Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 23 Juli 2025 | 04.55 WIB

Gejala Laten OCD yang Tak Terlihat BIsa Bebani Mental Sehari-hari, Ini Tipsnya

OCD yang melelahkan batin. (dok. Freepik)

JawaPos.com - Obsessive‑Compulsive Disorder (OCD) sering kita kenali lewat ritual cuci tangan berlebihan atau pengulangan mengecek pintu. Namun, banyak gejala laten yang tidak tampak namun secara perlahan menguras kesehatan mental. Tanpa disadari, seseorang bisa kelelahan secara emosional karena proses internal yang tak terlihat oleh orang di sekitar.

Menurut TheStrugglingWarrior.com, sebuah situs yang menyoroti gejala OCD yang sering diabaikan, penderita mungkin mengalami ritual mental: menghitung di kepala, mengulang frasa, atau meninjau ulang kejadian dalam pikiran mereka berulang kali. Gejala seperti ini sering tidak dikenali karena tidak terlihat atau sulit dijelaskan. Ritual mental seperti ini menghabiskan waktu dan energi mental, bahkan korban sendiri sering tidak menyadarinya.

Sementara menurut Better Minds Counseling & Services, terapi kesehatan mental, tanda OCD tersembunyi lain adalah perilaku menghindar terhadap situasi yang memicu kecemasan serta kebutuhan terus‑menerus untuk meminta jaminan atau kepastian dari orang lain.

Ini sering dianggap sifat cemas biasa, bukan bagian dari OCD. Namun perilaku ini memperkuat kecemasan dan menutup ruang relaksasi emosional.

Ketika gejala internal seperti ritual mental dan pengejaran kepastian terjadi terus-menerus, pikiran menjadi lelah tanpa ada terlihat perilaku spesifik. Energi mental terkuras, konsentrasi menurun, dan emosi menjadi tidak stabil, semua hal ini membuat korban merasa kelelahan emosional tanpa penyebab jelas.

Gejala laten OCD sulit dideteksi karena tidak melibatkan tindakan fisik yang mencolok. Banyak orang termasuk korban sendiri, menganggap ritual mental adalah bagian dari sifat perfeksionis atau kecemasan umum. Akibatnya, edukasi dan diagnosis terlambat sering terjadi, padahal gangguan ini bisa berdampak serius.

Langkah Menghadapi Gejala Laten OCD

  • Kenali tanda internal negatif seperti menghitung dalam pikiran, meninjau ulang kejadian, obsesi perfeksionisme.
  • Evaluasi kebutuhan akan jaminan berulang: saat merasa cemas dan selalu butuh konfirmasi, tanyakan apakah anxietas itu berlebihan.
  • Cari dukungan profesional lebih awal, seperti Cognitive‑Behavioral Therapy (CBT) atau Exposure and Response Prevention (ERP).
  • Berlatih mindfulness atau journaling untuk melatih penghentian proses mental yang berulang.
  • Ciptakan jeda digital & mental: beristirahat dari media sosial, istirahat mata, dan waktu hening untuk menenangkan pikiran.
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore