
Ilustrasi orang berduka. (Freepik)
JawaPos.com — Duka merupakan ekspresi cinta yang kehilangan objeknya. Dalam ranah psikologi, duka tidak semata-mata berkaitan dengan kematian orang tercinta.
Rasa kehilangan juga dapat muncul akibat putus hubungan, kehilangan pekerjaan, kegagalan meraih impian, bahkan ketika seseorang kehilangan versi diri yang dulu sangat dibanggakan.
Kondisi ini kerap membuat kita bertanya, “Apa yang harus saya lakukan?”
Dr. Andreas Kurniawan, seorang psikiater sekaligus penulis buku Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring, membagikan pandangannya mengenai cara menghadapi duka dalam kanal YouTube Adjie Santoso Putro TV.
Berikut beberapa hal penting yang perlu dipahami dalam menghadapi duka:
Hal pertama yang perlu disadari: tidak ada keharusan untuk segera pulih. Setiap individu memiliki caranya masing-masing dalam merespons kehilangan.
Ada yang langsung menangis, ada pula yang memilih menjadi “robot” terlebih dahulu—mengurus dokumen, rumah duka, dan berbagai hal teknis lainnya.
Semua bentuk respons tersebut valid. Itu adalah bentuk pertahanan diri. Yang terpenting adalah memulai dari langkah kecil yang mampu dilakukan saat ini.
Rasa sedih tidak selalu muncul dalam bentuk tangisan. Kadang, emosi baru muncul setelah berminggu-minggu atau berbulan-bulan.
Bahkan bukan kesedihan yang dirasakan, melainkan kemarahan, kebingungan, atau kehampaan. Semua emosi tersebut sah dan wajar.
Mungkin banyak yang mengenal teori lima tahap kesedihan: penyangkalan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan. Namun, dalam praktiknya, proses berduka tidak selalu mengikuti urutan tersebut secara runtut.
Duka lebih menyerupai daun yang gugur, jatuh tidak beraturan. Bisa jadi seseorang merasa telah menerima kenyataan, tetapi di kemudian hari perasaan marah atau sedih kembali muncul. Itu adalah hal yang normal.
Ketika teman atau kerabat sedang berduka, hindari memberikan nasihat yang terkesan memaksa seperti “Kamu harus ikhlas” atau “Kamu harus kuat.” Tidak semua orang membutuhkan kata-kata seperti itu.
Terkadang, mereka hanya butuh didengarkan. Atau cukup ditemani dalam keheningan. Dukungan emosional tidak selalu hadir dalam bentuk ucapan, tetapi juga dalam kehadiran yang tulus.
Mungkin tidak ada titik pulih yang benar-benar tuntas. Namun, seseorang bisa belajar hidup berdampingan dengan rasa kehilangan tersebut. Duka tidak harus dilupakan, karena ia adalah bagian dari perjalanan hidup yang turut membentuk pribadi kita.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mantan Kiper Persebaya Surabaya Buka Suara! Dimas Galih Ungkap Kondisi Ruang Ganti PSBS Biak
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
