Menjadi dewasa bukan soal usia, tapi keberanian mengambil tanggung jawab dan membangun kehidupan yang mandiri.
JawaPos.com- Menurut studi yang dilakukan oleh perusahaan asuransi jiwa Beagle Street dan diterbitkan oleh The Independent, rata-rata orang Inggris baru benar-benar merasa seperti orang dewasa pada usia 29 tahun delapan tahun lebih lambat dibandingkan standar orang Amerika.
Namun, menjadi dewasa ternyata bukan sekadar soal usia. Setiap orang punya perjalanan hidup yang berbeda. Ada yang cepat merasa dewasa, ada juga yang butuh waktu lebih lama untuk benar-benar menyadari peran dan tanggung jawabnya.
Kata youthfulness (jiwa muda) sering disalahartikan sebagai immaturity (ketidakdewasaan). Padahal, banyak orang tampak awet muda bukan karena rahasia khusus, tetapi karena belum berperilaku seperti orang dewasa.
Seperti yang dijelaskan oleh Matthew Gledhill, Managing Director Beagle Street.
"Menjadi dewasa bukan soal usia, tapi tentang pencapaian hidup dan tanggung jawab baru. Setiap fase kehidupan menuntut kita untuk lebih bertanggung jawab, terutama ketika ada orang lain yang bergantung pada kita," ungkapnya.
Dilansir dari Your Tango, berikut 7 alasan mengapa banyak orang dewasa masih belum merasa seperti orang dewasa sebenarnya.
Baca Juga: 4 Tips Memilih Aroma Parfum yang Tepat untuk Anda, Sesuai Gaya Hidup atau Kepribadian? Simak!
Salah satu tanda paling kuat seseorang mulai merasa dewasa adalah memiliki rumah sendiri. Sulit untuk merasa mandiri ketika masih bergantung secara finansial atau tinggal di bawah atap orang tua.
Sayangnya, kondisi pasar properti yang makin mahal membuat generasi muda sulit membeli rumah. Menurut laporan National Association of Realtors 2024, rata-rata usia pembeli rumah pertama kini mencapai 38 tahun meningkat tajam dari dekade sebelumnya.
Tidak ada yang membuat seseorang tumbuh dewasa secepat menjadi orang tua. Kehadiran anak otomatis memaksa kita untuk bertanggung jawab penuh terhadap kehidupan orang lain.
Namun, kini semakin banyak orang memilih tidak memiliki anak baik karena alasan ekonomi maupun karena memang tidak ingin memikul tanggung jawab sebesar itu. Menariknya, keputusan ini kini lebih diterima secara sosial dibanding dulu.
Pernikahan masih dianggap sebagai tonggak kedewasaan klasik. Namun, banyak orang modern menunda menikah untuk fokus pada karier atau menunggu pasangan yang tepat.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
