Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 21 Agustus 2025 | 00.58 WIB

Psikologi Ungkap, Orang yang Kelelahan Tapi Tak Bisa Tidur Biasanya Sedang Menghadapi 7 Masalah Ini

Ilustrasi orang kelelahan tapi sulit tidur (freepik) - Image

Ilustrasi orang kelelahan tapi sulit tidur (freepik)

 
JawaPos.com - Pernahkah kamu merasa tubuh sudah sangat lelah, mata perih, dan pikiran ingin segera beristirahat, tetapi tidur tak kunjung datang? Jam terus berjalan, sementara tubuh dan pikiran seperti saling berperang.
 
Kondisi ini bukan sekadar soal terlalu banyak kafein atau butuh melatonin, melainkan tentang pertarungan tak kasatmata yang berlangsung di dalam diri.
 
Dilansir dari laman Geediting, Rabu (20/8), berikut tujuh pertarungan batin yang sering membuat orang kelelahan tapi tetap sulit tidur.  

1. Otak masih merasa dalam bahaya

Salah satu alasan utama sulit tidur meski lelah adalah karena otak masih berada dalam mode siaga. Pengalaman masa lalu seperti tumbuh dalam lingkungan penuh ketidakpastian, hubungan yang penuh tekanan, atau pekerjaan yang menakutkan bisa membuat otak terbiasa merasa terancam.

Walau situasi itu sudah berlalu, tubuh tetap mengeluarkan hormon stres yang membuat seseorang waspada terus-menerus. Akibatnya, meski tubuh butuh istirahat, otak menolak tidur karena menganggap lelah justru membuat kita rentan.

2. Perasaan yang ditekan di siang hari


Kesibukan sering membuat kita menekan emosi seperti sedih, marah, atau takut. Namun, ketika malam tiba dan suasana tenang, semua perasaan itu muncul kembali dalam bentuk ketegangan di tubuh—dada terasa sesak, perut terasa mengikat, atau tubuh terasa gelisah.

Karena tidur membutuhkan kita untuk menurunkan kewaspadaan, hal ini menjadi sulit dilakukan jika masih ada emosi yang belum diproses. Akhirnya, tubuh tetap terjaga untuk melindungi diri dari perasaan yang ditahan seharian.

3. Melawan pertempuran hari esok di malam hari


Banyak orang yang berbaring di tempat tidur tapi pikirannya justru sibuk memikirkan masalah esok hari—presentasi, percakapan sulit, atau tenggat waktu. Padahal, tubuh tidak bisa membedakan ancaman nyata dengan ancaman imajiner.

Ketika kita khawatir, sistem stres aktif seolah ancaman itu sudah terjadi, membuat jantung berdebar dan hormon kortisol meningkat. Energi terkuras untuk “berperang” melawan masalah yang belum tentu terjadi, sementara tubuh makin sulit terlelap.

4. Terlalu berusaha untuk tidur


Insomnia sering diperparah oleh pikiran “saya harus tidur sekarang juga.” Menghitung sisa jam tidur justru menambah tekanan, yang membuat tubuh semakin waspada.

Penelitian menunjukkan orang dengan sifat perfeksionis lebih sering mengalami insomnia karena ingin mengendalikan tidur, padahal tidur tidak bisa dipaksa. Semakin berusaha keras, semakin sulit tidur, sehingga istirahat berubah menjadi tuntutan lain yang terasa seperti kegagalan.

5. Kehilangan arah dan identitas diri


Perubahan besar dalam hidup, seperti kehilangan pekerjaan, perceraian, anak yang sudah dewasa, atau sakit, dapat memicu krisis identitas. Otak terus berusaha mencari jawaban tentang siapa kita sekarang, apa yang penting, dan ke mana arah hidup selanjutnya.

Pikiran itu muncul terutama di malam hari, membuat otak bekerja keras menulis ulang “cerita hidup” yang terasa hilang. Karena otak butuh rasa aman untuk bisa tidur, kebingungan identitas membuatnya terus berjaga meski tubuh sudah kelelahan.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore