Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 7 Agustus 2025 | 17.21 WIB

7 Alasan Masa Lalu Membuat Seseorang Panik Saat Menerima Kebaikan Orang Lain

Seseorang terlihat cemas dan bingung saat berinteraksi dengan orang lain, menggambarkan ketidaknyamanan saat menerima kebaikan./Freepik - Image

Seseorang terlihat cemas dan bingung saat berinteraksi dengan orang lain, menggambarkan ketidaknyamanan saat menerima kebaikan./Freepik

JawaPos.com - Mendapatkan perlakuan baik seharusnya membahagiakan, tetapi ada beberapa orang yang justru panik.

Mereka merespons kebaikan dengan kecurigaan atau ketakutan yang tidak wajar. Reaksi ini bukan tanpa alasan, seringkali berakar dari masa kecil.

Perilaku ini terbentuk dari lingkungan yang tidak sehat saat mereka tumbuh dewasa.

Melansir dari Geediting.com Kamis (7/8), ada tujuh dinamika beracun yang membentuk pola pikir tersebut. Memahami hal ini dapat membantu kita lebih peka terhadap orang lain.

Berikut adalah tujuh dinamika beracun yang membentuk seseorang panik saat menerima kebaikan:

  1. Kebaikan adalah Transaksional

Mereka dibesarkan dalam keluarga yang menganggap kebaikan adalah sebuah pinjaman. Kebaikan ini datang dengan ekspektasi besar yang harus dibayar. Mereka merasa kebaikan pasti menuntut balasan setimpal.

  • Perubahan Emosi Tanpa Peringatan

  • Anak-anak hidup di tengah suasana emosional yang tidak stabil. Kebahagiaan bisa berubah menjadi kemarahan tanpa alasan jelas. Perasaan ini membuat mereka selalu bersiaga dan waspada.

  • Kasih Sayang Datang dengan Perhitungan

  • Cinta dan kasih sayang dihitung dan dicatat seperti sebuah utang. Setiap kebaikan yang diberikan meningkatkan apa yang harus mereka bayar. Mereka belajar bahwa kebaikan tidak pernah cuma-cuma.

  • Kerentanan adalah Amunisi

  • Ketika mereka terbuka atau menunjukkan kerentanan, informasi itu digunakan untuk menyakiti. Pengalaman ini membuat mereka takut menjadi diri sendiri. Mereka membangun tembok tebal untuk perlindungan diri.

  • Perhatian Berarti Bahaya

  • Dalam keluarga, perhatian tidak pernah terasa netral atau tulus. Perhatian positif datang dengan tekanan besar dan kritik keras. Perhatian negatif membawa hukuman, membuat mereka merasa aman saat tak terlihat.

    Editor: Hanny Suwindari
    Tags
    Jawa Pos
    JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
    Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
    Download Aplikasi JawaPos.com
    Download PlaystoreDownload Appstore