Logo JawaPos
Author avatar - Image
27 Oktober 2025, 15.52 WIB

Kelihatannya Sehat, Tapi Ternyata Jahat! 6 Ciri Batasan Diri yang Toksik Menurut Psikologi

Kelihatannya Sehat, Tapi Ternyata Jahat! 6 Ciri Batasan Diri yang Toksik Menurut Psikologi (Freepik/ Drazen Zigic) - Image

Kelihatannya Sehat, Tapi Ternyata Jahat! 6 Ciri Batasan Diri yang Toksik Menurut Psikologi (Freepik/ Drazen Zigic)

JawaPos.com - Dalam hubungan yang sehat, batasan diri (boundaries) berperan penting untuk menjaga keseimbangan emosional dan mental. Batasan membantu kamu mengenali kebutuhan pribadi sekaligus menghormati ruang orang lain. 

Namun, pada salah satu video di kanal Youtube psikologi populer yakni Psych2go dijelaskan bahwa, tidak semua batasan diciptakan dengan niat yang tulus.

Kadang, batasan justru digunakan sebagai alat kontrol dan manipulasi, baik secara sadar maupun tidak. Inilah yang disebut weaponized boundaries atau batasan yang “dipersenjatai”.

Fenomena ini sering kali tak terlihat. Di permukaan, tampak seperti tindakan menjaga diri.

Namun, di baliknya, tersimpan keinginan untuk mengatur, menghukum, atau mendominasi pihak lain.

Agar kamu bisa lebih waspada, berikut enam tanda bahwa batasan yang tampak sehat sebenarnya digunakan sebagai alat manipulasi.

1. Batasan Diputuskan Sepihak

Batasan yang sehat harus dibicarakan dan disepakati bersama. Jika seseorang tiba-tiba memutuskan batas tanpa diskusi, misalnya dengan berkata, “Aku nggak mau bahas ini, ini batasanku, hargailah” saat kamu ingin menyelesaikan masalah bersama, itu bukan batasan sehat, tapi bentuk kontrol. Cobalah alternatif yang lebih bijak, seperti: “Aku butuh waktu untuk menenangkan diri, tapi nanti kita bahas lagi.”

2. Batasan Sering Berubah Sesuai Kepentingan

Batasan yang sehat bersifat konsisten dan jelas. Namun, jika seseorang terus mengubahnya sesuai keinginan atau situasi, hal itu bisa membuatmu bingung dan tidak aman. 

Misalnya, seseorang menuduhmu “memanfaatkan kebaikan” setelah memberi hadiah pada mereka, padahal pemberian itu dilakukan dengan sukarela. Sikap ini menunjukkan bahwa batasan digunakan untuk menciptakan rasa bersalah dan mengontrol.

3. Batasan Digunakan Sebagai Hukuman

Kadang seseorang mengatakan “aku butuh ruang” padahal tujuannya untuk menghukum, bukan menenangkan diri. Memberi “silent treatment” dengan alasan batasan diri adalah bentuk manipulasi emosional. 

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore