
Ilustrasi pria dewasa. (Freepik)
JawaPos.com - Berbicara mengenai perasaan adalah sesuatu yang fundamental bagi kesehatan mental dan hubungan antarmanusia. Namun, masih banyak pria dewasa yang tampak kesulitan atau canggung saat harus mengungkap isi hati serta emosi mereka secara terbuka.
Kendala ini sering kali bukan tanpa sebab, melainkan berakar dari pola asuh dan lingkungan masa kecil yang membentuk cara pandang mereka terhadap ekspresi emosi. Ada beberapa ungkapan tertentu yang ternyata tanpa sadar sering didengar anak laki-laki di masa pertumbuhan mereka. Melansir Geediting.com pada Minggu (11/05), kalimat-kalimat inilah yang konon berkontribusi membuat pria sulit bicara perasaan saat dewasa nanti.
1. Sering Mendengar Kalimat "Dasar Laki-laki, Kuatkan Diri!"
Ungkapan yang satu di antara paling sering didengar ini menyiratkan bahwa menunjukkan emosi adalah tanda kelemahan yang tidak pantas bagi seorang pria sejati. Pesan kuat ini mengajarkan anak laki-laki sejak dini untuk selalu menahan atau menyembunyikan perasaan mereka dalam situasi apapun.
2. Dibesarkan Dengan Kalimat "Anak Laki Tidak Boleh Menangis"
Kalimat klasik yang sangat merusak ini secara langsung melarang ekspresi kesedihan atau kerapuhan emosional bagi anak laki-laki sejak usia sangat muda. Larangan tegas ini membuat mereka kesulitan besar untuk membahas emosi yang lebih dalam dan kompleks di kemudian hari dalam kehidupan sosial.
3. Sering Dikatakan "Kamu Berlebihan Sekali Reaksinya"
Kalimat ini cenderung membatalkan, mengecilkan, atau meremehkan validitas perasaan yang dialami seorang anak terhadap peristiwa atau situasi tertentu. Akibatnya, mereka belajar meragukan keabsahan realitas emosional diri sendiri dan kesulitan besar menyampaikan perasaannya dengan jujur kelak saat dewasa.
4. Menerima Pesan "Jangan Sampai Terlihat Lemah"
Pesan ini membentuk pemahaman yang sangat keliru tentang apa arti sebenarnya menjadi kuat dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Hal ini membuat para pria dewasa merasa sangat sulit bahkan mustahil untuk menunjukkan kerentanan atau mengakui saat mereka sedang merasa rapuh di hadapan orang lain.
5. Disuruh Untuk "Simpan Saja Sendirian Urusanmu"
Ungkapan ini secara gamblang mendorong seseorang untuk tidak berbagi masalah pribadi, beban pikiran, atau kesulitan yang sedang dihadapi dengan orang terdekat. Hal ini dapat menyebabkan rasa terisolasi yang mendalam dan kesulitan besar untuk membuka diri serta bercerita pada masa mendatang saat benar-benar membutuhkan dukungan.
6. Diharapkan Untuk "Atasi Sendiri Masalahmu Itu"
Meskipun mungkin dimaksudkan oleh orang tua untuk mengajarkan kemandirian, kalimat ini justru menghalangi pencarian dukungan emosional yang sehat dari orang lain. Pria pun jadi merasa tertekan kuat harus selalu menyelesaikan semua persoalan rumit mereka sendirian tanpa pernah boleh meminta bantuan siapapun.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
