
seseorang yang kesulitan menghadapi masa pensiun./ Freepik/freepik
JawaPos.com - Bagi banyak orang, masa pensiun terdengar seperti hadiah besar setelah puluhan tahun bekerja: waktu luang, kebebasan, dan kesempatan menikmati hidup tanpa tekanan kantor.
Namun dalam praktiknya, tidak sedikit individu justru merasa cemas, kehilangan arah, bahkan terpuruk secara emosional ketika benar-benar memasuki fase ini.
Psikologi modern memandang pensiun bukan sekadar perubahan status pekerjaan, melainkan transisi identitas hidup.
Ketika seseorang terlalu lama mendefinisikan dirinya melalui jabatan, rutinitas, dan peran profesional, pensiun bisa terasa seperti kehilangan “siapa diri kita sebenarnya”.
Menurut berbagai kajian psikologi perkembangan dan psikologi positif, orang yang paling kesulitan menghadapi masa pensiun umumnya bukan kekurangan uang semata, melainkan kekurangan kualitas psikologis tertentu.
Dilansir dari Geediting pada Kamis (25/12), terdapat tujuh kualitas penting yang sering kali absen—dan membuat masa pensiun terasa berat alih-alih membebaskan.
1. Identitas Diri di Luar Pekerjaan
Salah satu penyebab utama krisis pensiun adalah identitas yang terlalu melekat pada pekerjaan.
Selama bertahun-tahun, seseorang mungkin dikenal sebagai “manajer”, “pegawai negeri”, atau “direktur”. Ketika titel itu hilang, muncul kekosongan besar dalam cara memandang diri sendiri.
Psikologi menyebut ini sebagai role identity loss. Tanpa identitas alternatif—seperti hobi, peran sosial, atau minat personal—pensiun terasa seperti kehilangan makna hidup.
Orang yang siap pensiun biasanya telah membangun jati diri yang lebih luas: sebagai pembelajar, mentor, relawan, seniman, atau sekadar individu yang menikmati hidup.
2. Fleksibilitas Mental terhadap Perubahan
Masa pensiun menuntut kemampuan beradaptasi. Rutinitas yang dulu terstruktur kini menghilang, ritme hidup berubah drastis, dan peran sosial ikut bergeser.
Individu yang kesulitan menghadapi pensiun umumnya kaku secara mental—terbiasa dengan pola tetap dan sulit menerima perubahan.
Dalam psikologi, fleksibilitas kognitif adalah kunci kesehatan mental di usia lanjut. Tanpanya, perubahan kecil saja bisa terasa mengancam dan memicu stres berkepanjangan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Swiss vs Slovenia di Liga Nations UEFA: La Nati Menang Besar di Thermoplan Arena
Prediksi Semen Padang vs PSPS Pekanbaru: Kabau Sirah Incar 3 Poin, Askar Bertuah Siap Bikin Kejutan!
Prediksi Skor Islandia vs Bulgaria di Liga Nations UEFA: Strákarnir okkar Tundukkan Tim Tamu
Prediksi Skor Kosovo vs Austria di Liga Nations UEFA: Das Team Perpanjang Rekor Tak Terkalahkan
Prediksi Skor Belarus vs San Marino di Liga Nations UEFA: Belyya Kryly Pesta Gol
Rekam Jejak Wadankor Brimob Irjen Victor Alexander Lateka, dari Densus 88 hingga BIN
Besan KDM Komjen Karyoto Dimutasi dari Jabatan Kabaharkam Jelang Pensiun
Prediksi Susunan Pemain Spanyol vs Ceko: De la Fuente dan Denia seperti Bermain Catur
Prediksi Finlandia vs Albania di UEFA Nations League: Duel Ketat Dua Tim Belum Kebobolan
Prediksi Skor Azerbaijan vs Lituania di Liga Nations UEFA: Milli Komanda Diprediksi Kembali Tertahan

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022