Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 19 September 2025 | 04.16 WIB

5 Penyebab Tersembunyi Mengapa Kamu Sering Merasa Tidak Cukup Baik Menurut Psikologi dan Strategi Mengatasinya

Ilustrasi seseorang yang merasa bahwa dirinya tidak cukup (Dok. Freepik) - Image

Ilustrasi seseorang yang merasa bahwa dirinya tidak cukup (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Merasa tidak cukup baik adalah perasaan yang diam-diam dialami banyak orang. Rasa ini bisa muncul saat kamu membandingkan diri dengan orang lain, merasa gagal memenuhi ekspektasi, atau sekadar merasa ada yang salah dalam dirimu.

"Kenapa ya, saya selalu merasa kurang? Padahal orang lain bilang saya sudah melakukan yang terbaik." Kalimat seperti ini sering terlintas di kepala ketika perasaan tidak cukup baik menghantui.

Menurut psikologi, fenomena ini tidak muncul begitu saja. Ada faktor yang berakar dari masa lalu, pola pikir yang salah kaprah, hingga tekanan lingkungan yang tanpa sadar membentuk keyakinan bahwa diri kita selalu kurang.

Dampaknya pun nyata. Sebuah laporan dari Psychology Today menemukan bahwa 75% remaja perempuan dengan self-esteem rendah terlibat dalam perilaku merugikan diri sendiri. 

Contohnya seperti melukai diri, bullying, merokok, minum alkohol, hingga pola makan tidak sehat. Data ini menunjukkan bahwa rasa tidak cukup baik bukan sekadar masalah sepele, tapi bisa berujung pada risiko serius terhadap kesehatan mental maupun fisik.

Faktanya, banyak orang tidak menyadari penyebab sebenarnya. Akibatnya, mereka terjebak dalam pola overthinking dan kritik pada diri sendiri yang semakin mengikis rasa percaya diri.

Nah, agar lebih jelas, mari kita bahas 5 penyebab tersembunyi mengapa seseorang sering merasa tidak cukup baik menurut psikologi dilansir dari The Oak Tree Practice, Linkedin dan Therapy In a Nutshell.

1. Luka Penolakan di Masa Lalu

Rasa "tidak cukup baik" sering kali berakar dari pengalaman masa kecil. 

Misalnya, ketika anak lebih sering mendapatkan kritik daripada dukungan, atau ketika kasih sayang orang tua terasa bersyarat yang mungkin hanya hadir saat ia berprestasi. 

Pengalaman seperti ini membentuk keyakinan, "Saya hanya layak dicintai kalau saya sempurna." 

Contoh sederhananya, seorang anak yang dibesarkan dalam keluarga yang sangat menekankan nilai akademik.

Anak itu akan tumbuh dengan perasaan bahwa dirinya tidak berharga bila tidak selalu mendapat nilai terbaik. 

Luka ini mungkin membuatnya sukses secara pencapaian, tapi di sisi lain, ia merasa hampa karena hidupnya lebih diatur oleh tuntutan eksternal daripada nilai dirinya sendiri.

2. Perfeksionisme yang Jadi Bumerang

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore