Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 19 Juli 2025 | 05.54 WIB

9 Tanda Seseorang Mengukur Harga Diri dari Uang dan Harta Benda, Apa Saja?

Tumpukan koin dan uang kertas di atas meja, menyimbolkan hubungan antara materi dan persepsi diri./Freepik - Image

Tumpukan koin dan uang kertas di atas meja, menyimbolkan hubungan antara materi dan persepsi diri./Freepik

JawaPos.com - Banyak orang tanpa sadar menghubungkan nilai diri mereka dengan kekayaan material.

Mereka percaya bahwa uang dan kesuksesan finansial mencerminkan siapa diri mereka sebenarnya. Padahal, harga diri sejati berasal dari dalam, bukan dari hal-hal eksternal.

Memahami tanda-tanda ini penting untuk membentuk perspektif lebih sehat. Melansir dari Geediting.com Jumat (18/7), ada beberapa indikasi kuat seseorang cenderung mengukur harga dirinya melalui uang dan kesuksesan material. Berikut adalah tanda-tandanya.

  1. Terus-menerus Membandingkan Gaya Hidup

Orang seperti ini selalu mengamati kehidupan orang lain. Mereka tak hanya melihat mobil atau rumah, tetapi juga membandingkannya dengan milik mereka. Ini adalah "papan skor" tak terlihat yang sangat melelahkan.

  • Mendahulukan Kepemilikan daripada Karakter Diri

  • Mereka sering menyebutkan pendapatan, properti, atau pembelian sebelum hal pribadi apa pun. Status menjadi identitas utama bagi mereka. Anda akan bertemu mobil sebelum bertemu karakternya.

  • Suasana Hati Terkait Kondisi Keuangan

  • Perasaan harga diri mereka naik turun seiring dengan saldo rekening bank. Bulan baik diartikan sebagai "saya berharga" dan bulan buruk membuat mereka merasa tak bernilai. Sumber nilai diri mereka datang dari kondisi eksternal.

  • Mengesampingkan Pencapaian Non-Materi

  • Pencapaian seperti promosi pekerjaan mungkin bagus, tetapi mereka tetap bertanya apakah sudah membeli rumah. Orang-orang ini sulit melihat nilai pada hal-hal yang tidak dapat diukur secara finansial. Mereka tidak menganggap penting hal-hal tak berwujud.

  • Takut Dianggap "Biasa-biasa Saja"

  • Ketakutan ini bukan hanya sekadar kecemasan sosial biasa. Mereka sangat ingin menghindari label "rata-rata". Ketakutan ini sering mendorong mereka mengejar simbol eksternal agar merasa lebih bernilai.

  • Terus-menerus Mengejar Simbol Status Eksternal

  • Jika seseorang terus mengejar simbol eksternal, mereka kemungkinan besar mengukur harga diri secara keliru. Mereka berharap barang-barang baru atau pencapaian finansial akan membuat merasa berharga. Perasaan ini hanya bersifat sementara.

    Editor: Setyo Adi Nugroho
    Tags
    Jawa Pos
    JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
    Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
    Download Aplikasi JawaPos.com
    Download PlaystoreDownload Appstore