Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 28 Juli 2025 | 22.55 WIB

Orang yang Menonton Ulang Film Lama untuk Kenyamanan Biasanya Menunjukkan 7 Perilaku Ini Menurut Psikologi

seseorang yang menonton ulang film lama


JawaPos.com - Di era hiburan digital yang penuh pilihan, sebagian orang justru memilih untuk kembali menonton film lama yang sudah pernah mereka tonton berkali-kali. 
 
Mereka tahu persis bagaimana jalan ceritanya, bahkan bisa menghafal dialognya. 
 
Namun tetap saja, film itu diputar kembali saat hati sedang gelisah, saat hujan turun deras, atau saat butuh pelarian dari dunia yang terlalu bising. 
 
 
Kebiasaan ini bukan tanpa alasan. 
 
Dalam psikologi, menonton ulang film lama dikenal sebagai bentuk “comfort watching” — dan mereka yang melakukannya cenderung memiliki pola perilaku khas yang menarik untuk ditelaah.

Dilansir dari Geediting pada Senin (28/7),  tujuh perilaku yang biasanya ditunjukkan oleh orang-orang yang sering menonton ulang film lama demi kenyamanan, menurut psikologi:
 

Orang yang suka menonton ulang film lama cenderung nyaman dengan rutinitas dan hal-hal yang sudah mereka kenal.
 
Dalam psikologi, ini berkaitan dengan konsep predictability — kebutuhan untuk merasa bahwa sesuatu bisa diprediksi dan dikendalikan. 
 
Film lama menawarkan pengalaman yang pasti: mereka tahu akhir cerita, tahu karakter, dan tahu tidak akan dikejutkan oleh hal yang tidak menyenangkan. 
 
Ini memberikan rasa aman, terutama saat dunia nyata terasa penuh ketidakpastian.

2. Mereka Cenderung Nostalgia dan Terhubung dengan Masa Lalu

Perilaku ini sering dikaitkan dengan kecenderungan untuk bernostalgia. 
 
Bagi mereka, film lama bukan sekadar hiburan, tapi penghubung dengan kenangan lama—masa kecil, remaja, atau momen-momen penuh arti dalam hidup. 
 
Dalam psikologi, nostalgia bisa menjadi mekanisme pertahanan yang sehat karena membantu individu mempertahankan rasa identitas dan kontinuitas hidup.

3. Mereka Menggunakan Strategi Pengaturan Emosi yang Adaptif

Menonton ulang film favorit bukan hanya soal hiburan, tapi cara untuk self-soothing atau menenangkan diri. 
 
Menurut studi dalam Journal of Consumer Research, orang cenderung kembali ke media familiar saat merasa sedih, lelah, atau cemas. 
 
Ini adalah bentuk emotion regulation — mengelola emosi melalui cara yang aman dan personal. 
 
Alih-alih melampiaskan stres dengan cara destruktif, mereka memilih kembali ke dunia fiksi yang memberi kehangatan emosional.

4. Mereka Cenderung Memiliki Dunia Batin yang Kaya

Orang yang menyukai film lama dan menontonnya berulang kali biasanya memiliki kehidupan imajinatif yang aktif. 
 
Mereka menikmati memperhatikan detail kecil dalam alur cerita, mendalami karakter, dan kadang bahkan menjalin keterikatan emosional dengan dunia fiksi tersebut. 
 
Psikologi menyebut ini sebagai parasocial interaction — hubungan satu arah dengan tokoh fiktif atau selebritas, yang bisa menambah rasa kebersamaan dan penghiburan.

5. Mereka Menyukai Struktur dan Cenderung Perfeksionis Ringan

Seseorang yang sering menonton ulang film bisa jadi memiliki kecenderungan perfeksionis ringan. 
 
Mereka suka hal-hal yang berjalan sebagaimana mestinya, dan film yang sudah pernah ditonton memberikan struktur naratif yang rapi. 
 
Tidak ada kejutan, tidak ada kegagalan. 
 
Di saat hidup nyata penuh kekacauan, mereka menemukan pelipur lara dalam cerita yang teratur dan familiar.

6. Mereka Bisa Lebih Sensitif terhadap Stres dan Tekanan

Dalam banyak kasus, orang yang memilih untuk “melarikan diri” ke film lama adalah mereka yang cukup sensitif terhadap tekanan mental atau sosial. 
 
Film lama menjadi tempat berlindung saat dunia terasa terlalu berat. 
 
Ini bukan kelemahan, melainkan bentuk kepekaan emosional. 
 
Psikologi menyebut fenomena ini sebagai media coping, yaitu penggunaan media sebagai cara mengatasi tekanan emosional.

7. Mereka Lebih Reflektif dan Suka Mengulang Makna

Tidak semua orang suka mengulang hal yang sama, tapi mereka yang menonton ulang film lama sering memiliki sifat reflektif. 
 
Mereka bisa melihat film dari sudut pandang yang berbeda setiap kali menontonnya, menggali makna baru, atau mengaitkannya dengan situasi hidup yang sedang mereka alami.
 
Ini menunjukkan kecenderungan untuk ruminate positively, yaitu merenungkan sesuatu dengan cara yang produktif dan membangun pemahaman lebih dalam.

Penutup: Kebiasaan yang Lebih Dalam daripada Sekadar Nostalgia

Menonton ulang film lama bukanlah kebiasaan yang sepele atau malas. 
 
Justru sebaliknya, ia mencerminkan kebutuhan emosional yang dalam — untuk merasa aman, terhubung, dan damai di tengah dunia yang terus berubah. 
 
Dalam psikologi, perilaku ini adalah bagian dari upaya menyeimbangkan kesehatan mental melalui kenyamanan yang bisa dipercaya. 
 
Jadi jika Anda termasuk orang yang merasa lebih tenang setelah menonton ulang The Sound of Music, Harry Potter, atau film masa kecil lainnya, ketahuilah bahwa itu adalah bentuk keintiman emosional yang sehat — dan Anda tidak sendiri.
 

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore