Rasa iri sering muncul dari kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, terutama di media sosial
JawaPos.com – Siapa yang tidak pernah merasa iri? Dalam keseharian, manusia kerap dihadapkan pada perasaan tidak nyaman saat melihat orang lain memiliki pencapaian, kekayaan, atau kebahagiaan yang belum kita miliki. Perasaan ini dikenal sebagai iri hati. Meski tampak sepele, faktanya iri sering menjadi sumber konflik internal dan eksternal.
Psikolog dari Satu Persen – Indonesia Life School menjelaskan, rasa iri muncul sebagai respon alami otak ketika kita membandingkan diri dengan orang lain.
Di satu sisi, iri bisa mendorong seseorang untuk lebih termotivasi mencapai tujuan. Namun, di sisi lain, jika berlebihan, iri bisa melumpuhkan rasa percaya diri hingga menimbulkan kebencian.
Menurut dr. Elvine Gunawan, Sp.Kj, iri berkaitan erat dengan kebutuhan manusia untuk merasa cukup dan diakui. Ketika seseorang memiliki luka batin, rendah diri, atau pengalaman masa lalu yang membekas, rasa iri lebih mudah tumbuh. “Iri biasanya muncul karena ada standar yang kita buat sendiri, lalu membandingkannya dengan kehidupan orang lain,” jelasnya dalam salah satu konten edukasi di TikTok.
Selain itu, Irene The Journal dalam videonya menekankan, media sosial menjadi salah satu pemicu terbesar. Scroll timeline yang dipenuhi postingan pencapaian teman, liburan mewah, atau gaya hidup glamor sering kali membuat seseorang merasa hidupnya kurang berharga.
Sementara itu, Nathalia Nabella menambahkan bahwa iri juga dipengaruhi pola pikir kompetitif. “Banyak orang merasa harus selalu berada di atas orang lain. Padahal, hidup bukan sekadar perlombaan,” ujarnya.
Bagaimana dampak rasa iri terhadap kehidupan sehari-hari?
Rasa iri tidak hanya berhenti di pikiran, tetapi juga berdampak langsung pada emosi dan hubungan sosial. Dra. Yuli Suliswidiawati, seorang konselor, mengungkapkan bahwa iri dapat menggerus kebahagiaan. “Orang yang terbiasa iri akan lebih mudah stres, sulit bersyukur, dan cenderung merasa hidupnya tidak pernah cukup,” terangnya.
Dampak lain adalah hubungan yang rusak. Rasa iri dapat menumbuhkan sikap tidak tulus, menjauhkan persahabatan, bahkan menimbulkan konflik. Pada tahap yang lebih parah, iri bisa berubah menjadi dengki, yakni keinginan agar orang lain gagal atau kehilangan sesuatu.
Bisakah rasa iri dikendalikan?
Meski tampak sulit, rasa iri bisa dikelola dengan langkah-langkah praktis. Menurut Satu Persen Life School, kunci pertama adalah kesadaran diri. Dengan mengenali kapan iri muncul, seseorang bisa memilih respon yang lebih sehat.

Prediksi Skor Paraguay vs Australia di Piala Dunia 2026: Berebut Tiket 32 Besar Namun Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Swiss vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Tancap Gas Bombardir Gawang La Nati
Prediksi Skor Turki vs Amerika Serikat di Piala Dunia 2026: The Stars & Stripes Berburu Rekor Sempurna di Fase Grup
Prediksi Skor Jepang vs Swedia di Piala Dunia 2026: Samurai Biru Incar Tiket 32 Besar di Laga Penentuan
Prediksi Skor Afrika Selatan vs Korea Selatan di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Wajib Menang Demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Tunisia vs Belanda di Piala Dunia 2026: Oranje Wajib Menang demi Amankan Tiket 32 Besar
Profil Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra yang Konsisten Mengkritik Program MBG
Prediksi Skor Bosnia dan Herzegovina vs Qatar di Piala Dunia 2026: Mimpi Buruk Al-Annabi Belum Usai
Prediksi Skor Curacao vs Pantai di Piala Dunia 2026: Misi Les Éléphants Menang demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Maroko vs Haiti di Piala Dunia 2026: Achraf Hakimi Cs Siap Pesta Gol di Laga Penentuan
