
seseorang yang tidak disukai cucunya./Freepik/zinkevych
JawaPos.com - Hubungan antara kakek-nenek dan cucu sering kali dibayangkan sebagai ikatan hangat penuh tawa, cerita masa lalu, dan kasih tanpa syarat.
Namun dalam kenyataannya, tidak sedikit kakek atau nenek yang diam-diam merasa bingung: mengapa cucu saya terlihat canggung, menjauh, atau tidak betah berada dekat saya?
Perasaan ini tentu menyakitkan, apalagi jika niat Anda sejatinya tulus.
Dilansir dari Expert Editor pada Jumat (19/12), psikologi menjelaskan bahwa ketidaknyamanan anak—termasuk cucu—tidak selalu disebabkan oleh kurangnya kasih sayang. Justru sering kali muncul dari pola perilaku kecil yang dilakukan orang dewasa tanpa disadari, berulang, dan dianggap “biasa”.
Artikel ini tidak bertujuan menyalahkan, melainkan mengajak Anda bercermin dengan lembut. Bisa jadi, tanpa sadar, Anda melakukan beberapa hal berikut.
1. Terlalu Sering Mengkritik dengan Dalih “Demi Kebaikan”
Menurut psikologi perkembangan, anak sangat peka terhadap nada evaluasi. Ketika cucu sering mendengar komentar seperti “Kok kamu lemah?”, “Zaman sekarang anak manja”, atau “Harusnya bisa lebih baik”, otaknya menangkap pesan bahwa ia tidak cukup baik.
Walau maksud Anda mendidik, kritik yang terlalu sering—terutama tanpa diimbangi empati—membuat anak merasa tidak aman secara emosional. Akibatnya, ia menjaga jarak demi melindungi perasaannya.
2. Tidak Menghargai Batasan Fisik dan Emosional
Baca Juga: Ramalan Zodiak Leo dan Virgo Besok Senin, 22 Desember 2025: Karier, Cinta, Keuangan, dan Kesehatan
Memeluk, mencubit pipi, atau memaksa anak duduk dekat sering dianggap wajar oleh generasi lama. Namun psikologi modern menekankan pentingnya personal boundaries, bahkan pada anak kecil.
Ketika cucu menolak digendong atau dipeluk tetapi tetap dipaksa, ia belajar bahwa perasaannya tidak penting. Rasa tidak nyaman pun muncul, dan lama-kelamaan ia akan menghindari situasi yang membuatnya merasa kehilangan kendali.
3. Membandingkan dengan Anak atau Cucu Lain
Ucapan seperti “Kakaknya lebih pintar” atau “Sepupumu lebih penurut” meninggalkan luka psikologis yang dalam. Otak anak memproses perbandingan sebagai ancaman terhadap harga diri.
Psikologi menyebut ini sebagai social comparison stress. Anak yang sering dibandingkan akan merasa kehadirannya selalu dinilai, bukan diterima. Tak heran jika ia memilih menjauh demi menghindari rasa gagal.

Prediksi Skor Arema FC vs DPMM FC di Piala Presiden 2026! Momentum Singo Edan Lolos ke Semifinal
Suami Endah Fitrianingsih Sakit Hati ke Malik Bawazier Atas Kasus Perzinaan
Prediksi Skor Persib Bandung vs Tampines Rovers di Piala Presiden 2026! Maung Bandung Bisa Sapu Bersih Laga
Laporkan Malik Bawazier, Suami Endah Fitrianingsih Jadikan CCTV Bukti Perzinaan
Pelapor Perzinaan Malik Bawazier Dicecar 28 Pertanyaan di Polda Metro Jaya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Iran Ubah Strategi Perang, Teheran Kini Sengaja Paksa AS Masuk ke Konflik Lebih Besar
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Staf KPK dari Kepolisian Jadi tersangka Kasus Pemalang, Diduga Peras Bupati Anom
10 Ribu Massa PSHT Gelar Aksi di Surabaya Imbas Konflik DC dan Petugas Valet
