Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 2 Juli 2025 | 06.10 WIB

8 Tanda Perilaku Pasif-Agresif yang Mengindikasikan Kebencian Tersembunyi Menurut Psikologi , Cara Mengenali dan Menyikapinya Secara Dewasa

8 Tanda Perilaku Pasif-Agresif yang Mengindikasikan Kebencian Tersembunyi Menurut Psikologi.(Freepik)

 
JawaPos.com - Pernahkah Anda berada dalam situasi di mana seseorang berkata "Tentu, kalau kamu benar-benar mau" saat Anda mengajaknya bertemu, tapi dengan nada dan ekspresi yang membuat Anda ragu?

Ini bukan sekadar keraguan biasa—ini adalah bentuk pasif-agresif yang halus namun kuat.

Dilansir dari laman Geediting, dalam artikel ini, kita akan mengulas secara mendalam delapan bentuk perilaku pasif-agresif yang kerap menunjukkan kebencian tersembunyi. 
 
Tidak hanya berdasarkan pengalaman pribadi, tetapi juga diperkuat oleh temuan psikologi modern dan studi komunikasi.

1. Perlakuan Diam yang Berulang: Keheningan yang Memekakkan

Keheningan bukan selalu pertanda kedamaian. Dalam hubungan interpersonal, diam bisa menjadi bentuk hukuman.

Psikologi menyebut ini sebagai "withdrawal" atau penarikan emosional yang disengaja.

Saat seseorang menggunakan keheningan sebagai alat manipulasi, mereka sedang berkata, "Kamu salah, dan aku tidak akan memberimu kejelasan."

Bagaimana Menyikapinya:

Jangan terjebak dalam permainan keheningan. Sebutkan dengan tenang, "Aku merasa komunikasi kita akhir-akhir ini renggang. Apakah ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan?"

2. Pujian Beracun: Sanjungan yang Menyengat

"Wah, kamu akhirnya berhasil juga, hebat deh!"

Kalimat ini tampak seperti pujian, tapi mengandung racun.

Menurut skala penelitian pasif-agresif, komentar seperti ini dikenal sebagai backhanded compliment atau pujian terselubung ejekan. Motifnya bukan memberi semangat, tapi menjatuhkan secara halus.

Cara Merespons:

Ucapkan “Terima kasih” dengan percaya diri. Jangan membalas dengan sindiran, cukup beri respon positif untuk menghentikan permainan mereka.

3. Keterlambatan yang Terencana: Mengulur Waktu sebagai Bentuk Kontrol

Jika seseorang selalu terlambat untuk agenda yang Anda atur, bisa jadi itu bukan karena ceroboh, melainkan bentuk sabotase sosial.

Penelitian menyebut ini sebagai "power move" tersembunyi—cara untuk menunjukkan superioritas tanpa konflik langsung.

Solusi Cerdas:

Terapkan batasan tegas. Mulailah tepat waktu tanpa menunggu. Hal ini menegaskan bahwa Anda menghargai waktu dan tidak akan membiarkan perilaku itu mengganggu Anda.

4. Sarkasme: Ketika Humor Menyamar sebagai Kebencian

Sarkasme yang terlalu sering muncul bukanlah bentuk keakraban. Di banyak tempat kerja dan hubungan pribadi, ini adalah sinyal bahwa seseorang menyimpan ketidaksukaan yang tak terucap.

Studi dalam jurnal Workplace Psychology menyatakan bahwa sarkasme adalah bentuk agresi yang paling mudah diterima secara sosial namun paling merusak.

Apa yang Bisa Anda Lakukan:

Tanyakan dengan rasa ingin tahu: “Itu lucu, kamu serius nggak sih?” Ini bisa menghentikan kecenderungan mereka untuk terus menyamarkan ketidaksukaan dalam candaan.

5. Menahan Bantuan: Bentuk Sabotase Emosional

Ketika seseorang menunda-nunda bantuan yang mereka janjikan—terutama bila itu penting untuk Anda—bisa jadi ini bentuk manipulasi terselubung.

Menurut psikolog Brené Brown, "Ketidakjelasan adalah kekejaman." Menahan bantuan adalah cara pasif-agresif untuk mengatakan "Aku tidak peduli" tanpa perlu mengucapkannya.

Solusi Praktis:

Dokumentasikan komitmen. Kirim pesan konfirmasi tertulis agar mereka sadar bahwa tanggung jawab mereka dicatat. Contoh: “Cuma mau pastikan ya, kamu kirim file-nya hari Selasa?”

6. Bahasa Tubuh Bermusuhan: Serangan Tanpa Kata

Putaran mata, desahan berat, atau jeda berlebihan adalah bentuk ekspresi pasif yang sarat pesan emosional negatif.

Bahasa tubuh seperti ini seringkali membuat kita merasa “salah” tanpa ada kata yang diucapkan.

Cara Menghadapinya:

“Aku melihat kamu memutar mata barusan, kamu lagi frustrasi karena sesuatu?” Dengan membawa subteks ke permukaan, Anda memecahkan ketegangan tak kasat mata.

7. Meremehkan Kesuksesan: Mengaburkan Pencapaian Anda

"Pasti enak ya, punya kenalan orang dalam."

Jika Anda sering mendengar komentar seperti ini setelah membagikan kabar baik, hati-hati—ini adalah bentuk agresi pasif yang menolak memberi pengakuan.

Tanggapan Sehat:

Kembalikan fokus pada usaha Anda. “Saya kerja keras untuk proyek itu, dan senang akhirnya berhasil.” Ini membangun ulang narasi Anda.

8. Kelupaan yang Strategis: Ketidaksengajaan yang Disengaja

Seseorang bisa melupakan janji, tugas, atau tanggung jawab... tapi jika ini berulang dan hanya terjadi saat menyangkut kepentingan Anda, bisa jadi itu disengaja.

Dalam psikologi hubungan, ini disebut "omission hostility"—serangan melalui kelalaian.

Langkah Tegas:

Simpan semua kesepakatan dalam bentuk tertulis, baik melalui email, pesan, atau catatan. Kejelasan melindungi Anda dari manipulasi.

Agresi pasif adalah bentuk komunikasi yang tidak jujur namun sangat umum. Banyak dari kita pernah menjadi pelaku maupun korban.

Kuncinya adalah belajar membedakan antara ketidaksengajaan dan pola. Jika Anda mendeteksi pola, hadapi dengan keberanian, bukan amarah.

Dan jika Anda mendapati diri sendiri menggunakan cara-cara ini, jadikan itu sebagai cermin untuk memperbaiki gaya komunikasi Anda.

Karena pada akhirnya, kejelasan lebih menyembuhkan daripada sindiran.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore