
Ilustrasi seorang dewasa yang sedang membawa barang sendirian, menunjukkan keengganan meminta bantuan./Freepik
JawaPos.com - Kita semua mengenal tipe orang yang sangat mandiri, bahkan hingga batas yang menyakiti diri sendiri.
Mereka akan memilih menderita daripada meminta bantuan dari orang lain. Sikap ini bukanlah tentang kekuatan atau kemandirian sejati, melainkan sesuatu yang dipelajari sejak lama.
Melansir dari Geediting.com Selasa (14/10), psikologi menyebut perilaku ini sebagai hyper-independence. Perilaku ini berakar dari keyakinan bahwa membutuhkan orang lain itu berbahaya. Ada tujuh pengalaman masa kecil yang menyedihkan yang membentuk ketidakmauan ini.
1. Kebutuhan Dianggap Merepotkan
Saat kecil, tangisan karena lapar atau sakit perut sering diabaikan atau disuruh berhenti mengeluh. Pesan yang tertanam adalah bahwa meminta bantuan tidak akan membuahkan hasil. Orang dewasa yang mengalami penelantaran emosional masa kecil cenderung mengecilkan kesulitan.
Mereka meyakini orang "kuat" tidak akan membutuhkan apa pun. Alhasil, mereka lebih memilih menderita daripada menanggung rasa malu karena mengulurkan tangan.
2. Dihukum Karena Kerentanan
Tumbuh besar dengan ancaman seperti, "Berhenti menangis atau aku akan memberimu alasan untuk menangis," sangatlah traumatis. Saat tangisan mendatangkan cemoohan, anak belajar bahwa kerentanan adalah musuh yang harus dihindari. Rasa cemas muncul secara fisik saat berpikir untuk meminta bantuan.
Mereka tidak bisa membayangkan kebaikan karena pengalaman pertama mereka adalah kekejaman. Tubuh mereka mengingat pengalaman pahit tersebut.
3. Melihat Orang Tua Mengorbankan Diri
Ada anak yang menyaksikan orang tua mereka bekerja saat sakit atau tidak pernah mengeluh kesakitan. Pelajaran yang ditangkap jelas: orang baik tidak memerlukan bantuan dari siapa pun. Anak itu tidak mampu membedakan kemandirian dari penghancuran diri sendiri.
Mereka mewarisi gagasan beracun bahwa kuat berarti menghancurkan diri secara perlahan-lahan. Meminta dukungan terasa seperti gagal dalam ujian yang dipelajari sepanjang masa kecil.
4. Menjadi Manajer Emosional Keluarga
Situasi ini disebut parentification, di mana anak harus bertanggung jawab atas stabilitas emosional orang tua. Anak yang parentified berjuang menerima bantuan sebagai orang dewasa. Otot untuk menerima bantuan tidak pernah terbentuk karena tidak pernah dialami.
Mereka terbiasa berada dalam peran memberi, sehingga menerima terasa asing dan salah. Hal ini terjadi saat anak mengambil peran dewasa yang seharusnya tidak menjadi tanggung jawabnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Belgia vs Prancis di Liga Nations UEFA: Les Bleus Unggul Tipis dari Tuan Rumah
Prediksi Susunan Pemain Prancis vs Belgia: Tanpa Mbappe, Zidane Hadapi Ujian Berat
Prediksi Skor Moldova vs Kepulauan Faroe: Landsliðið Unggul Tipis dari Tuan Rumah
Gelar Pertemuan, BEM UI, SEMA UGM, dan KM ITB Sepakat Gelar Aksi Besar dalam Waktu Dekat
Prediksi Skor Georgia vs Ukraina di UEFA Nations League: Misi Berat Kvaratskhelia Cs di Kandang
Prediksi Skor Armenia vs Montenegro di Liga Nations UEFA: Hrabri Sokoli Bakal Sulitkan Tuan Rumah
Prediksi Skor Slovenia vs Makedonia Utara di Liga Nations UEFA: Fantje Kalahkan Tim Tamu
Prediksi Skor Turki vs Italia di Liga Nations UEFA: Kans Ay-Yıldızlılar Hentikan Perlawanan Azzurri
Prediksi Skor Skotlandia vs Swiss di Liga Nations UEFA: Nati Kalahkan Tuan Rumah dengan Skor Telak
Prediksi Skor Armenia vs Montenegro di UEFA Nations League: Siapa Paling Kuat?

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022