Terkalahkan
Prediksi Skor Belarus vs San Marino di Liga Nations UEFA: Belyya Kryly Pesta Gol
Rekam Jejak Wadankor Brimob Irjen Victor Alexander Lateka, dari Densus 88 hingga BIN
Besan KDM Komjen Karyoto Dimutasi dari Jabatan Kabaharkam Jelang Pensiun
Prediksi Susunan Pemain Spanyol vs Ceko: De la Fuente dan Denia seperti Bermain Catur
Prediksi Finlandia vs Albania di UEFA Nations League: Duel Ketat Dua Tim Belum Kebobolan
Prediksi Skor Azerbaijan vs Lituania di Liga Nations UEFA: Milli Komanda Diprediksi Kembali Tertahan

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022