Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 24 Mei 2025 | 18.40 WIB

Kenapa Seseorang Sering Mengejar Pasangan yang Tak Terjangkau? Psikologi Ungkap 7 Pengalaman Masa Kecil Penyebabnya

lustrasi seseorang yang merasa sendirian, menggambarkan perasaan tidak terjangkau dalam suatu hubungan. (Freepik) - Image

lustrasi seseorang yang merasa sendirian, menggambarkan perasaan tidak terjangkau dalam suatu hubungan. (Freepik)

JawaPos.com - Mungkin Anda atau orang di sekitar pernah merasa terjebak dalam pola hubungan yang terus-menerus mengejar sosok pasangan yang sulit digapai atau tidak benar-benar tersedia secara emosional. Rasanya seperti sebuah tantangan yang tidak ada habisnya, menciptakan siklus harapan dan kekecewaan berulang kali.

Menurut psikologi, kecenderungan ini sering kali berakar dari pengalaman masa kecil seseorang. Perilaku tersebut bukanlah kebetulan semata, melainkan merupakan respons tidak sadar terhadap dinamika hubungan awal yang dialami.

Melansir Geediting.com pada Sabtu (24/05), berikut adalah tujuh pengalaman masa kecil yang dapat membentuk pola mengejar pasangan tidak terjangkau.

1. Kurangnya Validasi Emosional

Pengalaman ini terjadi saat seorang anak tidak merasa didengar, dipahami, atau dihargai secara emosional oleh orang tuanya. Anak-anak yang tumbuh tanpa validasi cukup mungkin mencari pengakuan dan penerimaan dari orang lain saat dewasa, termasuk dalam hubungan.

2. Dinamika Orang Tua-Anak yang Tidak Terduga

Satu momen orang tua bisa sangat penuh kasih sayang, namun di saat lain mereka menjadi jauh atau terlalu kritis. Lingkungan tidak terduga seperti ini membuat anak kesulitan menyampaikan perasaan, kebutuhan, atau ketakutan mereka secara efektif dan sehat.

3. Paparan Awal Hubungan Disfungsional

Masa kanak-kanak yang menyaksikan hubungan tidak berfungsi atau tidak seimbang dapat meninggalkan dampak jangka panjang pada kehidupan romantis. Melihat dinamika disfungsional bisa membuat seseorang tanpa sadar mengulangi pola serupa dalam hubungan romantis mereka sendiri di kemudian hari.

4. Ketakutan Terhadap Keintiman

Orang-orang yang memiliki ketakutan akan keintiman sangat mungkin mengejar pasangan yang tidak tersedia. Jika kerentanan emosional seorang anak dulu dibalas dengan penolakan atau ketidakpedulian, mereka akan belajar mengaitkan keintiman dengan rasa sakit, sehingga cenderung menghindarinya.

5. Rendahnya Harga Diri

Apabila seseorang tidak menghargai dirinya sendiri, kemungkinan besar mereka akan menerima apa adanya dalam hubungan romantis. Individu dengan harga diri rendah mungkin merasa lebih nyaman dengan pasangan tidak terjangkau karena hubungan semacam itu menguatkan persepsi negatif mereka terhadap diri sendiri.

6. Ilusi Kendali yang Menyesatkan

Sering kali, individu yang mengejar pasangan tidak tersedia percaya bahwa mereka memiliki kendali penuh atas situasi yang terjadi. Padahal dalam sebuah hubungan, kita tidak dapat mengontrol bagaimana orang lain merasa atau berperilaku, meskipun kita sangat menginginkannya.

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore