Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 30 Juli 2026 | 14.05 WIB

Hati-Hati, Kerabat yang Terlalu Mengkritik Bisa Berdampak pada Kesehatan Mental 

Psikolog menjelaskan bagaimana kerabat yang bersikap terlalu kritis. (pinterest) - Image

Psikolog menjelaskan bagaimana kerabat yang bersikap terlalu kritis. (pinterest)

JawaPos.com - Tidak semua kritik dari keluarga lahir dari niat buruk. Namun, menurut ulasan terbaru di Psychology Today, ada kalanya kerabat yang tampak ingin membantu justru bersikap hypercritical, yaitu terlalu sering memberikan kritik hingga membuat orang lain merasa tidak pernah cukup baik. Perilaku ini dapat mengikis rasa percaya diri dan memengaruhi hubungan keluarga dalam jangka panjang.

Sikap hypercritical sering kali dibungkus sebagai bentuk kepedulian. Misalnya, komentar mengenai pilihan karier, cara mengasuh anak, penampilan, atau keputusan hidup selalu disampaikan sebagai "nasihat". Namun, alih-alih memberikan dukungan, kritik tersebut terus berfokus pada kekurangan tanpa diimbangi apresiasi atau empati. Akibatnya, penerima kritik bisa merasa terus dihakimi.

Orang yang terlalu kritis tidak selalu menyadari dampak perilakunya. Sebagian tumbuh dalam lingkungan yang menganggap kritik keras sebagai cara memotivasi, sementara yang lain mungkin memiliki standar yang sangat tinggi terhadap diri sendiri maupun orang lain.

Meski demikian, memahami alasan di balik perilaku tersebut tidak berarti seseorang harus menerima kritik yang terus-menerus tanpa batas.

Jika menghadapi kerabat yang seperti ini, penting untuk menetapkan batasan yang sehat. Anda dapat menyampaikan dengan tenang bahwa masukan akan lebih mudah diterima bila disampaikan secara konstruktif dan tidak terus-menerus menghakimi.

Membatasi topik tertentu atau mengurangi intensitas interaksi juga bisa menjadi pilihan apabila kritik tersebut mulai memengaruhi kesehatan emosional.

Hubungan keluarga yang sehat dibangun melalui keseimbangan antara kejujuran dan kasih sayang. Kritik memang dapat membantu seseorang berkembang, tetapi hanya jika disampaikan dengan rasa hormat, empati, dan tujuan untuk mendukung, bukan mengendalikan atau merendahkan.

Menjaga kesehatan mental bukan berarti menjauh dari keluarga, melainkan memastikan setiap hubungan tetap memberi ruang untuk saling menghargai dan bertumbuh bersama.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore