
Ilustrasi seorang wanita tua yang duduk sendirian di taman./Freepik
JawaPos.com - Seiring bertambahnya usia, beberapa individu di atas 70 tahun mulai menunjukkan kecenderungan untuk melepaskan diri secara emosional dari dunia sekitarnya.
Ini bukanlah tanda kepribadian tertutup, melainkan respons terhadap serangkaian perubahan besar dalam hidup yang sangat menguras mental. Proses ini terjadi secara bertahap dan sering kali tidak terlihat oleh orang-orang terdekat, padahal dapat berakar pada beberapa alasan psikologis.
Dalam menghadapi tantangan unik ini, sangatlah penting untuk memahami faktor-faktor pendorongnya, mengingat hal ini memengaruhi kesejahteraan mereka; melansir dari Geediting.com Kamis (30/10) telah mengidentifikasi tujuh pemicu utama. Pemicu ini, seperti akumulasi kesedihan hingga hambatan teknologi, secara perlahan menciptakan jarak.
Dengan memahami pemicu ini, kita dapat merespons dengan kepekaan dan dukungan yang lebih baik.
1. Akumulasi Duka yang Belum Diproses
Seiring bertambahnya usia, mereka mengalami kehilangan orang terkasih, termasuk pasangan, saudara, dan teman-teman dekat. Duka yang terus menumpuk tanpa diproses dengan baik dapat menciptakan tembok emosional yang tebal. Akibatnya, mereka memilih untuk menarik diri daripada menghadapi kesedihan yang berkelanjutan.
2. Keterbatasan Fisik yang Memperkecil Ruang Gerak
Masalah mobilitas, gangguan pendengaran, dan kelelahan fisik dapat membuat partisipasi sosial menjadi sulit. Saat seseorang tidak bisa lagi menikmati acara seperti dulu, mereka cenderung berhenti keluar rumah. Ruang gerak mereka secara harfiah menjadi lebih kecil.
3. Teknologi Membuat Mereka Merasa Terasing
Banyak orang yang berusia di atas 70 tahun merasa tertinggal oleh pesatnya perkembangan teknologi modern. Mereka kesulitan menavigasi perangkat digital, sehingga merasa tidak relevan di dunia yang serba terhubung. Teknologi, alih-alih menghubungkan, malah menciptakan perasaan terasing.
4. Kekecewaan Berulang dari Orang Terpenting
Kekecewaan emosional yang datang dari anak, cucu, atau orang-orang yang sangat dicintai dapat melukai batin mereka. Rasa sakit akibat pengabaian atau janji yang tidak ditepati akan menumpulkan keinginan mereka untuk berinvestasi emosi lagi. Mereka memilih mundur sebagai bentuk perlindungan diri.
5. Rasa Sakit Kronis Menciptakan Tembok Tak Kasat Mata
Rasa sakit fisik yang kronis dapat menjadi pekerjaan penuh waktu untuk dikelola. Rasa sakit yang tidak terlihat ini membuat orang lain berasumsi mereka baik-baik saja dan tidak membutuhkan bantuan. Mereka sering dianggap memilih tidak berpartisipasi karena orang lain tidak melihat perjuangan mereka.
6. Takut Menjadi Beban bagi Orang Lain
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Levante vs Real Betis di Liga Spanyol 2026/2027: Tim Tamu Bisa Curi 3 Poin!
Prediksi Skor Tottenham Hotspur vs Newcastle di Liga Inggris 2026/2027: Sengit, Berpotensi Imbang!
Prediksi Skor Coventry City vs Hull City di Liga Inggris 2026/2027: Bisa Berakhir Imbang!
Prediksi Susunan Pemain Sevilla vs Atletico Madrid di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Go Ahead Eagles di Liga Belanda 2026/2027: Kans Tuan Rumah Pesta Gol!
Prediksi Skor Monaco vs Marseille di Liga Prancis: Les Phoceens Tak Ingin Malu di Stade Louis II
Prediksi Skor Bournemouth vs Everton di Liga Inggris 2026/2027: Berpotensi Imbang!
Prediksi Skor Real Sociedad vs Espanyol: Los Periquitos Bisa Curi Poin di Anoeta?
Prediksi Skor Leeds United vs Brentford: The Bees Siap Sengat Tuan Rumah di Elland Road!
