
Ilustrasi pasangan yang terdampak trauma bonding./Pexels.
JawaPos.com – Trauma bonding dalam hubungan toxic adalah kondisi ketika seseorang tetap terikat secara emosional pada pasangan yang menyakitinya, meskipun sadar bahwa hubungan tersebut merugikan.
Kepada kalian yang sering menjadi tempat curhat mungkin muncul pertanyaan di kepala kalian. “Kenapa yang orang-orang yang terjebak pada toxic relationship susah keluar ya?”
Padahal dari curhatan mereka, pasangan yang dihadapi menggunakan cara-cara yang abusif secara emosional bahkan hingga fisik. Nah, ternyata hal ini ada penjelasannya secara psikologis.
Menariknya, menurut Journal of Interpersonal Violence (diambil dari LIDO), sekitar 18% wanita dalam hubungan abusif melaporkan gejala trauma bonding yang signifikan.
Ingin tahu lebih lanjut tentang trauma bonding yang ada di toxic relationship? Simak penjelasan berikut ini yang dilansir dari Medical News Today dan Psychology Today.
1. Psikologi Dibalik Trauma Bonding
Dunia psikologi memiliki beberapa penjelasan tentang kenapa seseorang dapat terikat kepada seseorang melalui trauma.
Pada dasarnya seorang korban memiliki ketergantungan pada pasangannya melalui tindakan manipulatif yang repetitif dan kontrol dari pelaku. Bagaimanakah penjelasannya?
Keterikatan (Attachment) – Sejak kecil, manusia memang terbiasa membentuk ikatan sebagai bagian dari bertahan hidup.
Bayi butuh orang tua atau pengasuh, sementara orang dewasa butuh pasangan atau orang dekat untuk merasa aman.
Masalah muncul ketika satu-satunya sumber dukungan juga menjadi orang yang menyakiti. Dalam kondisi ini, korban justru mencari kenyamanan pada orang yang sama walaupun dialah penyebab lukanya.
Ketergantungan (Dependence) – Trauma bonding juga bisa terbentuk karena korban terlalu bergantung pada pelaku untuk memenuhi kebutuhan emosional.
Sebagai analogi (dan bisa juga menjadi contoh nyata), anak yang sangat butuh kasih sayang dan perhatian dari orang tua.
Jika orang tua justru abusif, anak bisa salah mengartikan cinta dengan rasa sakit. Ia mungkin tidak mampu melihat pengasuhnya sebagai “jahat,” bahkan menyalahkan dirinya sendiri atas perlakuan buruk itu.
Dengan begitu, sang pelaku tetap terlihat “baik” di mata anak, dan ikatan mereka makin menguat.

Puluhan Orang Terjebak di AEON Mall Kumamoto Usai Gempa Dahsyat M7,1 Diikuti Ledakan
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Malik Bawazier Dilaporkan ke Polda Metro Jaya, Suami Cut Keke Diduga Tersangkut Kasus Perzinaan
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Prediksi Skor hingga Rekor Pertemuan Persebaya vs PSMS: Ayam Kinantan Lebih Unggul Atas Green Force
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs PSMS Medan di Piala Presiden 2026: Misi Green Force Raih 3 Poin Lagi!
Prediksi Skor Port FC vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Pembuktian Magis Shin Tae-yong!
