Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 26 Desember 2025 | 05.22 WIB

Psikologi Mengungkap 9 Tanda Pria Kehilangan Kebahagiaan Hidup Secara Diam-Diam

Ilustrasi orang yang kehilangan motivasi dan semangat. (Freepik) - Image

Ilustrasi orang yang kehilangan motivasi dan semangat. (Freepik)

JawaPos.com - Tidak semua kehilangan kebahagiaan datang dengan tanda yang jelas. Pada banyak pria, rasa hampa justru hadir perlahan dan nyaris tak terlihat.

Tidak ada ledakan emosi, tidak ada pengakuan terbuka bahwa hidup terasa kosong. Yang ada hanyalah perubahan kecil yang sering disalahartikan sebagai kelelahan, stres, atau proses menua.

Padahal menurut psikologi, ada pola perilaku tertentu yang kerap muncul ketika seorang pria secara diam-diam kehilangan kegembiraan hidupnya.

Tanda-tanda ini sering luput dari perhatian, baik oleh orang terdekat maupun oleh dirinya sendiri.

Dikutip dari laman Geediting, Rabu (24/12), berikut sembilan perilaku halus yang kerap menunjukkan bahwa seorang pria sedang kehilangan rasa bahagia dalam hidupnya.

1. Berhenti membuat rencana untuk masa depan

Pria yang kehilangan kebahagiaan biasanya tidak lagi antusias membicarakan masa depan. Pertanyaan sederhana tentang liburan, rencana beberapa bulan ke depan, atau impian jangka panjang sering dijawab singkat atau dihindari.

Dalam psikologi, kondisi ini berkaitan dengan anhedonia, yaitu ketidakmampuan merasakan kesenangan, termasuk membayangkan kesenangan di masa depan. Ketika harapan terasa kosong, membuat rencana pun dianggap tidak bermakna.

2. Mudah tersulut emosi oleh hal sepele

Masalah kecil bisa terasa sangat besar. Kemacetan, alat rumah tangga rusak, atau gangguan ringan mampu memicu reaksi emosional yang berlebihan.

Psikolog menjelaskan bahwa saat kebahagiaan menghilang, keseimbangan emosi terganggu. Tanpa pengalaman positif sebagai penyeimbang, frustrasi kecil terasa jauh lebih berat dari seharusnya.

3. Menarik diri dari lingkungan sosial

Ajakan berkumpul yang dulu dinikmati kini terasa melelahkan. Pertemuan dengan teman, komunitas, atau sekadar nongkrong santai perlahan mulai dihindari.

Penarikan diri ini bukan karena tidak peduli, melainkan karena interaksi sosial membutuhkan energi emosional yang sudah menipis. Sayangnya, isolasi justru memperdalam perasaan hampa tersebut.

4. Perawatan diri perlahan memburuk

Kebiasaan merawat diri mulai terabaikan. Jadwal olahraga terhenti, potong rambut ditunda, pakaian dipilih seadanya. Bukan karena malas, tetapi karena muncul perasaan bahwa semua itu tidak lagi penting.

Dalam banyak kasus, ini berkaitan dengan menurunnya rasa berharga terhadap diri sendiri.

5. Pekerjaan menjadi tempat pelarian

Bekerja terlalu lama sering dipuji sebagai dedikasi. Namun bagi sebagian pria, pekerjaan justru menjadi cara aman untuk menghindari perasaan kosong di rumah.

Kesibukan memberikan struktur dan distraksi, tetapi juga menunda proses menghadapi emosi yang sebenarnya perlu dipahami dan disembuhkan.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore