Ilustrasi seseorang yang suka naik pesawat terakhir
JawaPos.com - Dalam dunia perjalanan udara, kebanyakan orang cenderung datang lebih awal, buru-buru boarding, dan ingin memastikan bagasi mereka tersimpan rapi di kabin.
Namun, ada tipe penumpang yang justru memilih untuk naik pesawat paling terakhir—bukan karena telat, melainkan sengaja menunggu hingga panggilan terakhir.
Bagi sebagian orang, perilaku ini terlihat santai atau bahkan sedikit nekat.
Tapi menurut perspektif psikologi, kebiasaan ini justru sering menjadi indikator dari sejumlah kualitas kepribadian yang unik.
Mereka bukan sekadar “tidak terburu-buru”, melainkan punya pola pikir dan karakter yang membedakan dari mayoritas penumpang.
Dilansir dari Geediting pada Jumat (15/8), terdapat tujuh kualitas unik yang biasanya dimiliki oleh orang yang memilih naik pesawat terakhir.
Namun, orang yang sengaja menunggu hingga akhir biasanya mampu menekan respon stres mereka.
Menurut psikologi, kemampuan ini disebut low reactivity, yaitu kecenderungan untuk tetap tenang di bawah tekanan.
Mereka tahu persis batas waktu yang aman dan jarang terbawa suasana panik.
2. Kepercayaan Diri yang Tinggi
Tidak semua orang nyaman mengambil risiko waktu yang mepet.
Butuh rasa percaya diri terhadap kemampuan mengatur jadwal dan membaca situasi.
Psikolog menyebutnya sebagai self-efficacy—keyakinan bahwa seseorang mampu mengendalikan hasil tindakannya.
Bagi mereka, menunggu di ruang tunggu bandara sambil santai jauh lebih menarik ketimbang berdesakan di antrean panjang.
3. Orientasi pada Kenyamanan, Bukan Sekadar Kecepatan
Penumpang yang naik terakhir sering kali ingin menghindari keramaian di lorong pesawat.
Mereka memilih naik ketika sebagian besar penumpang sudah duduk, sehingga bisa berjalan tanpa hambatan.
Dari sudut pandang psikologi, ini mencerminkan comfort-oriented mindset, di mana keputusan diambil demi memaksimalkan kenyamanan pribadi meskipun harus mengorbankan sedikit “kecepatan” atau prioritas boarding.
4. Kemampuan Membaca Situasi dan Waktu
Menunda boarding bukan berarti asal menunggu.
Orang yang melakukannya biasanya tajam dalam memperkirakan timing—mengetahui kapan panggilan terakhir benar-benar dilakukan dan berapa lama waktu yang tersisa.
Ini terkait dengan situational awareness, yaitu keterampilan mengamati tanda-tanda di sekitar dan menyesuaikan tindakan secara tepat waktu.
5. Sikap Mandiri dan Tidak Terpengaruh Tekanan Sosial
Ketika semua orang bergegas mengantri, ada tekanan sosial untuk ikut-ikutan.
Orang yang memilih naik terakhir justru tidak mudah terpengaruh oleh perilaku mayoritas.
Dalam psikologi sosial, ini disebut independence of judgment—kemampuan membuat keputusan berdasarkan logika dan preferensi pribadi, bukan sekadar mengikuti kerumunan.
6. Kemampuan Mengatur Energi dan Fokus
Naik pesawat terakhir berarti menghemat energi fisik dan mental.
Mereka tidak perlu berdiri lama di lorong sempit atau berdiri di antrean yang tak bergerak.
Psikolog menyebutnya sebagai energy management, di mana seseorang secara sadar mengatur kapan harus aktif dan kapan harus pasif, demi menjaga stamina dan fokus hingga tiba di tujuan.
7. Ketenangan yang Menular
Sikap santai mereka sering mempengaruhi orang di sekitar.
Kru kabin, penumpang lain, bahkan rekan perjalanan bisa ikut merasa lebih rileks saat melihat ada orang yang tetap tenang di menit terakhir.
Dalam psikologi, ini terkait dengan emotional contagion, yaitu fenomena di mana emosi seseorang dapat “menular” ke orang lain.
Dalam kasus ini, ketenangan menjadi efek positif.
Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Kebiasaan, Ini Cerminan Karakter
Memilih naik pesawat terakhir bukan sekadar strategi menghindari antrean.
Dari sudut pandang psikologi, kebiasaan ini mencerminkan kombinasi antara kepercayaan diri, kemandirian, kesadaran situasional, dan kemampuan mengelola stres.
Mereka tahu apa yang mereka lakukan, mengerti batas waktunya, dan nyaman dengan pilihan tersebut—bahkan ketika orang lain mungkin menganggapnya berisiko.
Jadi, jika Anda termasuk tipe yang menunggu hingga boarding terakhir, mungkin Anda memiliki sejumlah kualitas unik ini.
Dan siapa tahu, di luar dunia penerbangan, sifat-sifat ini juga menjadi modal berharga untuk menghadapi tantangan hidup dengan kepala dingin dan hati tenang.