
Perfeksionisme bisa bikin stres? Simak tips pencegahannya di sini. ( Freepik/wayhomestudio)
JawaPos.com - Perfeksionis sering dianggap sebagai suatu hal yang positif. Tapi, tahukah kamu? Kepribadian ini ternyata memiliki sisi negatif yang bisa merugikan diri kamu sendiri.
Orang perfeksionis biasanya ingin selalu terlihat sempurna. Nah, menurut laman Alodokter, hal ini bisa menyebabkan stres, merasa tidak bahagia dan tidak puas (disforia), frustasi, sampai insomnia. Seperti apa penjelasannya? Yuk, simak.
Apa Itu Perfeksionisme?
Seorang psikiater, dr. Jiemi Ardian, lewat instagram pribadinya (@jiemiardian) membagikan informasi bahwa perfeksionisme bukanlah mengejar kesempurnaan. Bukan pula tidak boleh melakukan kesalahan, atau bahkan harus memuaskan ekspektasi semua orang.
"Perfeksionisme itu bukan tentang menjadi sempurna, tetapi justru tentang rasa takut. Ada satu komponen yang seringkali terjadi pada orang perfeksionis yaitu dia merasa takut," ujarnya.
Rasa takut itu bisa berupa takut mengecewakan orang lain, takut tidak bisa menjadi orang yang luar biasa, takut direndahkan atau dinilai tidak berharga jika tidak berprestasi, dan lain sebagainya.
Berbeda dengan persepsi kebanyakan orang, menurut dr. Jiemi, perfeksionis justru sangat menghindari ketidaksempurnaan.
"Ketika seseorang mengejar kesempurnaan, artinya dia fokus ingin menjadi sempurna. Dia akan berusaha terus-menerus "mendekati" sempurna. Walaupun tentu tidak ada yang sempurna di dunia ini," ujarnya.
Nah, berbeda dengan orang yang menghindari ketidaksempurnaan. Artinya, dia tidak ingin menjadi tidak sempurna.
"So, dia bukan 'menuju' tetapi justru 'menghindar'. Apakah dia akan mencapai kesempurnaan? Tentu tidak, karena sebenarnya dia terus berlari menjauh, dan itu sangat melelahkan," jelas dr. Jiemi.
Dampak Perfeksionisme yang Harus Diwaspadai
Menjadi perfeksionis memang terlihat mengagumkan. Tetapi, perfeksionis juga memiliki sisi negatif yang harus diwaspadai. Jika tidak terkendali, hal ini justru bisa merugikan diri kamu sendiri.
Seperti dilansir dari artikel yang diterbitkan Universitas Sumatera Utara, perfeksionisme sering dikaitkan dengan masalah kesehatan mental seperti tidak bahagia, rendah diri berlebihan, juga sulit tidur atau insomnia.
Ketika hal ini terus-menerus berulang, maka bisa berujung pada stres, rasa cemas berlebihan, hingga depresi.
Cara Mengatasi Perfeksionime
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Espanyol vs Sevilla di Liga Spanyol: Kans Los Nervionenses Curi Poin di RCDE Stadium
Prediksi Skor Marseille vs Paris FC di Liga Prancis: Kans Les Phocéens Pesta Gol di Stade Velodrome
Prediksi Skor Alaves vs Osasuna di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang di Mendizorrotza
Kecelakaan Maut! BYD M6 Diduga Error hingga Tak Bisa Direm dan Tabrak Trotoar di Jakbar
Prediksi Skor Parma vs Monza di Liga Italia: Duel Sengit Rawan Berakhir Imbang!
Prediksi Skor Malaga vs Levante: Laga Sengit yang Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Cagliari vs Lecce di Liga Italia: Duel Ketat di Sardinia Bisa Berakhir Imbang
Prediksi Skor Java United FC vs Garudayaksa: Laskar Kepodang Emas Bisa Menang Tipis
Prediksi Skor Heerenveen vs AZ Alkmaar di Liga Belanda: Kans De Kaasboeren Pesta Gol!
Dr. Iwan Aflanie, Pakar Forensik Indonesia untuk ULM yang Lebih Maju
