Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 15 Oktober 2025 | 01.39 WIB

Orang yang Sangat Egois Namun Tidak Menyadarinya Biasanya Menunjukkan 8 Perilaku Ini Menurut Psikologi

seseorang yang sangat egois tapi tidak menyadarinya


JawaPos.com - Di dunia yang serba cepat dan kompetitif ini, kita sering kali diminta untuk “mencintai diri sendiri” dan “menjadi versi terbaik dari diri kita.” 

 
Tapi tanpa disadari, pesan semacam ini kadang berubah arah — dari cinta diri yang sehat menjadi sikap egois yang tak terlihat. 
 
Ironisnya, orang yang sangat egois sering kali justru tidak menyadari bahwa mereka seperti itu.
 
Baca Juga: 8 Pola Perilaku yang Menunjukkan Anda Hidup Bersama Orang yang Sangat Egois

Menurut psikologi sosial, egoisme yang tidak disadari ini bisa muncul dari kebutuhan mendalam untuk diakui, rasa tidak aman yang terselubung, atau mekanisme pertahanan diri. 
 
Orang seperti ini mungkin merasa dirinya peduli, realistis, atau tegas — padahal banyak perilakunya sebenarnya berpusat hanya pada “aku.”

Dilansir dari Geediting pada Senin (13/10), terdapat delapan perilaku yang biasanya muncul pada orang yang egois tanpa mereka sadari.
 
Baca Juga: Bukan Sekadar Pamer, Ini 10 Perilaku Halus Tanda Seseorang Benar-benar Kaya Raya

1. Selalu Mengaitkan Segala Sesuatu dengan Diri Sendiri


Coba perhatikan ketika seseorang selalu berhasil mengaitkan setiap topik dengan dirinya. 
 
Ketika kamu bercerita tentang kesulitan kerja, dia justru menimpali, “Aku dulu juga pernah, tapi lebih parah!” atau ketika kamu bahagia, ia segera menimpali dengan kisah keberhasilannya sendiri.

Menurut self-referential bias dalam psikologi kognitif, orang yang terlalu fokus pada diri sendiri cenderung menilai segala sesuatu dari kacamata pribadi, bukan dari sudut pandang orang lain. 
 
Mereka tidak bermaksud jahat, tapi pikirannya terprogram untuk menjadikan dirinya pusat semesta.

2. Sulit Mendengarkan Secara Aktif


Egois bukan hanya soal berbicara tentang diri sendiri, tetapi juga soal tidak benar-benar mendengarkan. 
 
Orang egois sering terlihat seperti sedang mendengarkan, padahal pikirannya sibuk menunggu giliran bicara.

Psikolog Carl Rogers menyebut active listening sebagai salah satu bentuk empati paling mendasar. 
 
Namun bagi individu yang egosentris, empati terasa seperti kehilangan kendali — karena itu berarti harus menyingkirkan “aku” untuk sementara.

3. Merasa Pendapatnya Selalu Benar


Orang yang sangat egois biasanya sulit menerima bahwa pandangannya bisa salah.
 
Dalam psikologi sosial, fenomena ini disebut confirmation bias — kecenderungan mencari bukti yang memperkuat keyakinan sendiri dan menolak hal yang bertentangan.

Akibatnya, mereka sering tampak keras kepala, bahkan ketika dihadapkan pada fakta. 
 
Ego mereka seolah menjadi tameng dari rasa malu, karena mengakui kesalahan berarti mengakui bahwa dunia tidak selalu berputar sesuai keinginannya.

4. Menuntut Perhatian Lebih, Tapi Jarang Memberikannya


Orang yang egois cenderung menganggap perhatian sebagai hak, bukan sebagai pertukaran timbal balik. 
 
Mereka ingin didengarkan, dihargai, dan dipahami — tetapi sering gagal memberikan hal yang sama pada orang lain.

Menurut teori reciprocity dalam psikologi sosial, hubungan sehat dibangun atas dasar keseimbangan memberi dan menerima. 
 
Ketika seseorang hanya berfokus pada kebutuhan emosionalnya sendiri, ia sebenarnya sedang menciptakan relasi yang timpang tanpa menyadarinya.

5. Sulit Menerima Kritik, Namun Mudah Mengkritik Orang Lain

Salah satu tanda paling halus dari egoisme tersembunyi adalah reaksi berlebihan terhadap kritik. 
 
Mereka mungkin defensif, menyalahkan keadaan, atau mencari-cari alasan. 
 
Anehnya, mereka justru sangat mudah menilai kesalahan orang lain.

Psikologi menyebut ini sebagai projection mechanism — ketika seseorang tanpa sadar memproyeksikan kelemahan dirinya pada orang lain. 
 
Kritik terasa mengancam karena menembus lapisan citra diri yang rapuh, padahal di baliknya hanya ada kebutuhan untuk merasa cukup.

6. Suka Mengontrol dengan Alasan “Peduli”


Ada bentuk egoisme yang berkamuflase sebagai kepedulian. 
 
Misalnya, seseorang yang sering berkata, “Aku cuma mau yang terbaik untukmu,” tapi terus-menerus ikut campur dalam keputusan hidup orang lain.

Menurut konsep psychological control, perilaku seperti ini sebenarnya didorong oleh keinginan untuk mempertahankan kekuasaan emosional. 
 
Ia mungkin tidak sadar bahwa “kepedulian” itu sering kali hanya cara halus untuk memastikan bahwa orang lain tetap berjalan sesuai dengan kehendaknya.

7. Menghindari Tanggung Jawab Emosional


Ketika sesuatu berjalan salah, orang yang egois sering kali berkata, “Itu bukan salahku.” 
 
Mereka jarang meminta maaf secara tulus, karena dalam pikirannya, kesalahan selalu ada di luar dirinya.

Psikolog menyebut ini sebagai external locus of control — keyakinan bahwa semua hal ditentukan oleh faktor luar, bukan oleh tindakan sendiri. 
 
Sikap ini membuat mereka sulit tumbuh, karena mereka tidak pernah meninjau ulang kontribusinya terhadap masalah.

8. Berpura-Pura Rendah Hati untuk Mendapat Simpati


Ironisnya, sebagian orang yang tampak rendah hati justru sangat egois secara halus. 
 
Mereka sering merendahkan diri secara verbal (“Ah, aku ini nggak seberapa”), tapi di balik itu berharap orang lain menyanjungnya.

Ini disebut humblebragging — strategi sosial untuk mendapatkan validasi tanpa terlihat sombong. 
 
Dalam psikologi kepribadian, hal ini mencerminkan kebutuhan tinggi akan pengakuan yang dibungkus dengan citra kesederhanaan.

Penutup: Cermin yang Tidak Pernah Berdusta


Menjadi egois bukan dosa, tetapi menyangkal bahwa kita egois adalah bentuk kebutaan diri. 
 
Setiap manusia memiliki sisi egosentris, namun kedewasaan dimulai ketika kita berani mengakuinya.

Psikologi mengajarkan bahwa kesadaran diri (self-awareness) adalah langkah pertama menuju empati. 
 
Ketika kita belajar berhenti menjadikan diri sendiri sebagai pusat, dunia di sekitar pun terasa lebih luas — dan hubungan dengan orang lain menjadi lebih hangat, manusiawi, dan jujur.
 

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore