
Ilustrasi seseorang berhasil menerima dan menghadapi kekacauan. (Freepik)
JawaPos.com-Seiring bertambahnya usia, banyak orang mulai menyadari bahwa kekacauan dalam hidup, baik secara fisik maupun emosional, bukan lagi hal yang bisa ditoleransi. Alih-alih mempertahankan hal-hal yang menambah beban, mereka memilih hidup yang lebih sederhana, stabil, dan damai.
Orang-orang yang membenci kekacauan tidak melakukannya dengan lantang, mereka hanya perlahan menjauh dari hal-hal yang membuat hidup terasa semrawut.
Perubahan ini tidak terjadi dalam semalam, tapi lewat kebiasaan kecil yang ditinggalkan satu per satu. Dari lingkungan yang tidak tertata hingga hubungan yang tidak sehat, mereka mulai menata ulang prioritas demi kesehatan mental dan keseimbangan hidup.
Inilah 7 hal yang diam-diam mereka tinggalkan seiring waktu berjalan seperti dirangkum dari laman Your Tango!
1. Kekacauan di Rumah
Ruang yang berantakan sering mencerminkan pikiran yang kacau. Itulah mengapa mereka mulai menjaga rumah tetap bersih dan rapi, meski tidak harus sempurna.
Setidaknya, barang tidak berserakan dan dapur tetap layak digunakan. Lingkungan yang teratur membantu menenangkan pikiran dan mengurangi stres, menjadikan rumah sebagai tempat istirahat yang benar-benar nyaman.
2. Teman dan Keluarga yang Toksik
Tidak semua hubungan layak dipertahankan. Meski ada ikatan darah atau sejarah panjang, jika seseorang terus menerus menyedot energi, bersikap manipulatif, atau tidak peduli, maka lebih baik menjaga jarak. Bagi mereka yang membenci kekacauan, kesetiaan tidak bisa mengalahkan kesehatan mental.
3. Hubungan yang Terlalu Rumit
Drama dalam hubungan mungkin wajar saat remaja, tapi semakin dewasa, orang cenderung memilih koneksi yang jelas dan saling mendukung. Mereka tidak lagi punya waktu untuk kebingungan, tarik-ulur, atau hubungan tanpa arah. Ketidakpastian hanya menambah beban pikiran, dan itu bukan sesuatu yang mereka mau pelihara.
4. Rencana yang Tidak Menentu
Janji temu yang dibatalkan mendadak atau orang yang tak bisa diandalkan menjadi sumber frustasi tersendiri. Mereka lebih memilih orang-orang yang konsisten dan menghargai waktu. Menghindari ketidakpastian bukan soal jadi ‘kaku’, tapi cara untuk melindungi diri dari stres yang bisa dihindari.
5. Konsumsi Media Berlebihan
Terlalu banyak menyerap berita negatif atau konten media sosial bisa menguras emosi. Karena itu, mereka mulai membatasi waktu layar dan lebih banyak menikmati dunia nyata. Keseimbangan menjadi kunci, karena informasi yang berlebihan bisa meracuni pikiran layaknya makanan tak sehat bagi tubuh.

14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Korban Dicekoki Miras Hingga Tak Sadar, Pelaku Pemerkosaan Cipondoh Masih Dicari
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
