
ilustrasi orang yang memilih tujuan hidup daripada prestasi (Geediting)
JawaPos.com - Ada satu momen dalam hidup ketika seseorang menyadari bahwa ia telah lama “memanjat tangga yang salah”.
Secara lahiriah tampak sukses, tetapi di dalam justru muncul rasa hampa yang sulit dijelaskan. Perasaan inilah yang sering muncul ketika pencapaian tidak lagi memberikan kepuasan batin.
Dilansir dari laman Geediting, Minggu (27/12), banyak orang di paruh kedua hidup—usia 40 tahun ke atas—mengalami pergeseran besar.
Fokus yang semula tertuju pada prestasi, jabatan, dan pengakuan, perlahan bergeser ke arah yang lebih bermakna: tujuan hidup.
Berikut 10 ciri yang kerap dimiliki orang-orang yang memilih hidup berlandaskan tujuan, bukan sekadar pencapaian.
Bagi mereka, keamanan finansial tetap penting, tetapi bukan lagi tolok ukur utama. Kesuksesan lebih dirasakan dari siapa yang telah mereka bantu dan dampak positif yang ditinggalkan.
Mereka lebih bersemangat berbicara tentang kontribusi sosial dibandingkan angka gaji atau jabatan.
Orang yang hidup dengan tujuan memahami bahwa perfeksionisme sering kali justru menghambat.
Mereka tetap peduli kualitas, tetapi tidak lagi terjebak pada detail yang tidak esensial. Energi diarahkan pada hal-hal yang benar-benar bermakna.
Peralihan dari prestasi ke tujuan terlihat jelas dalam cara mereka berinteraksi. Mereka tidak lagi berusaha mengesankan orang lain, melainkan sungguh-sungguh hadir dan mendengarkan. Percakapan menjadi lebih dalam, tulus, dan manusiawi.
Orang-orang ini sangat sadar akan waktu dan energi mereka. Mereka tidak lagi merasa wajib menghadiri semua acara atau memenuhi semua ekspektasi sosial. Sebaliknya, mereka selalu hadir penuh untuk hal dan orang yang benar-benar penting.
Baca Juga: Ramalan 2026 Untuk 4 Zodiak yang Berpotensi Mendapat Rezeki Miliaran dan Lonjakan Finansial
Alih-alih terus mengumpulkan tanggung jawab dan simbol status, mereka justru melepaskan banyak hal.
Menyederhanakan hidup, mengurangi beban, dan meninggalkan peran yang tidak lagi relevan menciptakan ruang bagi ketenangan dan makna baru.
Belajar tidak lagi harus berujung pada sertifikat atau pengakuan. Mereka mengikuti kelas, mencoba hobi baru, bepergian, atau berkarya semata karena rasa ingin tahu dan kegembiraan. Belajar menjadi sarana untuk tetap hidup, bukan untuk pembuktian diri.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Ariel NOAH 18 Tahun Menduda, Dekat dengan Wulan Guritno di Ultah ke-45
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Viral Pegawai BGN Sindir Korban Keracunan MBG Sambil Makan Chicken Katsu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sudah Tak Jadi Menkeu, Uang Rp 100 Ribu Bertanda Tangan Purbaya Malah Diburu
10 Kali Sidang Kasus Kuota Haji, Saksi Beberkan Tak Ada Dugaan Kerugian Negara
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022